Detik demi detik seolah berjalan lambat. Suasana tegang meliputi seluruh istana sepanjang malam. Lebih tepatnya, semua penghuni istana berkumpul di Istana Semanggi.
Dian harap-harap cemas, tanpa sadar menggenggam tangan Alric erat. Devren tetap mempertahankan tampang datar meski semua tahu dia yang paling tidak sabar. Para pelayan lainnya kurang lebih sama seperti Dian. Para ksatria istana pun tidak ingin ketinggalan.
Ini hari yang spesial.
Pukul tiga dini hari. Suara tangisan bayi perlahan terdengar dari Istana Semanggi. Semua yang menunggu di luar bersorak senang. Bahkan saking terharunya, Dian menangis di pelukan Alric. Tuan Putri kecil mereka kini benar-benar telah dewasa. Aeliana resmi menjadi seorang ibu.
Tepat ketika tabib keluar, Devren bahkan tidak repot-repot bertanya. Sang Kaisar segera masuk untuk menemui putrinya yang baru saja melewati detik-detik menegangkan demi melahirkan seorang bayi.
Aeliana tersenyum lemah menatap ayahnya. Dia berhasil melahirkan setelah mengandung sembilan bulan terakhir. Bayi kecil dengan surai hitam serta mata permata khas Voltaria itu masih saja terus menangis dipelukan ayahnya.
"Aeliana, kau baik-baik saja?" tanya Devren, khawatir.
Selama 24 jam sebelum Aeliana melahirkan, Devren dihantui mimpi buruk saat ia kehilangan istrinya, Aria. Devren benar-benar khawatir Aeliana bernasib sama, karena gen dari si Penyihir Menara itu tentu saja tidak main-main.
Menurut pengalamannya bertahun-tahun yang lalu, Devren tahu bahwa mana sihir yang terlalu kuat hanya menyisakan dua pilihan. Tidak mungkin keduanya selamat, harus memilih apakah selamatkan anaknya atau justru ibunya. Itulah kenapa Aria mati, karena wanita itu lebih memilih menyelamatkan putrinya.
Selama 24 jam terakhir juga Devren membujuk Aeliana untuk merelakan bayinya dan terus hidup. Aeliana menggeleng tegas, meyakinkan ayahnya bahwa baik dirinya maupun bayinya akan baik-baik saja.
Hal itu tidak bisa dipercaya sedikitpun. Sejak mengandung kondisi Aeliana memburuk. Devren bersikeras dengan mana Aeliana yang sekuat itu ditambah gen dari Penyihir Menara yang sama kuatnya, mana anak mereka mungkin akan lebih kuat lagi. Mustahil keduanya bisa selamat, karena itu, Devren menginginkan putrinya akan selamat.
"Jangan egois, Papa!" bentak Aeliana. Sehari yang lalu mereka sempat bertengkar.
"Kau yang egois, Aeliana! Setelah ibumu meninggalkanku, kini kau juga ingin meninggalkan ayahmu?!" balas Devren. "Kenapa kalian sama-sama keras kepala? Biarkan saja bayi itu. Aku tidak peduli dengan keturunan, masih banyak yang bisa mewariskan tahta tanpa keturunanmu!"
"Ini bukan tentang keturunan dan pewarisan tahta, Papa! Ini bayiku, putriku! Aku tidak akan mengorbankannya!" ujar Aeliana. "Bahkan meski aku harus mati pun ... aku tidak akan mengorbankan putriku!"
"Kau egois, Aeliana! Jangan mengulangi kesalahan yang sama! Kau pikir jika kau mati karena melahirkan bayi itu, apa kau yakin suamimu akan tetap bahagia?!" tanya Devren.
"Apa Papa bahagia?" tanya Aeliana.
"Apa maksudmu?"
"Ibu mengorbankan nyawanya demiku. Sekarang aku di sini, aku hidup selama 20 tahun, aku hidup berkat nyawa dari ibu. Apa papa bahagia menerima kehadiranku di sini, atau justru masih menyesali kematian istri papa karena diriku?" tanya Aeliana.
"T-tentu saja, aku bahagia dengan kehadiranmu, Aeliana. Karena itulah, jangan mengorbankan dirimu. Setelah Aria, aku tidak ingin kehilangan putriku juga," ujar Devren.
"Yang Mulia," Luke buka suara, "aku akan berusaha. Aku tidak akan membiarkan istriku mati,"
"Aeliana," kini Luke menoleh ke arah istrinya, "aku juga akan menyelamatkan bayi kita,"
KAMU SEDANG MEMBACA
JUSTICE
Fiksyen PeminatKehidupan ketiga menjadi akhir yang adil bagi Athanasia De Alger Obelia. Namun, kebahagiaan membuat Athanasia lengah. Gadis itu tidak pernah menyadari bahwa bahkan meski ada seseorang yang masih setia melindunginya, ada juga orang-orang yang akan me...
