D u a P u l u h T i g a
'Amnesia Disosiatif'
***
"Mama huwaaa..." gema tangisan Dega terdengar dari lantai atas. Sheza yang sedang memasak di dapur, mendengar tangisan putranya. Spontan, ia melempar spatula yang dipegangnya dan berlari ke lantai dua dengan panik.
Dega duduk di atas ranjang sambil menangis keras, seolah-olah ia telah ditinggalkan Sheza. Melihat Dega menangis, Sheza langsung menghampiri putranya dan mengangkatnya ke dalam gendongannya. Ia menenangkan Dega dengan lembut, mengusap punggungnya dan membisikkan kata-kata penghiburan.
Sejak hubungan Dega dan Sheza membaik, Dega bak magnet yang selalu mencari Sheza. Ia tak pernah ingin Sheza hilang dari pandangannya. Mencari Sheza menjadi aktivitasnya sepanjang waktu. Jika tak menemukan Sheza, tangisannya akan langsung pecah.
Sheza tentu senang bukan main, hatinya penuh dengan kebahagiaan melihat Dega sudah melekat padanya. Namun, Mahveen sedikit merasa "ditinggalkan". Perhatian Sheza kini sepenuhnya tertuju pada Dega. Bahkan, Delius dan Gracia sempat protes—meski hanya bercanda—"Mama, kita juga butuh perhatian, lho!" Mereka sedikit cemburu karena Dega begitu melekat pada Sheza.
Suasana rumah kembali ramai dan penuh kegembiraan. Setiap kali Delius dan Gracia pulang sekolah, gema gelak tawa memenuhi seluruh ruangan. Bahkan Mahveen, yang akhir-akhir ini kelelahan karena pekerjaan, merasa segar kembali setiap kali melihat seluruh keluarga kecilnya berkumpul. Rumah yang tadinya sunyi dan dipenuhi kekhawatiran, kini dipenuhi dengan keceriaan. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Mahveen daripada melihat Sheza yang akhirnya bangun dari komanya. Keluarga kecilnya kini utuh kembali.
"Nyonya, ikannya hangus," lapor pembantu rumah tangga yang berusia tiga puluhan itu sambil mengambil ikan gosong itu dan menaruhnya di atas piring. Dega yang digendong Sheza memeluk leher ibunya erat-erat dan menirukan, "Mama ikannya anguch," ucapnya dengan pelafalan yang masih lucu.
Sheza tertawa. Ia menunjuk ke arah Dega dan bertanya, "Hm? Ini salah siapa ya yang menangis tadi?"
Dega menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Ga nggak menagich Mama," bantahnya sambil memeluk Sheza lebih erat. Sheza kembali tertawa.
"Iya, iya. Dega anak yang kuat, mana mungkin menangis," kata Sheza pada Dega, suaranya penuh kasih sayang. Lalu ia beralih pada Yarti, "Yarti, kamu lanjutkan aja ya memasaknya. Nanti panggil saya kalau udah selesai."
"Baik, Nyonya," jawab pembantu itu bernama Yarti. Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sheza mengalihkan perhatiannya kembali pada Dega, mencium pipi gembul putranya itu dengan gemas.
Sheza kembali ke ruang tamu bersama Dega. Saat hendak duduk di sofa, bel pintu rumah berbunyi. Sheza ingin menurunkan Dega di sofa, namun Dega malah memeluk leher Sheza erat-erat, seolah tak mau dilepaskan. Sheza terpaksa mengendong Dega dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Begitu pintu terbuka, tubuh Sheza mematung. Ia terpaku di tempat, tatapannya tertuju pada dua orang yang berdiri di hadapannya. Kedua orang itu tampak lebih dewasa dari yang Sheza ingat. Wajah-wajah yang familiar, namun dalam versi dewasa.
"Degaaaa!" teriak beberapa anak, usia mereka sekitar 8 dan 6 tahun, dengan penuh semangat dan kegembiraan.
Dega tertawa lebar, gigi susunya yang rapi terlihat jelas. Ia tampak sangat gembira, tubuhnya menggeliat ingin turun dari gendongan Sheza saat melihat teman-temannya datang.
Sheza menurunkan Dega. Begitu Dega di tanah, anak-anak itu langsung berpegangan tangan dan berlari masuk ke dalam rumah dengan penuh gembira, suara tawa mereka bergema. Erdo dan Cloudy ingin menegur anak-anak mereka karena dianggap kurang sopan, namun anak-anak itu sudah berlari terlalu jauh ke dalam rumah. Sheza masih terpaku di tempat, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut dan tak percaya. Ia belum sepenuhnya mencerna.
"Boleh kami masuk?" tanya Cloudy dengan nada bercanda, mencoba untuk mencairkan suasana yang sedikit canggung.
Sheza langsung berhamburan memeluk Erdo dan Cloudy erat-erat. Air mata haru bercampur bahagia mengalir di pipinya. Ia tak menyangka Erdo dan Cloudy akan datang. Pertemuan ini begitu tak terduga setelah sekian lama mereka tidak bertemu.
**
Cloudy dan Erdo saling berpandangan bingung saat melihat Sheza memperhatikan mereka dengan penuh kecurigaan. "Kalian berdua.... udah nikah?" tanya Sheza menunjuk kedua sahabatnya.
Mereka berdua mengangguk, bingung. Cloudy bertanya, "Bukannya kamu udah tahu?"
Sheza juga ikut hadir di pesta pernikahan kedua sahabatnya. Kenapa tiba-tiba Sheza seolah baru tahu?
"Jadi kalian berdua saling suka ya? Sejak kapan?" tanya Sheza lagi semakin membuat dahi Cloudy dan Erdo mengerut semakin dalam.
"Tunggu!" kata Cloudy menyela, "Maksud kamu, kami berdua menikah? Bukan! Bukan! Aku punya suami dan dia punya istri,"
"Hah?!" kali ini Sheza yang semakin di buat bingung.
Cloudy menghela napas dan berkata, "Kamu bangun dari koma dan amnesia? Aku kakak iparmu, Sheza. Aku menikah dengan Kak Derick, kakak Mahveen. Apa kamu lupa?"
Erdo di samping mengangguk. "Aku menikah dengan Riella, kamu datang ke pernikahan kami, kamu juga nggak ingat?"
"Riella?" Sheza mengerutkan kening, nama itu terdengar familiar, namun ia tak dapat mengingat siapa orangnya. Cloudy langsung menjelaskan, "Pembully di sekolah. Ketua geng Zayna, yang membully Erdo di kantin, ingat?"
Mata Sheza berkedip cepat, seolah-olah sebuah kenangan muncul di benaknya. Ia langsung menutup mulutnya yang menganga dengan ekspresif, terkejut dan tak percaya. Melihat reaksi Sheza, Erdo langsung tertunduk malu, merasa sedikit canggung dengan masa lalunya.
"Kamu menikah dengan si pembully itu? Gimana bisa?" tanya Sheza, suaranya dipenuhi rasa tak percaya dan heran. Ia masih ingat kejadian pembullyan itu dengan jelas. Setelah kejadian itu, Riella pindah sekolah dan geng pengganggunya bubar. Ia tak pernah menyangka Riella akan menikah dengan Erdo.
"Kami dijodohkan," jawab Erdo, sedikit malu-malu. Ia pun tak menyangka akan dijodohkan dengan Riella. Setelah ia mengambil alih perusahaan keluarganya, ternyata keluarga Erdo bersahabat dengan keluarga Riella. Perjodohan itu terjadi begitu saja.
Meski awalnya Riella menolak Erdo, melihat perubahan Erdo yang begitu drastis setelah beberapa tahun berpisah, Riella justru jatuh hati. Perubahan itu membuat Riella melihat Erdo dari sisi yang berbeda. Perasaan itu ternyata berbalas. Erdo pun jatuh cinta pada Riella. Akhirnya, mereka menikah dan dikaruniai dua orang anak. Anak laki-laki berusia 8 tahun itu adalah anak bungsunya. Anak perempuan Riella yang lain seusia dengan Delius, dan mereka berteman dekat.
"Tunggu dulu! Berarti kita keluarga?" tanya Sheza fokus lagi pada perkataan Cloudy. Cloudy mengangguk.
"Oh ya? Gimana kalian bisa bertemu?"
Mendengar pertanyaan Sheza, Cloudy dan Erdo kembali saling berpandangan dengan kebingungan. Mengapa tiba-tiba Sheza tidak ingat pada masa lalu mereka? Apa dia pura-pura? Tapi mengingat Sheza yang kala itu koma, Cloudy, sebagai dokter sedikit memaklumi dan menjawab santai.
"Dia adalah mentor ku saat aku koas. Kami bertemu setiap hari dan yah, kami jatuh cinta begitu aja,"
Erdo mengernyit. Masih merasa aneh dengan pertanyaan Sheza. "Sheza kamu ingat aku, 'kan?"
Sheza berkedip lalu mengangguk.
"Kamu ingat siapa suami dan anak-anak mu, 'kan?"
"Pertanyaan aneh apa itu, Erdo?" kata Sheza sambil menghela napas.
"Kamu... seperti orang amnesia,"
"Iya, kata dokter aku mengalami amnesia disosiatif yang di sebabkan karena kecelakaan. Tapi itu cuma ingatan beberapa tahun yang hilang, jadi aku masih ingat sebagian," jelas Sheza membuat Erdo ternganga.
"Tapi yang penting aku baik-baik aja, kan?" tambah Sheza menenangkan kedua sahabatnya.
●●●
BERSAMBUNG....
Note: Pengen bikin End, tapi endingnya belum sesuai 🤣
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED DESTINY [TAMAT]
RomansaGenre: Fantasi - Romance Rilis: Juni 2022 Republish: 13 November 2024 Finish: 8 Mei 2025 _________ Sheza merasa terbebani oleh rasa bersalah terhadap Mahveen. Ketika mendapat kesempatan kembali ke masa lalu, niat awalnya untuk membuat Mahveen memben...
![CHANGED DESTINY [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/314735105-64-k999188.jpg)