Oke, setelah beberapa chapter asik bikin cerita pake sudut pandang author, sekarang pake sudut pandang yang lain lagi deh. Semoga readers nggak bingung ya..
-----
Irina's Side
Aku melirik Adillah yang sudah mulai tertidur lagi di ranjangnya. Jujur, sudah beberapa hari ini aku tidak bisa tidur nyenyak. Alasannya? Ugh..karena aku berbicara aneh kepada orang yang, entah kenapa membuatku berdebar. Aku mematikan lampu dan kembali menarik selimut.
Aku masih ingat betul, saat dia pertama kali datang ke sini. Bersama dengan dua teman sekamarku. Meskipun salah satunya aku abaikan. Biasanya orang akan langsung terpikat dengan mata biru milikku. Begitu juga yang kulihat pada ekspresi Adillah dan Liani. Tapi, orang itu malah lebih tertarik dengan koridor asrama. Sangat menyebalkan.
Bahkan saat hari pertama, aku memang sangat suka dengan laki-laki macho. Maksudku laki-laki berotot. Dan saat jam selesai Jacob memperkenalkan diri pada Adillah. Sungguh aku iri pada orang asia di sampingku. Dia sangat cantik dengan wajah orientalnya itu. Tapi juga sangat kasar ternyata. Terbukti saat dia beradu argumen dengan Liani.
Aku memang tidak tau apa masalah mereka, sampai sekarang Adillah tidak pernah menceritakan padaku. Tapi dari cara mereka berbicara saat itu, jelas Liani melakukan hal yang sangat Adillah benci. Aku saja yang melihat ekspresinya jadi kesal sendiri.
Saat Adillah tiba-tiba menjegal dan memelintir tangan gadis mungil itu aku kaget. Ingin aku biarkan, tapi kasian dengan Liani. Jadi aku meredakan amarah Adillah. Itu pilihan yang bagus dari pada aku menolong Liani dan Adillah masih emosi. Kuputuskan untuk menjauhi Liani agar tidak terlibat hal-hal aneh-firasatku.
Jika sedang ngobrol dengan Adillah, aku akan berusaha menyelipkan beberapa pertanyaan tentang -you know who- sebisa mungkin menahan debaran dan rasa penasaran yang membludak.
Aku sudah tau beberapa tentangnya, seperti dia yang tadinya sangat cupu dengan kacamata nerd. Lalu dia punya pekerjaan sampingan dijalanan. Dan pekerjaan sampingan itu ternyata sangat keren! Dia vocalis dalam band! Ugh.. dia juga pintar main gitar. Penasaran bagaimana ekspresinya saat bermain gitar dan menyanyi. Akankah suatu saat dia bernyanyi hanya untukku?
Saat aku sibuk dengan lamunanku, Adillah beranjak keluar dari kamar. Dia berjalan sangat pelan, tapi tetap saja aku bisa menyadarinya. Ternyata bukan cuma aku dan Adillah yang terbangun. Liani juga! Dan dia langsung menuju meja riasnya sesaat setelah Adillah keluar.
Penasaran aku tetap melihat gadis itu. Dia terlihat sangat panik. Beberapa kali dia melirikku kesal lalu mencari lagi. Kenapa tidak menghidupkan lampu jika ingin mencari sesuatu? Aku masih pura-pura tidur. Mengamati tingkahnya yang aneh itu.
Setelah beberapa menit mencari, Liani terlihat menyerah. Aku bisa melihat wajah paniknya dalam ruangan remang ini. Lalu dia berdiri dan menuju ranjangku. Aku langsung memejamkan mata, pura-pura tidur.
"Ini pasti ulahmu, bukan? Kau sudah membuatku marah sejak hari pertama. Kau lebih membela gadis bodoh itu dari pada aku. Padahal aku kira kita bisa berteman baik saat kau mengabaikan uluran tangan gadis itu. Aku sudah sangat senang! Dan kau juga membuatku malu di depan pangeranku. Kau berkata dia milikmu? Huh? Mimpi!
Aku yakin benda itu ada padamu. Aku akan menemukannya segera! Dan lebih baik sekarang aku memberimu pelajaran."
Aku terbelalak kaget, bukan karena kata-kata terakhirnya. Tapi dia menggenggam sebuah botol kaca, entah botol apa itu. Yang jelas botol itu berwana biru dan sudah tidak berisi. Dia melayangkan botol itu hendak memukul kepalaku. Dengan cepat aku mengelak.
Saat sedang berusaha bangkit dari ranjang, selimutku malah membuatku kembali terjembab ke kasur. Aku melihat Liani menariknya. Lalu dia mulai melayangkan botol itu lagi ke arahku. Aku kembali mengelak. Dan botol itu mendarat tepat di samping telingaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Traitor in My Life
Teen FictionAdillah, Rian dan Deksa adalah 3 sahabat yang sangat dekat. Banyak peristiwa yang mereka lalui bersama. Banyak hambatan dan halangan dalam persahabatan mereka, bahkan sampai masalah cinta. Ada juga Gerry, orang yang masuk dalam kehidupan persahabat...
