Mobil memasuki basement apartemen. Aku berlari lebih dulu meninggalkan Al di basement. Aku memencet tombol lift dan masuk ketika pintu terbuka.
"Hello ladies"sapa dua orang pria kekar dari dalam lift.
Aku mengurung niatku masuk lift dan berjalan mundur. Dua pria itu keluar lift dan maju perlahan ke arahku.
" So beautiful" tangan salah satu pria itu mengelus wajahku.
Aku menghindari dan perlahan aku menangis ketakutan.
"Let's play" pria itu menaik-turunkan alisnya.
Aku tau apa yang dia maksud play itu. Tidak. Aku tidak mau. Aku melihat sekeliling. Sangat sepi. Tidak ada barang yang bisa aku pakai untuk melindungi diri juga.
Kedua pria itu menarik dua tanganku dan memaksaku masuk ke lift. Aku menendang kaki mereka untuk melindungi diri, namun mereka malah lebih kasar menarikku. Mereka berhasil membawaku masuk dan pintu lift perlahan tertutup. Sebuah sepatu menahan pintu tertutup. Al. Ya itu sepatu Al.
Tanpa basa basi Al memukul wajah dua orang itu. Genggaman mereka pun terlepas. Kedua pria itu pun menyerang Al. Mereka berkelahi hingga keluar lift.
Al terkena pukulan bertubi-tubi hingga lebam. Walau Al bisa menghajar mereka, tapi dua orang vs satu orang tentu saja Al kalah.
Aku langsung menelepon Security dan tak lama mereka datang melerai perkelahian itu. Security itu membawa dua orang pria itu. Al sudah terduduk lemah.
"Om" aku berlari mendekatinya.
"Kamu ga papa? Ada yang luka?" tanyanya lemah.
Sebenarnya lenganku lebam karena tarikan kasar mereka, tapi untungnya aku mengenakan baju lengan panjang jadi aku bisa menyembunyikannya dari Al.
" Saya ga papa om"
" Ayo om" aku mengangkat tubuh Al menaiki lift.
Aku menopang tubuh besar Al. Pria itu tampak lemah.
Untung saja semua orang sudah tidur saat kami sampai, jadi setidaknya untuk malam ini aku tidak perlu menjelaskan apa-apa pada mereka.
Aku menidurkan tubuh Al di kasur miliknya. Lalu ke dapur mengambil es batu dan kotak obat. Aku mengompres luka lebam di wajah dan tubuh Al,serta mengobati luka di sudut bibir pria itu.
" Ivy" panggilnya lemah.
"Iya om"
" Cerita " ucapnya.
Aku diam. Lalu tersadar. Ternyata Al masih penasaran kenapa aku seperti tadi di mobil.
"Nanti aja om"
" Sekarang" ia menatapku.
"Nanti om"
"Sekarang"
"Om aja kayak gini, ya kali saya cerita" protesku.
"Saya ga pa
Aku menekan salah satu luka lebam Al. Pria itu teriak kesakitan.
"Masih mau bilang ga papa" sindirku.
" Saya kayak gini juga gara-gara kamu"
" Siapa suruh berantem" ceplosku.
" Ya saya kan ngelindungi kamu" Belanya.
" Saya ga minta om lindungi"
"Terus nanti kamu mau punya anak dari pria kayak gitu, saya sih ga mau"
"YA OM GA BISA PUNYA ANAK DARI COWOK LAH, OM KAN COWOK"
Ia tertawa. Untuk pertama kali aku melihat itu. Ketampanannya bertambah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKE YOUR HEART
Teen FictionIvy yang masih duduk di bangku akhir SMA dijodohkan dengan seorang pria yang berprofesi sebagai seorang model sekaligus direktur agensi model buatannya. Tak disangka pria itu 10 tahun lebih tua darinya. Terkenal dingin dan cuek. Ivy yang ceria dan...
