Hi... masih ada yg nungguin gak ya?
Maapin baru update 🙏Happy reading ~~~
Jangan lupa pencet ⭐Sorry for typos
Thank you
🌷
Waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan.
Takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Dua tahun berlalu tanpa terasa. Pagi itu, Alvan mendapat telepon jika sang ayah dilarikan ke rumah sakit karena akhir-akhir ini kondisinya sering drop. Akhirnya, Alvan menawarkan agar mereka kembali ke Jakarta karena fasilitas kesehatan lebih banyak dan lengkap, juga agar ia bisa turut merawat ayahnya. Dan keluarga itupun akhirnya setuju kembali ke Jakarta setelah Rania mengurus pengunduran dirinya. Alvan pun kembali ke rumahnya dan rutin mengantar sang ayah berobat.
Setahun lebih menjalani pengobatan dan kontrol di rumah sakit, kondisi kesehatan ayah Rania semakin menurun. Saat masih muda, ayah Rania adalah perokok aktif yang mungkin menjadi alasan paru-parunya bermasalah. Hingga kabar duka itu pun kembali menghampiri mereka. Rania kembali kehilangan orang yang dicintainya. Sang ayah meninggal karena kanker paru-paru.
Quin pun turut merasakan kesedihan itu. Ia kehilangan sosok ayah yang selama ini menemaninya. Selama gadis kecil itu hidup, sang kakeklah yang menggantikan ayahnya sehingga Quin sangat dekat dengan kakeknya."Om, Kakek tidur lama banget ya?"
"Iya, sayang, kakek udah tidur dengan tenang. Kakek gak sakit lagi," jawab Alvan berusaha menahan tangisnya.
"Kakek meninggal kayak ikannya Quin yang waktu itu meninggal ya, Om? Kakek gak bisa hidup lagi?" Quin bertanya dengan polosnya. Alvan pun hanya bisa mengangguk kemudian memeluk Quin. Sementara Rania masih menangis di pelukan ibunya.
Dua bulan setelah kematian sang ayah, Alvan meminta izin untuk kembali ke tempat kosnya setelah memastikan keluarganya sudah menerima kepergian sang ayah. Ia beralasan agar lebih dekat dengan kantornya. Quin mencoba menahan Alvan pergi tapi Alvan memberi pengertian bahwa ia akan berkunjung setiap akhir pekan. Alvan pun menepati janjinya namun pemuda itu selalu kembali ke kosannya dan tidak pernah menginap.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
"Om, kata Mama, Papa aku udah pergi jauh banget kayak Kakek. Papa udah meninggal pas aku masih di perut Mama, makanya aku gak bisa lihat Papa lagi." Alvan mendadak speechless mendengar ucapan keponakannya yang kini duduk di bangku taman kanak-kanak.
"Tapi, aku pengen punya Papa kayak temen-temen aku. Om mau gak jadi Papa baru aku?" Quin bertanya dengan polosnya khas anak-anak.
Ruangan itu mendadak hening, Alvan dan ibunya saling bertatapan, bingung merespons pertanyaan Quin itu.
"Eh? Quin bisa anggep Om sebagai Papa Quin," jawab Alvan setengah bingung.
"Maksudnya gimana Om? Quin mau Om tinggal di sini sama Quin, terus anterin Quin sekolah sama Mama."
"Besok Om anterin Quin ke sekolah kalo gitu."
"Quin pengen tiap hari dianterin Om sama Mama. Terus kita jalan-jalan bareng... Kayak temen-temen Quin yang selalui ditemenin Papa Mamanya gitu, Om," jawab bocah itu polos.
"Quin sayang, Quin bisa telpon Om kalo mau jalan-jalan. Om usahain buat temenin Quin."
"Tapi Quin gak punya HP, harus pinjem HP Mama. Terus Mama pernah bilang kalo gak boleh telpon sembarangan," jawab Quin polos. Anak kecil memang tidak bisa berbohong. Alvan dan Mamanya kembali melempar pandang.
"Kalo gitu, Om Alvan harus ngajak Quin jalan-jalan kalo ke sini lagi ya, Om?" Alvan mengangguk pelan. Urusan dengan Rania bisa nanti dibicarakan.
"Terus, Om, Quin boleh panggil Om 'Papa'? Biar Quin bisa bilang ke temen-temen kalo Quin juga punya Papa." Alvan kembali speechless.

KAMU SEDANG MEMBACA
Moment
Fiction généraleHunrene short story compilation: oneshot, two shot, others.