Hari yang ditunggu-tunggu setelah beberapa saat pun tiba. Hari ini Emma sudah kembali berada di rumahnya setelah beberapa hari menginap di rumah sakit. Aya yang sudah tidak ada pekerjaan pun kini sudah berada di rumah bersama ibundanya.
"Ibu nggak usah kerja lagi, ya. Aya nggak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi," ujar Aya.
"Terus Ibu ngapain kalau nggak boleh kerja?"
"Santai aja di rumah," balas Ayana.
"Bosen di rumah terus, Teh. Ibu butuh kesibukan biar nggak bosen," tutur Emma.
"Ibu bisa main ke rumah tetangga kalau Ibu bosen, atau nonton acara tv kesukaan Ibu."
"Tetap aja bosen kalau di rumah terus," gerutunya.
"Ini juga demi kebaikan Ibu, Aya nggak mau Ibu sakit kaya kemarin lagi," lirihnya.
"Ibu udah sehat, nggak akan sakit lagi seperti kemarin," ujar Emma meyakinkan.
"Ya udah, tapi untuk beberapa hari ini libur dulu, ya. Biar pulih dulu,' tutur Ayana yang akhirnya disetujui oleh ibundanya.
"Kalau ada yang dirasain langsung bilang Aya!" perintah gadis itu.
"Iya, Teh. Udah berapa kali aja kamu bilang gitu."
"Biar Ibu ingat, lagian nggak pernah bilang apa-apa sama Aya. Percuma Aya jadi dokter kalau penyakit Ibu sendiri aja Aya nggak tau," sinis putri pertamanya.
"Maaf ya Ibu nggak pernah bilang ke kamu, Ibu pikir itu cuma sesak napas biasa aja karena kecapekan. Ibu nggak mau kamu jadi kerpikiran."
***
Setelah kepulangannya beberapa hari lalu, kondisi Emma pun semakin membaik yang akhirnya membuat Ayana kembali mengizinkan sang ibunda untuk kembali membuka warungnya yang sudah beberapa lama tutup.
"Ibu, jangan angkat berat-berat, satu-satu aja bawanya!" ujar Ayana dengan mengambil alih piring kotor dari tangan ibundanya.
"Kelamaan kalau harus bolak-balik, mendingan langsung biar sekali jalan," jawab Emma.
"Tapi ini berat, Ibu. Kalau Ibu ngeyel gitu besok nggak usah buka ajalah warungnya. Aya kan nggak bisa bantuin terus," gertaknya.
"Ya jangan, dong. Pelanggan-pelanggan Ibu udah pada kangen sama masakan Ibu, masa mau tutup lagi."
"Makanya jangan angkat yang berat-berat! Kondisi Ibu tuh belum pulih seutuhnya."
"Nggak usah berlebihan, deh. Ibu udah sehat, sehat banget malah," ucap Emma.
"Terserah Ibu ajalah."
Akhirnya Aya melanjutkan kegiatannya mencuci piring kotornya yang sudah menumpuk dengan sedikit perdebatan dengan Ibu nya.
"Kok warung udah buka, Ibu udah enakkan?" tanya salah satu pelanggan warungnya yang baru saja datang.
"Udah, udah enakkan banget malah," jawab Emma.
"Kamu mau makan?" tanya Emma.
"Iya, seperti biasa ya," jawab seseorang itu yang langsung disiapkan oleh wanita paruh baya itu.
"Aya nggak di sini, Bu?"
"Apa nyari gue? Kangen?" saut Aya dengan mengeringkan tangannya.
"Kalau gue jawab iya emangnya percaya?" balasnya dengan terkekeh.
YOU ARE READING
We Don't Know
Teen FictionPerihal apa yang akan terjadi ke depannya, kita tidak tahu. Cukup ikuti saja alurnya, dan serahkan semuanya pada Yang Kuasa.
