Chapter 15 | Separuh Jiwa Yang Tersisa

88 16 3
                                        

Keith mengenalnya.

"Yang Mulia Ratu Kiandra, Pemilik Mana Murni ke-21," gumam Hailyn. "Anda benar-benar datang rupanya,"

Keith refleks menoleh. Raut wajahnya kebingungan, seolah meminta penjelasan pada Hailyn. Ia tahu sosok itu Putri Kiandra. Namun bagaimana mungkin Pemilik Mana Murni ke-21 ada di sini, di tempat antah berantah yang tidak bisa dijelaskan ini?

"Putri Kiandra ... Anda benar-benar kembali. Saya berhasil ... Saya berhasil ...."

Itu Lucas. Memang benar. Sosok inilah yang selama ini dirindukan Lucas. Sosok Putri Kiandra, satu-satunya Tuan Putri Lucas.

Rambut hitamnya yang masih sama mempesona. Mata amethyst yang menatap lembut tetapi juga tegas. Senyum elegan yang luar biasa indah. Putri Kiandra Arkana Svetlost Na Melviano. Ratu pertama dalam sejarah Melviano.

"Selamat datang kembali, Yang Mulia Putri," sambut Lucas dengan penuh hormat tanpa peduli bahwa saat ini posisi mereka masih di dalam ruangan serba putih tak berujung.

"Kemarilah, Lucas," Putri Kiandra mengulurkan tangannya.

Hailyn dan Keith hanya menatap dari kejauhan. Mereka tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu. Mereka juga tidak berniat menginterupsi karena yang berada di sana adalah Putri Kiandra.

"Apa yang terjadi? Dimana kita?" Tanya Zenith yang baru sadar dari pingsannya. Keith dan Hailyn tidak menjawab, mereka hanya mengode Zenith untuk melihat ke arah dimana Putri Kiandra dan Lucas berbicara.

"Ratu Kiandra?" Ujar Zenith tak percaya

"S-siapa itu?" Timpal Athanasia bingung.

"Pemilik Mana Murni ke-21," jelas Keith singkat.

"TIDAK MUNGKIN!!! ANDA MELAKUKANNYA DEMI SAYA DAN ALISTER?" Tiba-tiba Lucas berteriak mebuat keempat orang lainnya penasaran.

Hailyn, Zenith dan Athanasia tidak bisa menahan rasa penasaran. Mereka maju teratur untuk mendengarkan percakapan antara Putri Kiandra dan Lucas.

"Benar Lucas," jawab Putri Kiandra dengan suaranya yang lembut.

"Cantik," tanpa sadar Athanasia bergumam. Hailyn dan Zenith ikut mengangguk menyetujui.

"Tapi Alister tidak bilang apapun pada saya. Dia berbohong pada saya, karena itu saya terus berusaha untuk kembali ke masa lalu dan membantu anda menghadapi kutukan itu," ujar Lucas.

"Memangnya jika Alister memberitahumu kebenaran, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Putri Kiandra.

"Aku ... Aku akan ... Aku tidak tahu," Lucas tidak dapat mengatakannya.

"Tapi jika saja aku bukan sumber kutukan ... Jika saja aku berada diposisi Alister, aku tidak akan membiarkan anda bunuh diri seperti itu!" Ujar Lucas tegas.

"Itu bukan bunuh diri Lucas. Itu pengorbanan yang diperlukan untuk menyelamatkan yang lain. Satu nyawa untuk menyelamatkan ribuan nyawa," ujar Putri Kiandra.

"TIDAK BISA BEGITU! TIDAK BOLEH ANDA YANG BERKORBAN. NYAWA ANDA JAUH LEBIH BERHARGA DIBANDING NYAWAKU ATAU NYAWA ALISTER!" teriak Lucas lagi.

"Anda seorang Ratu. Mungkin anda tidak akan setuju jika Alister yang dikorbankan. Karena itu lebih baik anda mengabaikan saya, dan membiarkan saya menebus masalah yang terjadi karena saya," lanjut Lucas.

"Itulah kenapa aku meminta Alister menyembunyikannya darimu. Karena kau akan dihantui rasa bersalah dan terus menyalahkan dirimu jika tahu kebenarannya," kata Putri Kiandra.

"Keputusanku memang bukan yang paling tepat. Tetapi Lucas, aku tidak mau mengorbankan nyawa orang lain. Karena setiap nyawa itu berharga," ujar Putri Kiandra.

JUSTICETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang