"Ivy, can I come ?" Al terus menerus mengetuk conneting door.
Karena tidak ada jawaban, Al membuka pintu itu sendiri. Aku menatap wajahnya.
" We need to talk" Al duduk di kasur.
" Saya minta maaf karena ninggalin kamu di pantai kemarin. Saya panik Zara tenggelam"
"Iya, karena dia hamil kan" ucapku.
" Iya, untung aja Zara dan janinnya aman"
"Owh" jawabku singkat.
Aku menyalakan televisi dan menonton sebuah film yang tayang. Aku tidak memperdulikan Al. Biarkan saja dia.
"Ivy"
"Kamu boleh minta apapun ke saya, saya akan kabulin" tambahnya.
"Apapun?" Aku meyakinkannya.
Ia mengangguk.
" Beliin saya tiket pulang" pintaku.
"Buat apa Ivy?" Kagetnya.
"Menurut om?"
" Ada masalah di rumah?"
Aku menggeleng.
DI RUMAH GA ADA MASALAH OM
YANG ADA DI SINI
NTAR KALO AMIT" GUE SAMA ZARA TENGGELAM
OM MAU NOLONGIN ZARA KAN
LAGI LAGI KARENA DIA HAMIL
MENDING GUE PULANG
" Kalo itu saya ga bisa kabulin" ucapnya.
"Tadi katanya apapun itu" protesku.
" Kecuali yang barusan" larangnya.
" Terserah"
PLIN PLAN LO OM
GA SERUUUUU
°°°
Malam pun tiba, Al masih juga ada di kamarku. Berulang kali aku mengusirnya. Bahkan Zara sampai masuk ke kamarku. Tapi pria itu betah disini walau aku cuekin.
"Om balik kamar sana, saya mau tidur" usirku.
"Ga, saya mau disini"
"ya udah kalo gitu, saya aja yang pindah" ancamku.
Al mencegahku.
"Ivy" ia menunduk.
"Apa lagi sih om"
"Sorry" ucapnya pelan.
"For?"
" Leave you alone yesterday"
"Tadi kan udah minta maaf"
"Tapi kamu belum maafin saya"
" Iya iya udah dimaafin, jadi sekarang balik sana ke kamar" ucapku.
"No, kamu belum maafin saya"
" Barusan saya bilang udah maafin kan"
"Tapi ga ikhlas"
" Dah ah"
Aku merebahkan diri ke kasur. Memutar menghadap jendela membelakangi Al yang berdiri dekat pintu kamar mandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKE YOUR HEART
Roman pour AdolescentsIvy yang masih duduk di bangku akhir SMA dijodohkan dengan seorang pria yang berprofesi sebagai seorang model sekaligus direktur agensi model buatannya. Tak disangka pria itu 10 tahun lebih tua darinya. Terkenal dingin dan cuek. Ivy yang ceria dan...
