Taehyung berjalan, menyusuri gelap nya malam dengan kesunyian. Tidak ada lagi suara Jimin yang kini dia dengar, tidak, ini tidak bisa membuat nya tenang.
Mobil nya berhenti, nafas nya memburu dan terus terbayang wajah laki laki yang telah menjadi partner kerjanya belasan tahun. Taehyung tidak bisa pergi tanpa Jimin, jikapun laki laki itu tiada, Taehyung tetap ingin membawa jasad nya untuk kembali bersama.
Memutar kembali laju mobil itu, berjalan tepat menuju lokasi dimana Jimin meregang nyawa di hadapan mata Taehyung. Kembali menginjak pedal gas nya tanpa ragu, berharap Jimin tidak kedinginan di malam hari seorang diri.
Sorot lampu mobil mewah yang Taehyung kendarai menyinari jalanan malam kota mexie, jarak pandang nya kini mulai Taehyung capai, namun keanehan terjadi pada tempat yang tadi sempat menjadi saksi nyawa sahabat nya di renggut.
Sepi? Kosong! Tidak ada apapun lagi yang tersisa. Menunggu beberapa menit dan tidak ada apapun yang terjadi. Mobil laki laki itu, mungkin sudah meninggalkan tempat ini dengan meninggalkan jejak ban mobil yang tertinggal.
Namun ada yang janggal, kemana Jimin pergi? Apa laki laki itu yang membawa Jimin untuk di urus oleh pihak berwajib? Apakah laki laki itu membawa jasad sahabatnya untuk mereka kuburkan? Atau justru Jimin di buang begitu saja setelah kejadian ini?
Isi pikiran Taehyung tak menentu, berkecamuk kebingungan mencari jawaban yang hingga saat ini tidak Taehyung temukan. Meraih ponselnya, Taehyung menerangi kegelapan malam tempat Jimin terkapar. Dimana darah nya?
Malam yang gelap itu membuat Taehyung kian kesusahan, dia menyoroti tiap sudut jalanan malam tempat kejadian yang merenggut nyawa sahabat nya. Hampir putus asa, Taehyung jatuh berlutut dengan tangan meremat rambut yang ada di atas kepalanya.
"Sial, aku bahkan tidak bisa membawa jasad mu kembali Jimin." Racau Taehyung.
Di tengah keputusasaan nya, sebuah bayangan berdiri tepat di depan sorot cahaya lampu mobil Taehyung. Omega itu tentu merasa terkejut, Taehyung melirik pada jalanan sekitar serata menggenggam sebuah batu untuk menjadi senjata darurat nya.
"Siapa kau?"
Srek!
Hendak memukul sosok yang tidak bisa Taehyung lihat dengan jelas, namun lengan laki laki itu di genggam erat oleh sang empu yang membuatnya sulit bergerak. Memutar tubuhnya, kini sorot wajah laki laki itu terkena terang nya cahaya yang membuat Taehyung sadar, siapa laki laki yang kini ada di hadapannya.
"Jimin?"
"Kau ingin memukul kepalaku dengan batu?"
"Jimin?"
"Apa? Kau terus memanggil nama ku."
"Jimin?"
"Aish, apa!"
"Kau sungguh Jimin? Jimin yang ceroboh dan bodoh itu? Jimin yang angkuh dan merasa hebat? Kawan ku?"
"Kau pikir?"
"Kau tidak mati?"
"Aku tidak sebodoh itu."
Taehyung melempar batu yang tadi berada dalam genggaman nya, memeluk Jimin sekuat tenaga dengan meraba dada laki laki itu yang sempat tertembak tadi. Apa ini? Luka itu bahkan tidak ada dalam tubuh Jimin. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Bukan nya kau terluka tembak?"
"Tidak."
"Jimin, bicara yang benar apa yang terjadi sebenarnya?"
"Aku memakai rompi anti peluru! Cairan yang kau lihat seperti darah, pewarna yang sengaja aku taruh di dalam nya sebagai lapisan utama."
Taehyung mendecak kesal, kembali memeluk tubuh Jimin dan ribuan kali mengucap syukur dalam hati nya. Meskipun terlihat banyak luka lebam di wajah sang sahabat, begitu juga sobekan di sudut tulang pipi Jimin yang meninggalkan noda seperti darah yang mengering
