Chapter 20

2 0 0
                                        

"Enak?" tanya orang di depannya sesaat setelah ia menegak minumannya.

"Lumayanlah walau nggak seenak Belgian chocolate," jawabnya.

"Udah jelas kalau itu nggak perlu diragukan lagi."

"Lagian aneh banget, best seller nya itu kopi kenapa malah pesan coklat, sih?!" heran lelaki itu.

"Gue nggak bisa minum kopi, El."

"Aneh emang, nggak bisa minum kopi, tapi diajak minum kopi mau. Giliran udah di tempatnya malah mesen coklat."

Ayana hanya memamerkan deretan gigi bersihnya menanggapi penuturan sosok lelaki di hadapannya.

"Padahal kopi enak loh, Ay," ucapnya.

"Coklat juga enak," balas Ayana tidak mau kalah.

"Tau, tapi enaknya itu beda. Lo beneran nggak mau nyoba?"

"Nggak."

"Lo kenapa nggak bisa minum kopi? Gerd?" tanya Noel.

"Gue nggak ada masalah lambung. Cuma emang faktor genetik aja yang emang nggak bisa minum kopi," jawabnya.

"Terus yang dirasain apa kalau habis minun kopi?"

"Yang gue rasain selama ini ya paling cuma gelisah aja, sih. Nggak ada yang sampai gimana-gimana," balasnya.

"Berarti lo sering maksain minum kopi juga?" tanya lelaki itu lagi.

"Nggaklah. Gue minum kalau emang lagi kurang tidur aja, itu pun minumnya dikit."

"Sebenarnya pengen juga kaya yang lain bisa minum kopi dengan bebas tanpa harus ngerasain gelisah gitu, tapi ya mau gimana lagikan emang udah keturunan," sambungnya

"Coba di campur sama coklat aja minumnya, tapi ya kopinya tetap dikit jangan banyak-banyak. Siapa tau dengan gitu bisa bikin lo minum kopi dengan nyaman," kata Noel.

"Jadinya sama aja minum coklatlah, 'kan banyak coklatnya."

"Seenggaknya lo bisa ngerasain kopi dengan aman walaupun cuma sedikit."

"Percuma, mendingan nggak usah aja sekalian dari pada nanggung."

Ucapan demi ucapan mereka lontarkan dari mulut keduanya, hingga tak terasa waktu sudah pun sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB.

"Mau pulang sekarang?"

"Boleh, udah sore juga," saut Ayana.

"Ya udah, yuk!"

Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran, keduanya pun bergegas memasuki mobil dari lelaki bernama lengkap Noel Zionathan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya sampai di rumah gadis itu mengingat jarak rumah dan coffeshop yang tidak terlalu jauh dan jalanan yang cukup lengang.

"Assalamualaikum," ucap Ayana setelah sampai di depan rumah.

"Waalaikumussalam."

"Zam, ngapain? Tumben ke rumah nggak bilang dulu," ujarnya.

"Iya, ada yang mau diobrolin terus sekalian lewat, jadinya mampir," sautnya.

"Ibu jam segini belum balik, Ay?" tanyanya.

"Udah, kok. Dari tadi belum dibukain pintu, ya?" Berbarengan dengan itu, terdengar suara kunci di buka dari dalam dan memunculkan sosok paruh baya dengan mukena yang masih melekat lengkap pada tubuhnya.

"Loh, Aya juga udah pulang. Maaf ya Nak Al, Ibu lagi sholat jadi baru bisa bukain pintunya," ujar Emma yang masih terbalut mukena putih.

"Nggak apa-apa, Bu. Sekalian nunggu Aya juga," jawabnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 23, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

We Don't KnowWhere stories live. Discover now