Kehidupan ketiga menjadi akhir yang adil bagi Aeliana Von Valtoria.
Ayahnya, Devren Von Valtoria bersedia mengeluarkan banyak dana demi pesta penobatan yang mewah untuk Aeliana sebagai putri mahkota. Sementara Elio Von Valtoria dan Zaara Rosendale , paman dan sepupunya yang berniat mengambil alih kerajaan telah berhasil disingkirkan. Semua orang menganggap Devren dan Aeliana adalah pahlawan.
Aeliana yang sempurna. Dengan surai emas dan mata oranye bagai mentari. Seorang tuan putri yang sangat pintar dan berani. Kecantikannya terkenal seantero Valtoria, bahkan dua pemuda tampan pun bertekuk lutut dihadapannya.
Kael Althera yang baru diangkat sebagai Duke Althera, juga Luke sang penyihir menara. Keduanya berusaha merebut cinta Aeliana. Pertarungan emosional itu pada akhirnya dimenangkan oleh Luke.
Entah bagaimana cara Luke bernegosiasi dengan Devren, pesta pernikahan Putri Aeliana dan Tuan Penyihir Luke berlangsung sangat mewah. Kael hanya menatap kebahagiaan dua pasangan baru itu, menerima nasib menjadi sadboy dibawah seringai kemenangan Luke.
Tanpa sadar Aeliana telah berbahagia diatas penderitaan orang lain.
Tapi siapa peduli? Pertarungan cinta memang harus menyisakan seseorang yang berakhir menyedihkan. Lagipula, Kael sudah merelakannya.
Putri Aeliana dan Luke menghabiskan waktu di istana, sangat jarang keluar. Bahkan meski putrinya sudah menikah pun, Devren masih saja overprotektif terhadap putrinya. Mau bagaimana lagi, keduanya menikah diusia muda, Aeliana bahkan masih berusia 18 tahun. Itu normal dalam tradisi kerajaan. Lagipula, baik jiwa Aeliana ataupun Lucas sudah sama-sama dewasa. Karena Aeliana adalah seorang reinkernator yang sudah pernah menjadi orang dewasa.
Kehidupan Aeliana sebagai reinkernator tidaklah mudah. Ia harus mencegah kematian yang menjadi takdirnya. Setelah berhasil menaklukan rute kematian itu, tahun-tahun yang telah berlalu menjadi tidak begitu berarti bagi Aeliana. Gadis itu ingin menikmati hidupnya sebagai putri dengan segala kemewahan dan kasih sayang yang berhasil didapatkannya.
Suatu hari di Istana Semanggi terjadi sebuah kehebohan kecil.
"Tuan Putri, ada sebuah surat dari Kerajaan Melviano," ujar Dian, pelayan sekaligus pengasuh Aeliana sejak kecil.
Kerajaan Melviano? Aku tidak pernah berhubungan dengan mereka. Hm ... Yah paling undangan basa-basi untuk hubungan politik. Siapa peduli, ayah tidak akan mengizinkanku menghadiri pesta dimanapun. Padahal statusku saat ini putri mahkota, tentu saja sosialisasi itu penting, batin Aeliana.
"Bakar sajalah, Dian!" Ujar Aeliana kesal, "ayah juga tidak akan mengizinkan,"
"Tapi, tuan putri, itu menyalahi aturan tata krama antar kerajaan. Membakar surat dari Kerajaan lain sama saja menghina kerajaan tersebut," ujar Dian.
"Memangnya kenapa? Tidak ada yang bisa menandingi Valtoria, ayah juga biasa membakar surat dari kerajaan lain. Kalau terjadi perperangan pun akibat satu surat yang kubakar, itu salah ayah yang tidak pernah mengizinkanku ke luar!" Balas Aeliana, kembali sibuk dengan berkas-berkas kerajaan yang ditanganinya.
"Apa susahnya menuruti perintah Aeliana, nona pelayan? Jangan membuat istriku kesal," ujar Luke yang sedang tiduran di sofa ruang kerja Istana Semanggi.
Dian undur diri, mengikuti perintah sang tuan putri. Entah sudah berapa banyak surat yang dia bakar akhir-akhir ini. Memang, kaisar tidak mengizinkan putri mahkota keluar istana dengan alasan keselamatan. Tetapi, tetap saja membakar surat hanya karena kesal itu keterlaluan, terlalu sombong.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUSTICE
Hayran KurguKehidupan ketiga menjadi akhir yang adil bagi Athanasia De Alger Obelia. Namun, kebahagiaan membuat Athanasia lengah. Gadis itu tidak pernah menyadari bahwa bahkan meski ada seseorang yang masih setia melindunginya, ada juga orang-orang yang akan me...
