"Kenapa, sih? Lagi ada masalah?" tanya seseorang yang sudah sejak beberapa saat lalu duduk di hadapannya.
Bukannya menyaut, Ayana hanya memutar matanya malas menanggapi pertanyaan itu.
"Lo ngapain?" tanya Aya kepada seseorang yang berada di hadapannya serelah beberapa saat mengunci mulutnya.
"Ha?"
"Lo ngapain di sini?" ulang Ayana.
"Nggak ada, sih. Gabut aja," sautnya enteng.
"Lo dibayar buat kerja, bukan buat gabut, Selina!!"
"Kerjakan kalau jam kerja, kan sekarang udah jam pulang."
"Terus kenapa nggak pulang?" ketus Ayana.
"Terserah gue lah," balas Selina tak kalah ketus
"Lo udah baca chat dari Eca?" tanya Selina.
"Udah," singkat Ayana.
"Bisa?"
"Gue nyusul, mau nemenin pasien ketemu psikiater dulu," sautnya.
"Lah, kenapa ditemanin?" heran gadis dengan hijab paris berwarna hitam itu.
"Takut katanya."
***
Pasien demi pasien telah ia tangani minggu ini. Mulai dari pasien dengan gejala ringan sampai gejala yang cukup berat sudah berhasil ia tangani.
"Ayaaa akhirnya lo datang juga!!" seru gadis yang terbalut dress ciffon berwarna putih dengan panjang selutut.
"Sorry ya, gue nggak bantu-bantu kalian," kata Ayana kepada kedua sahabatnya.
"It's okay, lagian ada mereka," ujar Zeca dengan melirik tiga lelaki yang terduduk tidak jauh dari mereka.
"Untung Eca bawa pasukan, jadi kita nggak perlu ribet-ribet bangun tenda sendiri," saut Selina yang masih sibuk dengan ponselnya.
Yaps, mereka tengah melakukan camping bersama di tepi pantai untuk merayakan anniversarry mereka yang sebenarnya sudah sangat terlambat. Kesibukan merekalah yang membuat perayaan ini terlambat, tetapi itu tidak membuat ketiga sahabat itu melewatkannya begitu saja tanpa perayaan.
"Gue kira cuma bertiga," ucap Ayana dengan menaruh tas bawaannya ke dalam tenda.
"Biasalah, Ya. Kalau udah bucin ya gitu jadinya," sinis Selina.
"Iri bilang, Sel!! Lagian ada untungnya juga mereka ikut, jadi kita nggak perlu capek-capekkan," balas Eca membela diri.
"Susah sih kalau udah bucin."
Ayana hanya terkekeh menanggapi perdebatan antara kedua sahabatnya. Karena hari yang sudah semakin siang, mereka memutuskan untuk pergi menuju resto dekat situ untuk mengisi perutnya.
Sesampainya di sana, keenam orang itu mendudukan dirinya dalam satu meja yang sama. Sembari menunggu makanan datang, mereka pun menghabiskan waktu dengan mengobrol ringan yang tak tentu arah.
"Oh iya, Ay. Gimana pasien lo tadi?" tanya Eca di sela-sela obrolan mereka.
"Aman, udah ditangani ahlinya," saut Aya santai.
"Baguslah, kalau boleh tau dia kenapa emang?" tanya Eca yang disimak oleh teman-temannya.
"Kecemasan, kemarin sempat ke gue tapi belum ada perubahan. Terus gue rujuk, tapi dia nggak mau sendirian," jelas gadis itu.
YOU ARE READING
We Don't Know
Teen FictionPerihal apa yang akan terjadi ke depannya, kita tidak tahu. Cukup ikuti saja alurnya, dan serahkan semuanya pada Yang Kuasa.
