Amato Mulai Tau

750 97 4
                                        

Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Halilintar hanya diam saja berbeda dengan kedua saudara kembar itu yang satu aktif sekali bermain hp dan satunya lagi sibuk membaca buku.

Sejak naik kedalam mobil milik keluarga ini entah kenapa kepala Halilintar terasa berputar-putar keringat tipis-tipis kini membasahi wajah Halilintar walau didalam mobil terdapat AC.

"Kita sampai," ucap Amato sukses membuat Halilintar buru-buru keluar.

"Hoeeeek."

Keluarga itu menatap Halilintar bingung jangan bilang jika Halilintar jadi begitu karena naik mobil alias mabuk darat.

"Bang Alin kau baik-baik saja," ucap Gempa memijat pelan leher Halilintar.

"Hoeeeek."

"Pfff hahahaha bang Al mabuk darat," ucap Taufan diselingi tawa.

"Ya ampun nak Alin kamu baik-baik akan."

Terlihat Halilintar menampilkan jempolnya memberi tau Amato bahwa dia baik-baik saja.

"Ya udah kalau itu Om berangkat ya," ucap Amato menahan tawa lalu pergi dari kawasan sekolah.

"Udah bang masih mual," ucap Gempa.

"Kepalaku pusing," ucap Halilintar membuat keduanya bingung harus bagaimana.

"Mau ke UKS?" tanya Gempa.

Halilintar memegang kepalanya yang terasa sangat pusing sekali dia lalu menatap kedua saudara kembar itu yang menatap khawatir pada dirinya.

💠💠💠💠

Amato terus saja mengotak-atik laptop itu dengan serius berharap ia menemukan sesuatu yang ia cari-cari selama ini.

Tapi tetap saja informasi tersebut tidak ada membuat Amato frustasi ia lalu mengingat anak itu bagaimana matanya yang memiliki iris hitam yang legam, pipi yang chubby dan senyumnya yang membuat Amato tidak bisa fokus akhir-akhir ini.

Ia mengenal senyum itu tapi dia lupa dimana dan kapan ia pernah melihat senyuman itu.

"Apa dia memakai lipstik," ucap Amato yang sedikit heran dikarenakan bibir Halilintar yang berwarna merah seperti warna merah rubi.

Amato kembali mengetikkan huruf demi huruf itu dilaptop miliknya. Lalu matanya seketika melotot ketika mendapatkan sebuah informasi. Ia menggertakkan giginya tiba-tiba menjadi sangat kesal.

"Sudah kuduga aku tidak lupa dengan senyum itu sudah kubilang untuk membunuh bayi itu kenapa dia tetap nekat membesarkannya."

💠💠💠💠

"Kenapa Om membawaku kesini?" tanya Halilintar saat Amato membawanya ke sebuah rumah yang tak berpenghuni.

Amato lalu menodongkan sebuah pistol kedahi Halilintar.

Deg...

Halilintar terdiam mencerna semuanya.

Dor...

"Hosh...hosh...hosh."

"Bang Al kau baik-baik saja kan?" Tanya Gempa.

Halilintar mencengkram kuat dadanya jantungnya tiba-tiba menjadi sangat sakit ia lalu jatuh ke dada Gempa.

"Bang kau tidak papa kan?" Tanya Gempa panik memeluk Halilintar.

"Sakit...hosh...hosh."

Pandangan Halilintar seketika kabur ketika melihat kedatangan Taufan dan Elisa lalu ia mulai melihat kegelapan lalu tak sadarkan diri kembali.

"BANG AL!!"

💠💠💠💠

"Engh."

"Bang syukurlah kau sudah sadar," ucap Taufan senang melihat Halilintar sadar.

Tiba-tiba tangan Taufan ditarik oleh seseorang dan itu ternyata adalah Amato.

"Mulai sekarang menjauh darinya," ucap Amato dingin.

"APA!?"

"Tapi kenapa?" tanya Taufan.

"Tidak ada alasan sekarang masuk ke mobil kita pulang," titah Amato.

"GAK MAU!"

"Kami mau menjaga bang Al!" Seru Gempa.

"GEMPA JANGAN MENOLAK AYAH BILANG MASUK KE MOBIL!" Teriak Amato lalu menarik kedua anak kembarnya.

Halilintar yang masih lemah tidak bisa berbuat banyak tangannya hanya menggapai keduanya yang akan dibawa pergi oleh Amato.

"Gempa, Taufan," lirih Halilintar.

Tangan Halilintar yang awalnya menggapai keudara kini jatuh kekasur rumah sakit.

Ia berharap ini semua hanyalah mimpi ia hanya menginginkan sebuah keluarga melihat bagaimana cara Gempa dan Taufan memperlakukannya sebagai Abang membuat ia menghangat merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.

Air mata itu jatuh menetes ke bantal bersamaan dengan monitor detak jantung yang berbunyi sangat nyaring.

💠💠💠💠

"Lepasin ayah!" ucap keduanya berusaha melepaskan genggaman tangan dari Amato.

"Apa-apaan kau ini menarik anakmu seperti itu!" ucap Elisa murka lalu genggaman tangan Amato terlepas dan keduanya berlari ke arah Elisa.

"Mama Ayah jahat masa kita gak boleh dekati bang Al lagi," adu Taufan.

"Lah bagus dong dia itu gak jelas asal usulnya pokoknya kalian berdua harus menjauh dari anak aneh itu kalau perlu kalian pindah sekolah aja," ucap Elisa.

"Mama!" ucap keduanya kesal lalu pergi ke kamar mereka masing-masing.

"Tuh lihat anak kamu," ucap Elisa pada Amato.

"Sepertinya usulan kamu ada benarnya mereka berdua harus pindah sekolah," ucap Amato.

"Lah kok tiba-tiba ada apa sebenarnya denganmu dari kamu pulang udah aneh begini," ucap Elisa.

"Kamu gak perlu tau ini urusanku," ucap Amato lalu meninggalkan Elisa seorang diri.

-Bersambung-

Jangan lupa vote 🌟, Comment 💬, Follow 💫, dan masukan ke reading list📖 kalian ya agar kalian tidak ketinggalan cerita 📚 terbaru dari Author.

_____Selamat membaca_____

Stepbrother (Tuntas)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang