Halilintar terbangun dari pingsannya Ia begitu terkejut melihat dimana Ia berada sekarang, sekelilingnya ditutupi oleh besi dengan Ia terkurung di dalamnya tanpa celah sedikit pun.
Halilintar memukul-mukul besi-besi tersebut yang ternyata adalah sebuah kaleng besar ia mulai khawatir sekarang.
"Tolong!!" Tentu saja tidak akan ada yang mendengar suaranya terlebih suaranya menjadi lebih pelan karena efek dari cairan tersebut yang membuatnya menjadi tidak berdaya.
"Apakah dia sudah sadar?"
"Sepertinya sudah tuan."
"Tolong jangan begini lepaskan aku, aku janji tidak akan menganggu keluargamu dan aku akan pergi sejauh mungkin hiks...Bubu."
Bukan sebuah jawaban yang Halilintar dengar melainkan sebuah semen basah yang mengalir kedalam kaleng tersebut.
"AYAH.!!" Teriak Halilintar saat semen basah tersebut mulai memenuhi area tersebut sampai batas pinggang. Amato merasakan sesak didadanya ketika Halilintar memanggil dirinya Ayah.
Tapi hati Amato sudah dikuasai oleh iblis jadi tidak mendengarkannya sama sekali dia sudah dibutakan oleh cinta sampai rela membunuh darah dagingnya sendiri.
Halilintar hanya bisa pasrah ketika semen itu perlahan-lahan mulai naik dan akan menutupi seluruh tubuhnya.
"Ayah," lirih Halilintar begitu pilu.
💠💠💠💠
"Ayo buruan paman!" Pinta Fang.
"Sabar Fang paman ini polisi bukan pembalap," ucap Lahap.
"Yang bilang paman pembalap siapa?" Tanya Fang.
"Lah yang bilang paman pembalap siapa?" Tanya Lahap balik.
"Haduh." Terlihat sikembar tampak gusar mereka memiliki ikatan persaudaraan yang sangat kuat hingga mereka bisa merasakan jika Halilintar dalam bahaya sekarang.
"Pak bisa cepat sedikit gak suami saya itu orang nekatan pak," ucap Elisa.
"Terus ngapain dipilih Bu kalau nekatan," ucap Lahap.
"Kenapa jadi bapak yang komplen suami-suami saya," ucap Elisa.
"Suaminya psikopat begitu Bu yakin masih mau dipertahankan mending sama saya hehehehe," ucap Lahap membuat semuanya menatap datar Lahap.
"Bercanda gak usah tegang kali rilek lah."
"Ih paman ini buruan!" Ucap Fang.
Mereka sudah mengetahui posisi keberadaan Halilintar berterima kasih lah pada Fang yang memasang GPS pada gelang Halilintar yang Ia pasang saat ia kehilangan Halilintar. Jangan tanya kenapa Ia memasangnya itu untuk sekedar balas budi dan jaga-jaga saja jika Halilintar dalam bahaya walau sekarang pun Ia pun dalam bahaya.
💠💠💠💠
Halilintar hanya bisa pasrah ketika semen itu mulai menutupi wajahnya dan akhirnya wajah Halilintar terbenam sempurna oleh semen basah tersebut. Halilintar bisa merasakan bahwa Ia berada didalam ambang batas kematian, semen tersebut menutupi saluran pernapasan.
Amato menatap datar kaleng besar tersebut walau perasaan didalam hatinya gusar dan bimbang disatu sisi Ia sakit melihat hal tersebut namun hatinya yang sudah hitam menginginkan anaknya itu harus pergi.
"Sudah penuh bos," ucap anak buah Amato.
"Bagus. Hilangkan bukti buang besi itu ke laut," ucap Amato membuat anak buahnya mengangguk. Walau mereka sedikit terkejut dengan arahan tersebut.
"Ninu...ninu...ekhem ini polisi angkat tangan kalian diatas," ucap Lahap membuat semuanya menatap datar Lahap.
Suara sirene polisi yang asli membuat Amato dan anak buahnya kalang gabut terlebih mereka belum sempat menghilang jejak bukti sama sekali.
"Urusan anak itu biar kutangani mereka," ucap Amato.
Anak buah Amato mengangguk lalu mulai mengangkat kaleng tersebut dan Amato segera keluar menghampiri para polisi itu.
"Ada apa ini?" Tanya Amato.
"Gak usah basa basi dimana Halilintar?" Tanya Elisa.
"Halilintar apa maksud ucapanmu?" Tanya Amato balik.
"Kamu pikir kami gak tau kamu kan yang menculik Halilintar," ucap Elisa.
"Aku nyulik Halilintar buat apa," ucap Amato.
"Pak langsung periksa aja," ucap Elisa.
"Baiklah semuanya periksa tempat ini," ucap Kaizo.
"Lah itu kan bagianku anak muda KALIAN DENGAR UCAPAN KAIZO PERIKSA TEMPAT INI SEKARANG!" Teriak Lahap.
"Baik pak!" Ucap semuanya serentak lalu mulai memeriksa.
"Tuh kamu harus contoh pamanmu ini," ucap Lahap menyombongkan diri.
"O-oke," ucap Kaizo patuh lalu ikut kedalam memeriksa.
"Gimana Bu saya keren kan," ucap Lahap menaikan alisnya secara bergantian.
"Pak fokus pak," ucap Elisa.
"Apa pun untuk ibu," ucap Lahap.
"Saya udah nikah pak," ucap Elisa mulai lelah digoda terus oleh Lahap.
"Yakin suami kayak gitu masih dipertahankan," ucap Lahap memeriksa kuku-kukunya.
"Tunggu Gempa...Taufan sama Fang kemana?" Tanya Elisa panik.
"Lah suami ibu juga kemana?" Tanya Lahap juga baru sadar bahwa keempat orang itu menghilang secara bersamaan.
"Gawat!" Ucap Elisa.
Sementara itu Gempa, Taufan dan Fang mengikuti kemana perginya Amato secara diam-diam tadi.
-Bersambung-
Jangan lupa vote 🌟, Comment 💬, Follow 💫, dan masukan ke reading list📖 kalian ya agar kalian tidak ketinggalan cerita 📚 terbaru dari Author.
_____Selamat membaca_____
KAMU SEDANG MEMBACA
Stepbrother (Tuntas)
Ciencia FicciónBertemu dengan dua insan yang memiliki wajah serupa dengannya ternyata membawanya kepada kebenaran yang tidak terduga terlebih setelah Ia bertemu sosok dia yang ingin membunuh dirinya darah dagingnya sendiri. Edit cover by : chenligh_
