part 26. Adik Haneul

480 35 0
                                        

Siang ini, Haneul pulang dari sekolah dengan kakek dan neneknya. Melihat bagaimana Tuan dan Nyonya Choi yang menggandeng tangannya. Haneul lantas berlari menghampiri kedua orang tuanya yang kebetulan sedang menonton film di ruang tengah.
“Daddy, Papa, Haneul pulang!” Haneul memeluk Jihoon dan duduk di pangkuan Seungcheol.

“Apa daddy tidak akan mendapatkan kecupan seperti Haneul mencium Papa?” tanya Seungcheol.

“Tidak sebelum daddy melihat apa yang Haneul dapat dari ibu guru.” Haneul membuka ranselnya dan menunjukkan buku tugasnya.

“Lihat Haneul dapat A+ di pelajaran matematika! Tapi bahasa Inggris Haneul hanya A,” ucap Haneul.

“Apa daddy pernah marah jika nilai putri daddy kecil? Itu sudah bagus sayang, berusaha lebih baik lagi dan kedepannya daddy yakin Putri daddy ini akan mendapatkan apapun yang ia inginkan dengan usahanya. Okay? Jangan bersedih ya, cantik.” Seungcheol mengecup kening Haneul dan dihadiahi senyum manis dari Haneul.

“Umm... Daddy, Papa,” ucap Haneul.

“Ada apa, hm?” tanya Jihoon.

“Haneul ingin menginap di rumah grandpa dan grandma, besok. Boleh kan? Hari ini grandma sudah janji akan menginap di sini, jadi Haneul juga ingin menginap di rumah grandma. Boleh ya?” tanya Haneul.

“Baiklah, Haneul boleh menginap. Sekarang Haneul ganti baju, lalu kita makan siang bersama. Papa dan daddy sudah memasak,” ucap Jihoon.

“Okay Papa!” Haneul berjalan dengan senyumnya menuju ke kamarnya.

“Seungcheol, Jihoonie, kalian tidak merasa kesepian jika hanya Haneul di rumah?” tanya Tuan Choi.

“Maksudnya, ayah?” tanya Seungcheol.

“Haneul tadi melihat seorang anak seusianya yang berjalan bersama kedua orang tuanya dan juga seorang bayi di kereta bayi lalu dia mengatakan ingin memiliki adik, kalian tidak ingin memberikannya adik?” tanya Nyonya Choi.

...

Malamnya saat Seungcheol dan Jihoon sedang menikmati waktu bersama, Seungcheol menanyakan sesuatu yang sedang Jihoon hindari.
“Sayang, kau tidak ingin melakukannya? Aku merindukanmu, sayang.” Seungcheol membenamkan wajahnya di ceruk leher Jihoon. Menghirup aroma tubuh mungil istrinya.

“Daddy, Ada ibu dan ayah di kamar Haneul. Mereka bisa mendengarnya,” ucap Jihoon.

“Biarkan saja, sayang. Kita harus menyelesaikan ini dan kau harus melaksanakan tanggung jawab sebagai istri, manis.” Seungcheol mengecup bibir Jihoon dan sesekali menyesapnya.

Jihoon ingat betul bagaimana malam pertamanya dengan Seungcheol beberapa tahun lalu. Seungcheol menjaganya hingga akhirnya ia yang menjadi pria pertama dan terakhir untuk Jihoon.

Dibawah kukungan sang suami, Jihoon memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut Seungcheol yang mampu membuatnya selalu terbuai. Bagaimana wangi parfum dan wangi maskulin dari keringat Seungcheol mampu membuatnya mabuk.

Seungcheol tidak pernah kasar saat menyentuh Jihoon. Sekalipun ia sudah lama menahan hasratnya, Seungcheol akan selalu memperlakukan Jihoon dengan lembut dan penuh sayang. Setiap sentuhan Seungcheol pada tubuhnya adalah hal candu untuk Jihoon.
“Nghh dadhh,” Jihoon melenguh saat Seungcheol menyesap lehernya dan meninggalkan bekas kemerahan.

“Daddyhhh h-hoonie ahhh... Hoonie ingin nghhh...” Jihoon meremat bahu telanjang Seungcheol, meluapkan rasa aneh yang ada pada dirinya.

“Kau ingin apa, sayang?” Seungcheol bertanya sembari mengurut bagian bawah Jihoon yang sudah mengeluarkan percumnya.

“Ahhh daddyhhh nghh... Gatalhh nghhh...” Jihoon memejamkan matanya, meremat bantal dibawahnya.

“Gatal? Kau ingin aku menghilangkan rasa gatalnya, hm?” Tangan Seungcheol meraba bagian belakang Jihoon yang lembab.

“Kau sangat basah, sayang. Sudah tidak sabar, hm?” Kini, kedua jari tangan Seungcheol masuk ke dalam lubang belakang Jihoon dan membuat Jihoon memekik kecil.

“Lubangmu sangat nakal, sayang.” Seungcheol kembali menambahkan jarinya dan menggerakkannya dengan cepat.

“Ahhh ahh... Daddhh shh ahhh...” Jihoon mendongakkan kepalanya, menikmati permainan tangan Seungcheol pada tubuhnya.

“Nikmat, baby?” Tanya Seungcheol.

“Mmhhh nikmathh nghh...” Jihoon terus melenguh karena lubangnya yang dimanjakan oleh jari-jari tangan Seungcheol.

Beberapa saat kemudian, sebelum Jihoon sempat menyemburkan cairannya, Seungcheol mengeluarkan jarinya dan membuat Jihoon menatapnya kecewa.
“Daddy, lubang Hoonie masih gatal. Masukkan lagi daddy,” ucap Jihoon.

“Sebentar, sayang. Aku tidak ingin kau mengeluarkannya hanya karena tanganku, aku akan membuatmu mengingat malam pertama kita sayang.” Setelah berucap seperti itu, Seungcheol memasukkan miliknya kedalam lubang Jihoon.

“Akhh sakithhh akhh... Daddyhhh nghh...” Jihoon menggelengkan kepalanya, menahan rasa sakit pada lubangnya.

“Tahan sayang, sebentar lagi kau akan menikmatinya.” Seungcheol mendiamkan miliknya, agar lubang Jihoon sedikit terbiasa dengan miliknya.

Mereka sudah tidak pernah melakukannya sejak kelahiran putri pertama mereka. Bisa dibilang, ini kali kedua mereka melakukannya. Bagi mereka, hubungan yang mereka jalani tidak hanya terus menerus tentang sex. Mereka lebih sering menghabiskan waktu dengan anak mereka, daripada membuat malam panas seperti kebanyakan pasangan.

TBC...

Maaf telat update yaa, Cici belakangan ini lagi banyak tugas:)
5 April 2022

My Bunny | JICHEOLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang