Note: Sebenernya agak bimbang ini mau bikin alur yang sama terus revisi atau alurnya di ubah. Jujur saya agak pusing nelaahnya, jadi setelah banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk ngubah alurnya untuk tetap jalan bukan balik ke POV Mahveen. Dan dari bab ini saya bakal ubah bahasanya biar gak formal-formal banget. Semoga pada suka ya.
Terimakasih yang masih setia mendukung.
Happy reading!!!
***
S e p u l u h
'Rencana: Berhasil atau Gagal'
💐💐💐
Dan benar saja, setelahnya, Mahveen kembali bertemu Sheza. Bukan hanya bertemu, mereka bahkan berada di kelas yang sama. Namun, Mahveen merasa heran. Sheza bersikap sangat acuh, bahkan terkesan membenci Mahveen.
Setelah ujian selesai dan pengumuman nilai ditempel, Mahveen sebenarnya ingin sekali mengajak Sheza bicara, sekadar mengucapkan selamat. Namun, saat mereka bertemu di dekat papan pengumuman, Sheza dengan sengaja menghindarinya. Sikap Sheza itu membuat Mahveen semakin penasaran dan bertanya-tanya, apakah ada sesuatu yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Sheza?
Cloudy menggeleng pelan, memandang kepergian Sheza yang tergesa-gesa. Kemudian, ia kembali menatap Mahveen, tersenyum ramah. "Hei, selamat ya, lagi-lagi peringkat pertama di sekolah!"
Mahveen tersenyum tipis, sedikit canggung. "Makasih. Clou, ada yang mau aku omongin."
Cloudy mengerutkan keningnya, penasaran. "Hm? Tentang apa?"
Mahveen terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. Setelah berpikir sebentar, ia berkata, "Ini tentang Sheza. Kenapa kayaknya dia sengaja menghindar dari aku? Apa dia merasa nggak nyaman sama aku?Atau jangan-jangan aku udah ngelakuin sesuatu yang bikin dia marah?" Suaranya terdengar sedikit khawatir dan ragu.
Cloudy terdiam sejenak, seolah sedang berpikir keras. Ia juga merasakan kejanggalan pada sikap Sheza. Sheza dikenal sebagai gadis yang ramah, selalu tersenyum dan menyapa siapa pun yang ditemuinya. Namun, Cloudy sama sekali tidak pernah melihat Sheza bicara atau tersenyum kepada Mahveen. Yang terlihat hanyalah sikap Sheza yang acuh tak acuh, bahkan terkesan dingin setiap kali bertemu Mahveen. Kejanggalan itu membuat Cloudy ikut penasaran.
"Aku juga nggak ngerti kenapa Sheza begitu. Dia nggak pernah cerita apa pun ke aku," ujar Cloudy, suaranya terdengar sedikit prihatin.
Mahveen menatap Cloudy dengan harap. "Kamu bisa bantu aku?"
Alis Cloudy terangkat, menunjukkan rasa penasaran dan sedikit kebingungan.
Sementara itu, di tempat lain, Sheza merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kecilnya. Kenangan akan pertemuan-pertemuannya dengan Mahveen kembali bermunculan. Setiap kali bertemu Mahveen, jantungnya berdebar kencang, rasanya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.
Sheza yakin, di lubuk hatinya yang terdalam, ia masih sangat mencintai Mahveen. Namun, apa daya? Karena ia telah kembali ke masa lalu dan mengubah jalan cerita, Sheza hanya bisa pasrah menerima takdirnya. Ia merasa tak berdaya mengubah keadaan.
Saat tengah melamun, dering ponselnya membuyarkan lamunannya. Sheza mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Setelah melihat nama penelepon, ia mengubah posisi menjadi duduk dan menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Kak?" sapa Sheza.
"Hei, kamu pulang ke rumah 'kan selama liburan?" tanya Saila.
"Iya, pulang," jawab Sheza.
"Kapan? Kakak bakal langsung pesan tiketnya," tawar Saila.
"Hm, Sheza akan pulang malam ini. Oh iya, Kak, aku..." Sheza tiba-tiba berhenti bicara. Ia ragu-ragu, sedang menimbang-nimbang apakah harus memberitahu Saila tentang prestasi yang baru saja ia raih. Masuk peringkat dua ratus besar bukanlah hal yang mudah baginya. Dulu, ia selalu berada di peringkat paling bawah. Prestasi ini merupakan pencapaian terbesar dalam hidupnya.
Saila menyadari Sheza tiba-tiba terdiam. "Ada apa?" tanyanya dengan lembut, menunjukkan rasa perhatiannya.
"Hm... nggak ada," jawab Sheza sambil tersenyum tipis. Ia memutuskan untuk memberi tahu keluarganya setelah sampai di rumah nanti.
Saila mengalihkan pembicaraan. "Gimana sama obat-obatan yang Kakak kirim? Masih ada, kan?"
"Um, masih ada kok," jawab Sheza.
Saila mengangguk lega. "Jangan lupa diminum secara rutin. Setelah kamu pulang nanti, kita akan cek lagi ke dokter, semoga aja ada perkembangan yang lebih baik,"
"Iya, Kak. Lagian Sheza juga bakal pulang kok," jawab Cloudy, suaranya terdengar tenang.
"Um, ya udah, Kakak tutup teleponnya ya. Nanti Kakak kabari lagi," ujar Saila.
"Iya," sahutnya singkat sebelum panggilan telepon langsung terputus.
Sheza duduk termenung di tepi ranjang, pandangannya kosong. Tangannya terangkat, perlahan mengelus perutnya yang rata. Ia berharap sakit ini, baik fisik maupun batin, akan segera hilang. Ia tak ingin kembali merasakan pengalaman mengerikan itu, tak ingin rahimnya diangkat untuk kedua kalinya. Bayangan operasi dan rasa sakitnya masih begitu nyata.
Meskipun kemungkinan untuk menikah dengan Mahveen masih belum pasti, bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi, Sheza tetap bertekad untuk melahirkan anak dari suaminya nanti. Ia ingin merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu, merasakan ikatan batin dengan buah hatinya.
Saat Sheza sedang duduk termenung, pintu kamar mereka terbuka dari luar. Cloudy masuk dan segera menutup pintu di belakangnya. Ia melihat Sheza yang terlihat murung, lalu menghampirinya dan duduk di samping Sheza.
"Sheza? Kamu kenapa?" tanya Cloudy dengan nada khawatir.
Sheza tersentak dari lamunannya. Ia tersenyum kecil, sedikit dipaksakan, lalu menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Kamu pulang 'kan, kapan?" tanya Cloudy, suaranya lembut.
Sheza mengangguk. "Aku pulang malam ini. Jam berapa bus ke desa kamu berangkat?"
"Sore ini," jawab Cloudy. "Sheza, mau makan siang bareng di luar? Ayo, tiba-tiba aku pengen banget makan hot pot!"
Mata Sheza berbinar. Ia mengangguk dengan semangat. Kebetulan sekali, ia juga sedang lapar.
Setelah berganti pakaian, mereka berdua berjalan-jalan santai di pinggir trotoar, suasana hati mereka sedang gembira. Restoran hot pot China yang menjadi tujuan mereka terletak tidak jauh dari tempat mereka berada, hanya butuh waktu sekitar lima menit berjalan kaki untuk sampai di sana.
Sesampainya di restoran, aroma harum rempah-rempah dari hot pot langsung menyambut mereka. Aroma tersebut menggugah selera makan mereka. Mereka memilih meja di sudut ruangan, sebuah tempat yang cukup nyaman dan tenang. Setelah pelayan datang, mereka memesan hot pot porsi lengkap. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berdua asyik berbincang-bincang tentang rencana liburan mereka di rumah.
Obrolan mereka berlangsung seru dan menyenangkan, sampai-sampai mereka tidak menyadari kehadiran seseorang yang mendekat. Sebuah bayangan tinggi menjulang di atas meja mereka, menutupi sebagian cahaya matahari. Kedua gadis itu secara bersamaan mendongak, menatap sosok tinggi yang kini berdiri di hadapan mereka.
"Hai, boleh gabung?" Suara yang ramah memecah kesunyian.
***
BERSAMBUNG...
Semoga lanjutan novel ini nggak ngebosenin ya. Maaf kalo updatenya mungkin agak lama, atau bisa jadi cepet. Semua tergantung ide dan waktu 🤧
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED DESTINY [TAMAT]
RomanceGenre: Fantasi - Romance Rilis: Juni 2022 Republish: 13 November 2024 Finish: 8 Mei 2025 _________ Sheza merasa terbebani oleh rasa bersalah terhadap Mahveen. Ketika mendapat kesempatan kembali ke masa lalu, niat awalnya untuk membuat Mahveen memben...
![CHANGED DESTINY [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/314735105-64-k999188.jpg)