X. Jadi Dia Orangnya??

62 10 0
                                        

Rian's Side

Aroma shampo yang khas masuk ke dalam indra penciumanku. Dengan lembut aku mengelus rambut orang yang sangat aku cintai ini. Dia selalu terlihat sangat kuat dari luar, tapi aku tau jika banyak sekali kerapuhan dalam dirinya.

"Dil.. gue bener-bener sayang sama lo. Jangan pernah pergi dari sisi gue yaa.." ucapku lirih. Adillah mengangguk pelan.

'Maaf Dil.. gue punya banyak rahasia yang gak bisa gue ceritain ke lo. Gue gak mau lo kenapa-napa. Gue bakalan kasih tau semua rahasia gue ke lo, saat waktunya sudah tepat. Maaf Dil.' Aku berusaha membendung air mata yang ingin menyeruak keluar dari kelopak mataku.

Beberapa menit kami terdiam dalam posisi yang sama. Sampai Adillah mendorong tubuhku pelan dan membuat jarak antara kami berdua. Aku melihatnya tersenyum, sungguh senyuman yang sangat aku suka.

"Dil.. jangan deket banget sama Gerry ya? Gue gak suka."

"Iyaa.. sayang. Lagian kami juga cuma temen aja kok. Gak usah terlalu khawatir, oke?"

Aku mengangguk mendengarnya, walaupun dia sudah mengatakan hal itu, aku tetap merasa curiga. Aku masih terbayang bagaimana cara mereka saling menatap tadi pagi. Dan itu membuatku sangat emosi.

------

Aku pulang sebelum matahari tenggelam sepenuhnya. Kubuka pintu rumah dan melihat isi rumah yang lumayan besar ini. Sekali lagi kulihat rumah yang sepi, seperti tanpa penghuni. Jika terus masuk ke dalam, terlihat sebuah tas, beberapa map dan buku berserakan di lantai.

Seorang wanita paruh baya tertidur pulas di atas sofa. Sebuah botol minuman keras ada dalam genggaman tangan kanannya. Wajah wanita itu memerah dan rambutnya acak-acakan seperti singa baru bangun tidur. Dia mengenakan kemeja putih dengan tangan yang sudah digulung sampai siku. Rok span selutut dan highheels yang masih menempel di kakinya.

Aku tidak berniat membangunkan wanita pemabuk yang tidak lain adalah ibuku itu. Dengan santai aku terus berjalan masuk menuju kamarku.

"Rian.. dari mana aja? Mama udah nunggu dari tadi." Ucap ibuku dengan suara serak. Aku berhenti dan melihat ke arahnya. Wanita itu masih dalam posisi sebelumnya, tertidur di sofa. Tetapi kedua matanya memandang ke arahku.

"Dari rumah Didil."

"Kamu udah berhari-hari gak pulang, sekali pulang kok malah langsung ke rumah Didil?"

"Bukan urusan mama." Aku berbalik dan masuk ke dalam kamar.

Sudah hampir 1 bulan ibuku selalu seperti itu. Mabuk, baik siang atau malam. Ayah juga tidak pernah pulang, selalu ada alasan. Dinas, rapat, meeting.. atau apa lagi aku juga tidak tau. Rumah ini jadi sangat menjengkelkan bagiku.

Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur dengan kasar. Aku melepas dasi dan kemeja yang kukenakan. Mengekspos tubuh bagian atasku, lalu aku beranjak masuk ke dalam kamar mandi.

Selesai mandi, aku langsung mengecek handphone yang berada di dalam tasku. Ada dua sms yang masuk di sana.

From : Didil
Rian? Rian? Rian?
Udah sampe di rumah?

Aku tersenyum membaca pesan itu. Aku jadi penasaran, bagaimana ekspresi yang dikeluarkan Adillah saat mengetik sms itu.

To : Didil
Gue udah sampe di rumah dari tadi
Sweetheart.. apa kabar sekarang?

From : Didil
Yah.. lama banget sih balesnya!! Gue baik kok.

Aku membuka sms yang satunya. Kali ini dari Deksa. Entah kenapa tubuhku menegang, aku ragu saat membuka sms ini. Tapi dengan terpaksa aku membuka pesan itu. Mataku terbelalak membacanya. Aku langsung menarik baju asal di lemari dan membawa kunci motorku. Dengan tergesa-gesa aku berlari menuju garasi dan meng-gas motorku keluar rumah.

Traitor in My LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang