Rok bawahan berwarna putih dan blouse warna milo yang dipadu padankan dengan jilbab pashmina warna senada sudah terpasang rapi ditubuh Ayana yang menandakan bahwa dirinya siap untuk meninggalkan kediamannya. Sesaat setelah dirasa semuanya siap, ia pun mulai menginjakkan kakinya di luar rumah dan bergegas menuju tempat dimana dirinya berjanjian dengan seseorang.
"Udah lama, ya?" tanya seseorang yang baru saja datang.
Beberapa saat menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu itu pun telah mendudukkan dirinya di depan Ayana.
"Lumayan," jawab singkatnya.
"Maaf ya, tadi sedikit telat selesainya," tutur orang itu.
"Nggak apa-apa, tapi sekarang udah selesai?" tanya Ayana balik.
"Udah, baru aja selesai."
Setelah mendapat jawaban dari lawan bicaranya, Ayana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda bahwa dirinya mengerti. Mata Ayana yang beberapa saat lalu menatap lawan bicaranya itu, kini atensinya terfokus pada kalung rosario yang masih tergantung dengan gagahnya di leher lelaki itu.
"Tumben masih dipakai?" tanyanya setelah beberapa saat ia pandangi.
Sosok di depannya yang tidak paham itu segera mengikuti kemana arah pandang dari gadis berjilbab pashmina di depannya. Menyadari akan hal itu, lelaki yang dikenal dengan nama Noel itu pun bergegas untuk melepas kalung itu dari lehernya.
"Ah, maaf. Tadi buru-buru jadi lupa dilepas," ucapnya dengan memasukkan kalung itu pada saku celananya.
"Nggak apa-apa kali, nggak usah dilepas juga."
"Dilepas aja, nggak enak sama kamu."
Akhirnya obrolan pun hanya terhenti sampai situ, karena kedatangan pelayan yang mengantarkan pesanan keduanya dan mereka pun memutuskan untuk menyantap terlebih dahulu makanan mereka masing-masing.
Namun, di tengah-tengah acara makan mereka, terdengar suara dering ponsel yang memecah keheningan diantara sepasang lawan jenis itu. Aya yang menyadari hal itu pun langsung mengangkat panggilan masuk pada ponselnya setelah dipersilakan oleh lelaki di depannya.
"Iya, selamat siang. Dengan siapa, ya?" saut Aya setelah mendapat sapaan dari dalam telepon.
"Tidak apa-apa. Ada bisa saya bantu?"
"Ah iya, kemarin saya sempat bertemu beliau dan beliau juga sudah mengatakan hal itu, tapi apa nggak sebaiknya dilakukan berdua saja?"
"Boleh, rencananya mau kapan?"
"Mau datang ke kliniknya aja nggak mau di rumah sakit?"
"Sudah buat janji?"
"Aduh, saya kurang tau. Dokter Marsel kalau hari libur gini biasanya susah dihubungi."
"Iya, nggak apa-apa. Selamat siang," tutupnya dengan meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas jinjing yang tergeletak di kursi tempat ia mendudukkan badannya.
"Tanggal merah gini masih tetap kerjaan aja, ya," tutur Noel setelah melihat gadis itu selesai mengangkat telepon.
"Mau gimana lagi, masa iya giliran ada pasien yang telepon dimatiin. Kalau daruratkan bahaya," balas Ayana dengan meraih kembali alat makannya.
Cukup lama keduanya menghabiskan waktu di dalam resto yang tentunya makanan hari ini Ayana yang membayarnya sesuai ucapanya hari kemarin. Kini, keduanya telah meninggalkan tempat itu dan mulai melangkahkan kakinya kemana mobil Noel terparkir.
"Nonton dulu mau nggak?" tanya Noel saat mereka sudah terduduk di dalam mobil.
"Boleh."
"Okey."
YOU ARE READING
We Don't Know
Teen FictionPerihal apa yang akan terjadi ke depannya, kita tidak tahu. Cukup ikuti saja alurnya, dan serahkan semuanya pada Yang Kuasa.
