"Argh!"
Jaemin kembali mengerang frustasi entah sudah yang keberapa kalinya. Mark pergi sejak matahari masih bersinar terik di atas kepala mereka dan kini bulan telah menggantikan tugasnya sejak beberapa jam yang lalu, namun Mark masih belum kembali juga.
Sudah tengah malam dan Mark hilang tanpa jejak. Jeno sudah dipaksa Jaemin untuk mencari kakaknya berkali-kali, namun nihil hasilnya. Bahkan sampai Jeno pulang dari berjalan jauh ke segala arah ia juga masih belum menemukan sang kakak. Jeno pun sebenarnya sama panik dan bingungnya dengan Jaemin walau tidak terlalu ia tampakkan.
Dan kali ini, ia menggumam bingung di dapur saat mendengar isak tangis Jaemin yang kembali terdengar. Sosok itu sendiri sedang duduk di sofa dan memutar tayangan televisi dengan suara yang besar, berharap dapat menyamarkan suara isakan tertahannya. Ini sudah yang ketiga kalinya Jaemin mengeluarkan air matanya disertai isakan tertahan yang cukup keras.
Tak dipungkiri bahwa Jeno menjadi ikut bersimpati melihatnya. Sungguh menyedihkan.
Mark.
Kakaknya itu pergi hanya dengan alasan mencari angin dan tidak kunjung kembali hingga detik ini. Apakah Mark tersesat? Tapi Jeno sudah berjalan terlalu jauh dan tidak menemukan Mark sama sekali dimana pun. Apa Mark mati tertikam hewan buas? Tidak. Harusnya hewan itu yang mati saat diterkam oleh Mark karena kakaknya itu adalah pemuda sehat yang tangguh, gagah berani, dan menyeramkan. Atau jangan-jangan ia berniat melarikan diri dan meninggalkan Jaemin disini bersamanya? Tidak mungkin. Semua barang Mark masih tertata rapi di kamar Jaemin. Ia bahkan tidak membawa ponselnya. Kunci mobil masih tergeletak rapi di samping televisi.
Lalu Mark pergi kemana sebenarnya?
Dirasa isakan Jaemin semakin keras, Jeno segera menuangkan air di gelas yang ia pegang sedari tadi dan mendekat ke arah kekasih dari kakaknya itu. Hasrat awalnya yang juga hendak minum tadi mendadak terlupakan.
"Jaemin," panggil Jeno yang sudah jelas tidak akan digubris. Yang dipanggil hanya menghentikan isakannya paksa saat suara Jeno menyapanya, menyebabkan dadanya sedikit sesak karena memaksa tangisnya untuk berhenti.
Jeno menaruh gelas berisi air yang ia bawa tadi di meja kecil depan Jaemin lalu mendudukkan dirinya sendiri di samping Jaemin.
"Jaemin, minum dulu."
Jaemin menggeleng pelan dan mengusap air matanya. Menetralkan nafasnya, ia kembali fokus pada televisi yang sedang menayangkan acara itu. Ia sedang bertindak seolah tidak ada apa-apa.
"Minum dulu," ulang Jeno lagi sekali.
Jaemin pun menggeleng lagi, membuat Jeno menatap lekat lekuk wajah pria yang akhir-akhir ini sering ia temui di rumahnya. Entah itu di teras rumahnya, di kamar sang kakak, di dapur, atau di depan televisi. Wajah yang biasanya memancarkan berbagai eskpresi serta menampilkan senyum paling manis yang pernah ia lihat walau bukan untuknya, kini agak memerah dengan mata yang sedang mengucurkan airnya tanpa henti walau telah diseka berkali-kali.
Untuk pertama kalinya di depan orang selain Mark, Jeno menghela nafas kasar. Ia beranjak dari duduknya dan menatap Jaemin, "Gue keluar nyari abang. Lo minum itu, habisin airnya supaya ngga terlalu sesak."
Jaemin seolah tuli. Ia tidak menatap Jeno yang meraih hoodie-nya di gantungan dan keluar dari pondok. Ia juga tidak peduli apakah Jeno keluar membawa senter atau tidak. Dan saat mendengar suara pintu tertutup, tangis Jaemin pecah saat itu juga. Tangisan pilu disertai raungan kencang menggema di sekitarnya. Jaemin sedih, marah, kecewa, dan takut. Ia sedih dan marah serta kecewa karena Mark meninggalkan pada hari dimana mereka baru saja sampai. Tapi di satu sisi ia takut kalau sesuatu terjadi pada Mark. Kekasihnya itu tidak biasanya seperti ini. Dia adalah anak baik-baik dan tidak pernah melakukan hal melenceng. Pergi dengan alasan klasik dalam waktu yang lama bukanlah gaya Mark.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cottage (Nomin)
FanfictionBerpacaran selama setengah tahun dengan Mark, Jaemin hanya tidak menyangka bahwa Mark akan tega membuangnya ke sebuah pondok di tengah hutan bersama Jeno yang merupakan adik kandungnya. ⚠️: mengandung kata-kata kasar, adegan yang tidak diperuntukkan...
