Gempa dan Taufan terus saja berdebat perihal tentang Halilintar, Gempa yang bersikeras ingin berteman dengan Halilintar sementara Taufan yang terus saja mengutarakan pendapat buruknya tentang Halilintar.
Perdebatan mereka terhenti dikala melihat sekelompok pelajar dari sekolah lain tampak tertawa senang sambil melempar batu ke arah seseorang yang tengah meringkuk.
"HALILINTAR!!" teriak Gempa membuat sekelompok pelajar itu ketakutan dan segera pergi karena melihat aura mengerikan pada Gempa yang menatap mereka dengan tajam.
Gempa segera bergegas mendekati Halilintar, mau tak mau Taufan juga mengikuti adiknya itu.
"Lintar kau tidak papa kan?" tanya Gempa dan pada saat itu Gempa sadar bahwa Halilintar tengah melindungi sosok makhluk berbulu yaitu kucing. Halilintar menatap Gempa sendu lalu tidak berapa lama Ia ambruk tak sadarkan diri.
"HALILINTAR!!"
💠💠💠💠
"Engh!!" Halilintar melihat sekitar ternyata Ia berada di UKS.
"Baguslah kau sudah sadar," ucap Gempa riang, sementara Taufan menatap datar ke arah Halilintar baru kali ini sosok Taufan tidak menyukai seseorang.
Halilintar tidak peduli dengan Gempa Ia langsung saja pergi walau pun tubuhnya masih lemas.
"Hei tunggu kau mau kemana!?" seru Gempa namun tidak diindahkan oleh Halilintar.
"Dasar! sudah ditolong tapi tidak tau terima kasih," cibir Taufan.
Halilintar menatap datar ke arah Taufan yang menatap tajam dirinya.
"Terima kasih." Halilintar kembali melanjutkan langkahnya namun tiba-tiba Ia berhenti membuat Gempa dan Taufan heran.
Halilintar lalu memegang dadanya kemudian terjatuh ke bawah sambil memegang dadanya.
"Kau tidak papa Lin?" tanya Gempa khawatir saat melihat Halilintar seperti kesakitan.
"Hei jangan bikin orang panik dirimu kenapa." Taufan jadi ikutan panik setelah melihat kondisi Halilintar.
Halilintar tidak menjawab dadanya terasa sangat sakit Ia bahkan kesulitan untuk bernafas air keringat bercucuran dari pelipisnya, setelahnya darah segar mengalir deras dari hidungnya.
"Ya ampun kau baik-baik saja?" tanya seorang perempuan yang menjadi dokter di UKS sekolah ini.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit," ungkap Gempa.
"Tidak jangan kerumah sakit aku baik-baik saja," ucap Halilintar menutup hidungnya yang mimisan dan sambil terus memegang dadanya.
"Baik-baik dari mananya kau mimisan-." Ucapan Gempa terpotong karena Halilintar tiba-tiba muntah darah.
"Hueeek!!"
"Dan lihat sekarang kau muntah darah," lanjut Gempa bertambah panik.
"Cepatlah bawa dia kerumah sakit!" ucap Taufan membuat dokter perempuan itu langsung menelpon ambulans.
"To---lo---ng ja---ng---an ke---ru---mah sa---kit," ucap Halilintar terputus-putus karena tubuhnya semakin melemah tidak berapa lama Ia kembali tidak sadarkan diri.
"Hei bangun lah kau sebenarnya kenapa?" tanya Gempa berusaha membangunkan calon sahabatnya itu.
💠💠💠💠
Gempa menatap dari kaca pembatas Halilintar yang sedang ditangani oleh para tenaga medis nampak disana mereka berusaha menyelamatkan Halilintar. Tidak berapa lama tirai kaca tersebut ditutup oleh suster sehingga Gempa tidak dapat melihat proses yang terjadi didalam.
Entah kenapa hati Gempa tergerak untuk berteman dengan Halilintar, padahal mereka baru pertama kali bertemu seolah-olah ada ikatan yang mengikat diantara mereka. Gempa memegang dadanya Ia juga sedikit merasa sakit didadanya, seolah-olah memahami rasa sakit yang dialami oleh Halilintar. Tidak berselang lama dokter yang menangani Halilintar pun keluar, Gempa dan dokter UKS itu bergegas mendekat.
"Dokter bagaimana keadaan teman saya?" tanya Gempa.
"Apa kalian keluarganya?" tanya dokter padahal Gempa sudah menyebutkan hubungan mereka mungkin sang dokter hanya ingin memastikan sekaligus bertanya perihal keluarga Halilintar.
"Bukan, kami dari pihak sekolah. Saya dokter di UKS sekolah SMA Dikari Kota hilir dan ini teman dari anak itu," terang sang dokter UKS yang baru diketahui ternyata bernama Maripos.
"Begitu ya saya ingin bicara dengan keluarganya," ucap sang dokter.
"Menurut informasi anak itu hidup sebatang kara ibunya meninggal saat Ia berusia 10 tahun," ucap Maripos.
"Lalu bagaimana dengan ayahnya?" tanya dokter itu lagi.
"Tidak ada informasi mengenai ayahnya tapi banyak yang bilang jika ayahnya kabur," ucap Maripos entah bagaimana Maripos bisa mengetahuinya.
"Begini penyakit jantungnya semakin parah kita harus segera mencari donor jantung dan melakukan operasi pada anak itu," ucap dokter.
-Bersambung-
Jangan lupa vote 🌟, Comment 💬, Follow 💫, dan masukan ke reading list📖 kalian ya agar kalian tidak ketinggalan cerita 📚 terbaru dari Author.
_____Selamat membaca_____
KAMU SEDANG MEMBACA
Stepbrother (Tuntas)
Science FictionBertemu dengan dua insan yang memiliki wajah serupa dengannya ternyata membawanya kepada kebenaran yang tidak terduga terlebih setelah Ia bertemu sosok dia yang ingin membunuh dirinya darah dagingnya sendiri. Edit cover by : chenligh_
