"Porsi terbesar mencintai itu kamu, vanilla ku" -Lareska
Kisah Lareska yang bertempur dengan perasaannya sendiri, hingga ia menyesali segala keputusannya. Lareska benci perpisahan, ia benci pertemuan, ia benci kenangan.
Hingga kehidupan Lareska tan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Let's dating with me."
Deg
Atmosfer caffe itu menjadi berbeda, aura panas dan canggung menyelimuti keempatnya.
"Se.."
"Why? Kita coba bareng bareng ya, Dan?"
"Gue sayang sama lo."
Itu Lareska, membuat ketiga insan di dekat diri Lareska itu kini menatapnya. Yasella yang mendelik mengarahkan netranya kepada Ona, "Gila lo."
"Gue serius, gue sayang sama lo, Yasella."
Ona menghela nafasnya berat, terpaksa terus mengukir senyum di bibirnya.
"Gue punya alesan kenapa gue ngomong ini di depan lo semua, termasuk kamu, Na."
Ah, suasana makin rumit. Yasella sangat ingin teriak saat ini juga, memarahi siapapun yang ada di dekatnya.
"Gue tanya, gila lo?"
Semua netra kini tertuju pada Lareska yang sedang mengetuk ngetuk jarinya di meja. Laki laki itu menghelakan nafasnya dan beralih menatap Yasella.
"Gua gak gila, semua yang Jidan omongin ke gua itu bener. Gua mikirin ini udah bener bener mateng, gua sayang sama lo."
Ona menatap Jidan, yang sang empunya langsung mengelus pundak Ona sekilas. Gadis berambut panjang itu kini membuka suara, "I know this situation, for the first. Thankyou, makasih Ares akhirnya kamu tau apa yang hati kamu pilih. Dan aku yakin pilihan kamu tepat."
Yasella menatap Ona dan Lareska semakin tidak percaya, batinnya sejak tadi sudah mendumel apa saja. Bahkan Yasella berpikir ia tengah shooting film ftv, kisah cinta yang aneh.
"Na, aku sayang sama kamu. Sayaaaang banget.. Tapi ternyata aku belum tau waktu itu kalau aku harus nempatin kamu dimana, dan yap karena kamu yang ngajak aku pacaran dan aku sayang sama kamu. Yea i think it's gonna be ok, tapi aku salah. Maafin aku Na."
Senyum kekasih Lareska itu tidak pudar, tapi kini senyumnya berbeda. "Iya, aku tau. Dan aku tau juga karena Jidan, dia yang bikin semua ini jelas. Aku ngerti, aku bakal tetep jadi sahabat kamu kan Res?"
Lareska menggenggam erat tangan Ona, menganggukkan kepalanya mantap "Pasti, itu udah pasti."
"Nanti aku bilang mamah soal pertunangan-
"Pertunangan?" kali ini Yasella, terkejut dan tak sadar memotong kalimat Ona.
"Iya, kita bahkan-
Lareska kini yang memotong kalimat Ona, "Ah, nanti aku urus sama bunda. Sekalian bawa Yase kerumah."
Ona menarik ujung bibirnya, pasrah dengan segala keputusan Aresnya itu. Ah, bukan. Kini bukan lagi, kini Aresnya milik Yasella.
"Gua belum jawab apa apa." Yasella menyenderkan punggungnya pada kursi caffe, menatap kearah jus alpukatnya dengan tatapan kosong.