Pagi-pagi sekali Yela sampai di sekolahnya. Sekolah tampak masih sangat sepi, hanya terdapat beberapa anak. Yela menyusuri koridor berjalan ke arah kelasnya. Jika kalian tanya David, lelaki itu masih tertidur pulas di kasurnya. Karena memang ini masih sangat pagi.
Sampai di kelas Yela langsung menuju ke bangkunya. Di kelas pun hanya ada Rani -Sang ketua kelas-. Yela duduk dengan memainkan handphonenya, sesekali ia mengobrol dengan Rani.
Hingga beberapa saat, jam menunjukkan pukul 06.30. Biasanya jam-jam segini sudah banyak siswa-siswi yang datang. Tapi dari tadi Yela tak melihat Lita memasuki kelas.
Tak biasanya perempuan itu datang ke sekolah melebihi pukul 06.30, apa Lita gak masuk ya? Tanya Yela dalam hati.
Sampai pelajaran di mulai pun, Lita masih belum datang. Sudah bisa dipastikan bahwa perempuan itu tidak masuk sekolah. Tapi kenapa tidak memberitahu Yela?
Yela berusaha melupakan hal itu, mungkin saja Lita sakit sehingga tidak sempat memberitahunya. Akhirnya Yela mencoba fokus ke guru yang sedang menjelaskan materi hari ini.
***
Dua hari kemudian..
Sudah dua hari Lita tidak masuk sekolah. Yela khawatir pada gadis itu. Ia berniat akan mengunjungi rumahnya setelah pulang sekolah hari ini.
(Skip pulang sekolah)
Saat ini Yela bersiap-siap untuk pergi ke rumah Lita. Ia akan pergi sendirian, karena Yela tidak mau merepotkan David.
Yela langsung memesan taxi lewat aplikasi yang ada di handphonenya. Tanpa berlama-lama Yela langsung menuju ke rumah Lita.
Sampai di depan rumah Lita, Yela langsung mengetuk pintu rumah itu. Sekedar informasi, Lita tinggal sendiri di rumahnya. Karena orang tuanya yang sama bekerja seperti orang tua Yela.
Tok tok tok
Ceklek
Yela tertegun di tempat, ia terkejut dengan apa yang di lihatnya. Saat pintu terbuka, tampak Lita dengan kondisi yang mengenaskan. Keadaan gadis itu seperti tidak baik-baik saja. Wajahnya yang terlihat lelah dengan mata panda yang terlihat jelas.
Dan rambut yang berantakan, seperti tidak pernah di sisir. Yela langsung menghampiri Lita dan memeluknya.
"Lo kenapa Lit?" Tanya Yela kemudian melepaskan pelukannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa lo gak masuk sekolah dua hari ini? Ada masalah sama keluarga lo?" Pertanyaan bertubi-tubi Yela berikan kepada Lita
Lita hanya diam saja, gadis itu seperti tidak punya semangat untuk hidup. Segera Yela membawa Lita ke sofa di ruang tamu. Yela menenangkan Lita terlebih dahulu.
"Lita.. cerita sama gue, ada apa?" Tanya Yela lembut
Tiba-tiba saja Lita menangis, air mata membasahi pipinya. Yela yang melihat itu terkejut kemudian berusaha menenangkan Lita.
"Udah gak papa Lit, ada gue di sini. Lo bisa cerita, apa yang terjadi? Mungkin gue bisa kasih solusi." Ucap Yela
"Yel.. ma-maafin gue" ucap Lita sesegukkan
Yela mengernyitkan dahinya, kenapa tiba-tiba Lita minta maaf?
"Maaf? Maaf untuk apa Lit? Jangan bikin gue bingung"
"Gu-gue takut, Yel" Lita semakin menangis.
"Gak usah takut, ada gue. Emangnya ada apa?"
"Gu-gue..
Hamil"
Deg
Yela terkejut bukan main. Ia mematung di tempat. Lita yang melihat reaksi Yela pun semakin menangis sejadi-jadinya.
"Gimana yel? Gue takut, gue takut orang tua gue marah. Yel, lo jangan diem gitu dong" ucap Lita sembari menggoyangkan badan Yela.
"Siapa?" Hanya itu yang bisa Yela ucapkan.
Lita langsung terdiam, ia tak bisa menjawabnya. "Jawab Lit, siapa? Siapa yang ngelakuin itu ke Lo?" Ucap Yela
Lita masih tetap tidak menjawab,
"Jawab Lita!" Yela sedikit meninggikan suaranya.
Lita menundukkan kepalanya dalam. Ia takut untuk menjawab pertanyaan Yela.
"De.. Devano" ucap Lita
Deg
Yela tertegun, apa ia tidak salah dengar? Apa pacarnya berbuat seperti itu? Yela mematung di tempatnya. Perlahan air mata mulai keluar di sudut matanya.
"Yel, maafin gue. Gue gak ber-"
"Gak bermaksud ngelakuin itu?!" Ucap Yela dengan air mata yang turun dengan derasnya.
"Gue gak nyangka, ternyata kalian main di belakang gue. Lo udah gue anggap saudara gue sendiri Lit. Dan ini balasan lo?" Lanjut Yela
"Yel gue bisa jelasin, Devano yang buat gue kayak gini" ucap Lita dengan memegang tangan Yela
Yela menyentak tangan Lita dengan kasar. "Udah cukup! gue gak percaya lagi sama kata-kata lo!"
Setelah mengucapkan itu Yela pergi dari rumah Lita, meninggalkan Lita sendirian dengan perasaan yang menyesal. Mungkin kata 'menyesal' sudah tidak ada gunanya.
***
Yela berjalan sendirian di trotoar jalan dengan kondisi yang memprihatinkan. Matanya yang bengkak karena menangis sedari tadi.
Tega sekali sahabatnya melakukan itu dengan kekasihnya. Hati perempuan mana yang tidak sakit? Mereka berdua sama-sama brengsek! Mungkin mulai hari ini hubungannya dengan Devano berakhir dan juga dengan Lita.
Katakan saja bahwa Yela kekanakan-kanakan. Tapi ia sudah benar-benar kecewa.
Yela memutuskan untuk pergi ke bar untuk menghilangkan rasa sedihnya. Di bar Yela minum hingga dirinya mabuk. Mungkin ini satu-satunnya cara melupakan masalahnya. Tapi hanya sementara.
Yela tak sadar, bahwa ada seseorang yang sedang mengkhawatirkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE SIBLING
Romance"Kak, seharusnya kita gak boleh ngelakuin ini. Kalau lo lupa kita ini saudara. Kita sedarah kak, dan semesta gak akan ngerestuin hubungan kita" Jelas Yela "Persetan dengan itu semua Yel. Gue cinta sama lo, dan gak akan ada yang bisa cegah gue!" ucap...
