T u j u h B e l a s
'Aku Masa Depan Dan Masa Kini Orang Yang Sama'
🥀🥀🥀
Mata Sheza berkedip cepat saat mereka memasuki perkarangan rumah mewah. Rumah tiga lantai itu bergaya modern minimalis dengan dinding berwarna putih bersih dan jendela-jendela kaca besar yang memberikan kesan luas dan lapang. Struktur bangunannya simetris dan terlihat kokoh, dengan atap datar yang simpel.
Halaman depan yang luas ditanami rumput hijau terawat rapi, dihiasi beberapa pohon rindang dan tanaman hias yang tertata indah. Kolam renang berbentuk persegi panjang terlihat dari kejauhan, airnya berkilauan di bawah sinar matahari. Bahkan saat motor Mahveen berhenti di depan garasi yang cukup besar untuk menampung beberapa mobil, Sheza masih melamun sambil menatap sekeliling dengan bingung.
"Ayo," ajak Mahveen sambil meletakkan helmnya di atas motor. Namun Sheza tidak bergerak. Gadis itu seakan terperangah dengan kemewahan rumah Mahveen.
"Ada apa?" tanya Mahveen lagi.
Sheza turun dari motor. Dia berdiri di hadapan Mahveen lalu dengan suara rendah, dia bertanya, "Ini... rumah kamu?"
Di kehidupan sebelumnya, Mahveen belum pernah mengajak Sheza ke rumahnya dan bertemu seluruh keluarga Mahveen. Hanya setelah beberapa tahun menikah, Sheza bertemu keluarga Mahveen, namun tentu saja Sheza tidak pernah di gubris keberadaannya karena mereka tidak menyukainya.
Setelah mendengar pertanyaan Sheza, Mahveen pikir Sheza mungkin takut akan penolakan orang tuanya. Jadi dia melangkah maju lebih dekat, dengan pelan membuka helm Sheza, lalu merapikan rambut gadis itu dengan lembut. "Jangan khawatir, kalau mereka menentang hubungan kita lagi, aku juga akan melakukan hal yang sama,"
Sheza menggeleng cepat. "Veen, kamu terlalu mengambil resiko."
"Dengar, aku yang di masa depan dan aku yang sekarang adalah orang yang sama. Meski pun berkali-kali mengalami penolakan, aku akan tetap melakukan yang sama, jadi kamu jangan takut, aku ada di pihak kamu, oke?"
"Tapi..."
Mahveen meletakkan helmnya di atas motor. Dia memegang tangan Sheza, menyelipkan jemari mereka hingga saling bertaut. Dia menatap dalam mata Sheza, lalu menganggukkan kepala untuk meyakinkan Sheza.
Tangan Sheza terasa dingin dan berkeringat. Langkah kakinya terasa berat, detak jantungnya berdebar kencang. Ia gugup sekali, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. Ini adalah pertama kalinya ia akan bertemu dengan keluarga Mahveen sebelum mereka menikah, dan bayangan itu membuatnya semakin cemas.
Namun, Mahveen dengan perlahan menuntunnya, jari-jari tangannya yang hangat menggenggam tangan Sheza dengan lembut, memberikan ketenangan dan kekuatan. Sentuhan Mahveen berhasil meredakan sedikit kegugupannya. Mereka memasuki rumah yang besar dan mewah itu, di dalam terlihat kosong dan sunyi. Mahveen terus menuntunnya menuju sebuah ruangan dimana keluarga Mahveen biasa berkumpul.
"Aku pulang," kata Mahveen dengan suara tegas.
Mereka masuk ke dalam ruangan, dan seketika suara Mahveen membuat seluruh keluarganya yang sedang duduk di sofa, melingkar, menoleh ke arah mereka. Sheza merasakan tatapan mereka semua, dan ia semakin gugup. Mahveen merasakan Sheza menggenggam tangannya erat-erat, merasa sangat gugup dan takut. Dengan lembut dan hangat, Mahveen mengelus punggung tangan Sheza dengan ibu jarinya, memberikan isyarat untuk menenangkan dan memberinya dukungan.
Mata Sathia-Mama Mahveen-tertuju pada tangan Mahveen dan Sheza yang saling berpegangan. Sheza merasakan tatapan itu dan secara refleks ingin menarik tangannya. Namun, Mahveen menggenggamnya dengan erat, tidak membiarkan Sheza melepaskan genggamannya.
Marcell-Papa Mahveen-tampak berekspresi biasa saja, sedangkan Damian (kakak laki-laki Mahveen) duduk dengan santai sambil memandangi mereka berdua. Derick-kakak laki-laki Mahveen yang lain, kembaran Damian-tidak hadir, sepertinya masih ada tugas di rumah sakit. Mahveen tampak tenang, ia menarik Sheza lebih dekat ke sisinya dan memperkenalkan Sheza kepada mereka.
"Ini Sheza, gadis yang aku bicarain waktu itu," katanya pada keluarganya. Lalu dia menoleh ke Sheza dan memperkenalkan mereka, "Mereka adalah keluargaku. Mama, Papa dan Kak Damian. Kak Derick mungkin lagi sibuk di rumah sakit,"
Sheza menelan ludah gugup. Ia memperhatikan tatapan mereka satu per satu lalu mengangguk sebagai sapaan, "Ha-hallo, s-saya Sheza," suaranya sedikit gemetar.
"Mahveen, kamu melarang Mama untuk menyelidiki gadis yang dekat dengan kamu. Dan kamu malah dengan berani mengajaknya datang ke rumah kita tanpa seizin siapa pun?" tanya Sathia dengan wajah tegas, suaranya terdengar tajam.
"Ma, Sheza adalah..." Mahveen ragu sejenak, mencari kata yang tepat. Sheza semakin gugup, jari-jarinya mengepal erat.
"Dia adalah... orang yang sangat berarti bagiku," Mahveen akhirnya menyelesaikan kalimatnya, tatapannya penuh keyakinan.
"Berarti? Jelaskan dengan jelas!" Sathia masih belum puas. Damian hanya mengamati dari kejauhan, sesekali melirik ke arah Sheza yang tampak semakin ketakutan. Marcell, sang Papa, tetap diam, mengamati situasi dengan tenang.
"Ma, aku mencintai Sheza," Mahveen akhirnya mengatakannya dengan lantang, tatapannya langsung ke arah ibunya.
"Cinta? Kamu baru aja kenal dia, Mahveen!" Sathia membentak, nada suaranya penuh emosi.
"Cinta itu nggak mengenal waktu, Ma. Aku tahu ini mungkin mengejutkan, tapi aku serius. Aku mencintai Sheza dan aku ingin kalian menerimanya," Mahveen berkata dengan penuh keyakinan, genggaman tangannya pada Sheza semakin erat. Sheza, yang semula sangat gugup, mulai merasa sedikit tenang karena dukungan Mahveen. Ia menatap Mahveen dengan mata berkaca-kaca.
Sathia terdiam di tempat. Dia menarik napas dalam-dalam, seolah menenangkan diri. Dia berdiri dari sofa dan berkata, "Lebih baik kita makan dulu," ajaknya kemudian berjalan melewati Sheza dan Mahveen yang berdiri di dekat pintu.
Setelah kepergian Sathia, ruangan itu menjadi sunyi. Damian mengamati adiknya dan Sheza, dia berdiri dari sofa dan berkata, "Suasana hati Mama agak buruk, jadi jangan tersinggung."
Marcell ikut berdiri dari sofa. Dia berjalan ke arah mereka, lalu memandangi keduanya secara bergantian. "Sheza, 'kan? Jangan merasa takut, Mama Mahveen hanya merasa sedikit cemburu karena putra bungsunya dekat dengan gadis lain."
Meskipun Marcell memiliki niat untuk menghibur, namun Sheza tidak merasa demikian.
Ruang makan hening. Hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu sesekali terdengar. Sheza tidak banyak bicara, ia menunduk dengan tenang, menikmati makanan yang Mahveen ambil untuknya.
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" tanya Sathia, suaranya tenang namun tajam. Mahveen menaruh udang yang telah ia kupas di piring Sheza. Lalu, dengan tenang dan penuh keyakinan, ia menjawab, "Aku akan menikahi Sheza setelah kami lulus."
Pernyataan Mahveen bagaikan bom yang meledak di ruang makan. Keheningan seketika sirna. Sendok dan garpu yang tadinya beradu dengan tenang kini terjatuh, membuat suara bantingan yang cukup keras. Sathia ternganga, mulutnya terbuka sedikit, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Marcell, yang selama ini tampak tenang, kini mengerutkan kening, tampak bingung dan terkejut. Damian, yang sebelumnya tampak santai, kini duduk tegak, matanya melebar tak percaya. Suasana menjadi tegang, dipenuhi oleh keheningan yang diselingi oleh suara napas mereka yang tercekat.
Sheza, yang semula tenang, kini merasa jantungnya berdebar kencang, dia sama terkejutnya dengan kata-kata Mahveen. Mereka bahkan belum berdiskusi saat Mahveen tiba-tiba berkata demikian.
"Mahveen! Apa-apaan kamu ini?" bentak Sathia tak terima.
Mahveen masih dengan tenang menjawab, "Aku nggak minta pendapat kalian. Aku cuma ngasih tahu, karena keputusan itu akan aku putuskan sendiri. Suka atau pun enggak, aku udah mengambil keputusan itu."
***
BERSAMBUNG...
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED DESTINY [TAMAT]
RomansaGenre: Fantasi - Romance Rilis: Juni 2022 Republish: 13 November 2024 Finish: 8 Mei 2025 _________ Sheza merasa terbebani oleh rasa bersalah terhadap Mahveen. Ketika mendapat kesempatan kembali ke masa lalu, niat awalnya untuk membuat Mahveen memben...
![CHANGED DESTINY [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/314735105-64-k999188.jpg)