Chapter 4 | Serangan dan Penculikan

175 31 4
                                        

"Papa!" gadis kecil berusia 4 tahun itu berlari ke arah ayahnya. Diikuti seekor anjing kecil berwarna hitam. Rambut hitamnya berkibar, dengan semangat gadis itu memeluk ayahnya.

Lucas dengan sigap membalas pelukan putrinya. Putri pertamanya dan satu-satunya. Anantya De Alger Obelia. Lucas tidak berniat membuat Anantya memiliki adik. Satu saja cukup. Cukup sekali istrinya bertarung hidup mati demi melahirkan buah hati mereka. 

"Jangan lari-lari, Tya. Nanti kamu terjatuh," ujar Lucas.

"Hehehe," Anantya menyengir polos. "Tya punya peliharaan baru. Tiba-tiba anjing kecil ini ada di kamar Tya,"

Lucas menatap anjing 'kecil' berbulu hitam yang ditunjukkan putrinya. Hampir mirip dengan Si Hitam milik Athanasia yang dulu hampir dimakan Lucas.  Hanya saja, anjing ini lebih besar daripada saat Lucas pertama bertemu Si Hitam dulu. Pastilah mana putrinya lebih besar.

"Itu shinsu," kata Lucas.

"Shinsu?" tanya Anantya tidak paham.

"Itu jelmaan mana mu," kata Lucas.

"Jelmaan mana?" Anantya semakin tidak paham. Lucas bingung cara menjelaskannya. Athanasia sih langsung mengerti karena dulu jiwanya memang sudah dewasa. Tetapi, Anantya murni anak kecil polos yang tidak tahu apa-apa. Terlebih shinsu miliknya muncul terlalu cepat.

"Kamu tidak memberinya nama? Mama dulu juga punya satu yang seperti itu. Namanya Si Hitam," Athanasia muncul mengalihkan pembicaraan.

"Mama tidak kreatif! Hanya karena warnanya hitam masa diberi nama Si Hitam," kata Anantya. Athanasia hanya tersenyum.

"Sudah selesai bekerja, sayang? Kau sibuk akhir-akhir ini," ujar Lucas. Entah sejak kapan Tuan Penyihir ini mengubah panggilan untuk istrinya.

"Tentu saja, tugas negara. Ayah berniat menyerahkan tahta sepenuhnya padaku saat aku berusia 30 tahun. Tetapi persiapannya harus dari sekarang," kata Athanasia.

"Semangat, sayang," komentar Lucas sambil menyengir.

"Beruntung sekali! Punya suami tidak bisa diandalkan. Jangankan membantu mengurus berkas, dia malah bersenang-senang bersama putrinya di sini," kata Athanasia kesal.

"Jangan begitu, sayang. Kau tahu aku tidak bisa diandalkan mengurus berkas. Lagipula, aku merawat putri kecil kita dengan sepenuh hati," kata Lucas.

"Kau hanya mengambil bagian serunya, bermain, bercanda, dan hal menyenangkan lainnya. Sementara bagian sulitnya, kau serahkan pada Lily," ujar Athanasia.

"Tentu saja begitu kan? Normal putri kerajaan dirawat oleh pengasuh. Lagipula, aku membantu Tya belajar, kau tahu?" kata Lucas.

"Oh ayolah. Lily juga harus mengurus anaknya. Yah, dia memang menolak berhenti menjadi dayangku karena Felix juga masih tetap menjadi ksatriaku. Jika kau benar-benar tidak bisa menjaga anak sepenuhnya, kau cari pengasuh lain untuk Tya, jangan membebani Lily," kata Athanasia.

"Aku tidak mudah mempercayai orang lain dan menyeleksi ribuan orang yang pasti melamar untuk menjadi pengasuh putri kita itu merepotkan. Aku mengambil peran ayah dengan semestinya, aku bersungguh-sungguh. Aku hanya meminta bantuan Lilian York untuk beberapa hal yang aku memang tidak bisa. Seharusnya kau meluangkan lebih banyak waktu untuk putri kita," kata Lucas.

"Tidak bisakah kau mengerti aku sibuk? Tidak hanya keluarga yang harus kuurus, tapi satu negara!" balas Athanasia kesal.

"Mama! Papa! Aku menemukan nama yang tepat untuknya," celetuk Anantya melerai pertengkaran kedua orangtuanya. 

"Oh ya? Siapa?" tanya Lucas.

"Kuro!" kata Anantya.

"Kamu sama tidak kreatifnya, Tya," balas Athanasia, melupakan kekesalannya pada Lucas.

JUSTICETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang