S e m b i l a n B e l a s
'Sampai Jumpa di Masa Depan'
💐💐💐
Sheza dan Mahveen memperhatikan Delius makan dengan lahap, sesekali menyunggingkan senyum, seolah suasana hatinya sedang membaik. Mereka berdua tertegun sejenak, merasa bingung dengan perilaku Delius.
Sheza menyenggol-nyenggol kaki Mahveen di bawah meja, memberi isyarat agar Mahveen bertanya kepada Delius. Seolah menerima isyarat tersebut, Mahveen berdeham sejenak untuk menarik perhatian Delius, lalu bertanya, "Kenapa lo tiba-tiba ajak gue dan Sheza ketemuan?"
Delius yang sedang fokus menikmati makanannya, mengangkat matanya dan menatap Mahveen serta Sheza secara bergantian. "Hm? Kenapa?" Delius balik bertanya dengan polos.
"Gue sama lo nggak saling kenal," tekan Mahveen lagi memperjelas hubungan mereka.
Delius menelan sisa makanan di mulutnya dan terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu. Sheza dan Mahveen saling berpandang bingung.
"Habis ini, nonton film?" ajak Delius tiba-tiba membuat mereka herdua kembali tertegun. Mahveen mengepalkan tangannya di atas meja karena kesal. Sheza yang melihat Mahveen sepertinya akan marah, langsung menengahi.
"Oke, oke, tenang. Delius, maaf, kayaknya kita perlu meluruskan sesuatu." Kata Sheza, "Sebenarnya bukan nggak boleh, tapi maksud aku sama Mahveen, kita ini nggak saling kenal, jadi..."
"Aku kenal kalian," potong Delius tenang. "Kamu Mahveen, dan kamu Sheza,"
Kata-kata Delius kembali meningkatkan emosi Mahveen. Sheza sampai harus menggenggam tangan Mahveen untuk menenangkan pemuda itu.
"Oke, Delius. Jadi tujuan kamu ajak kita ketemuan apa? Aku pikir, kita cuma pergi berdua. Aku nggak tahu kalau kamu tiba-tiba ajak Mahveen untuk ikut,"
"Lebih rame, lebih seru, 'kan?" jawab Delius. "Lagian aku nggak punya temen buat di ajak seru-seruan, jadi nggak apa-apa, 'kan?"
"Eum... i-iya, nggak apa-apa kok kalau kamu maunya begitu,"
"Lo masih belum jelasin siapa diri lo sebenarnya. Kenapa lo tiba-tiba jadi sok kenal sama Sheza dan gue?" sela Mahveen meledak.
"Bukannya aku udah jelasin kalau aku kenal kalian?" Delius masih bersikukuh dengan jawaban yang sama membuat Mahveen mau tak mau mengalah dan menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Udah, jangan ribut. Kita makan aja, habis ini kita mau nonton apa?" katanya pada Mahveen lalu bertanya pada Delius.
"Stranger of you, My Bodyguard, The Dark, atau Gulf? Pilih yang mana?"
Mata Sheza berkedip saat Delius menyebutkan satu per satu film yang tidak pernah Sheza dengar sama sekali. Dia memang penyuka film, tapi... dia tidak pernah mendengar judul itu sebelumnya.
"Tapi... apa itu film baru? Aku nggak pernah dengar sebelumnya," jawab Sheza jujur.
"Iya, film-film itu trending di tahun-" Delius langsung menutup mulutnya saat dia sadar apa yang baru saja ia katakan. Dia tersedak karena kaget. Mahveen hanya mendengar dengan enggan sambil sesekali memakan shabu-shabu yang di pesan Delius untuk mereka.
"Tahun berapa?" desak Sheza penasaran.
Setelah meneguk segelas air, Delius yang pulih dari batuknya akhirnya menggelengkan kepala. "Hm, ayo pilih aja film terbaru di tahun ini,"
"Hm, oke."
•••
Setelah makan malam, mereka bertiga pergi menuju bioskop. Sheza memilih film yang menurutnya cocok untuk ditonton bersama. Mahveen membeli dua bucket popcorn, satu untuk dirinya dan Sheza, serta dua gelas cola.
Namun, saat film baru dimulai, Delius yang tampak fokus menikmati film, tanpa sadar mengambil popcorn Sheza yang duduk di tengah. Mahveen yang melihat hal itu merasa kesal. Ia meminta Sheza untuk pindah ke kursinya, sementara Mahveen sendiri duduk di tengah untuk memisahkan Delius dan Sheza.
Sepanjang film, Delius tertawa terbahak-bahak, saat ketakutan dia akan bersembunyi di belakang bahu Mahveen. Mahveen sampai harus mendorong Delius berkali-kali agar menjauh namun dia tetap menempel pada Mahveen. Untungnya Mahveen merasa lega karena Sheza pindah. Jika tidak, dia pasti akan terbakar api cemburu karena Delius menempel pada Sheza.
Setelah selesai menonton film, Delius mengajak Mahveen dan Sheza untuk bermain di mesin capit. Awalnya Mahveen ingin menolak, namun sebuah ingatan tentang Erdo yang memberikan boneka kepada Sheza saat mereka bermain capit muncul di pikirannya. Ingatan itu membangkitkan jiwa kompetitif Mahveen. Ia ingin menunjukkan kemampuannya dalam bermain capit.
Mahveen mengiyakan ajakan Delius dan mereka pun mulai bermain. Sheza hanya menonton dari samping, memperhatikan Mahveen yang fokus menggerakkan capit untuk mendapatkan boneka kecil di dalam mesin. Delius di sampingnya memberikan semangat dengan heboh, sesekali memberikan saran dan komentar. Sheza tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Saat Mahveen berhasil mendapatkan boneka dari mesin capit, Delius dengan sigap dan cepat mengambil boneka tersebut. Ia melompat-lompat kegirangan, seperti mendapat hadiah besar. Mahveen merasa kesal karena bonekanya diambil, dia ingin merebut kembali boneka itu. Namun, Sheza mencegah, sambil tersenyum lembut.
"Boneka itu..." kata Mahveen kesal.
"Nggak apa-apa. Toh kamu masih bisa kasih ke aku lain kali,"
"Tapi..."
Sheza menepuk pundak Mahveen, menenangkan. Mahveen mau tak mau menghela napas pasrah. Meski telah susah payah mengambil, karena Sheza menenangkannya, Mahveen berusaha untuk pasrah.
Mereka pulang dengan berjalan kaki menyusuri pedestrian. Sepanjang jalan, Sheza dan Mahveen memperhatikan Delius yang tampak kegirangan sambil memeluk erat boneka hasil kemenangan Mahveen dari mesin capit.
Delius sesekali tertawa sendiri, menunjukkan betapa bahagianya ia. Sheza hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah Delius yang seperti anak kecil. Ia juga menenangkan Mahveen yang tampak sedikit kesal dan kepanasan karena melihat Delius begitu menikmati "bermain" mereka hari itu .
Lampu-lampu di sepanjang pedestrian memberikan penerangan yang cukup. Udara malam yang sejuk berhembus lembut, untungnya Sheza memakai pakaian yang cukup sehingga dia tidak merasa kedinginan. Mahveen tiba-tiba merangkul pundak Sheza, membuat Sheza tersentak kaget.
"Lain kali, ayo kencan berdua?" Mahveen berbisik di telinga Sheza. Hembusan napas Mahveen yang mengenai telinga Sheza membuat Sheza sedikit geli. Sheza tersipu malu. Ia merasa jantungnya berdebar lebih cepat.
"Kalian ngapain?" tanya Delius tiba-tiba berbalik dan melihat pemandangan itu dengan kaget.
Mahveen memutar bola matanya malas. "Bukan urusan lo, yuk sayang," Mahveen menarik Sheza pergi meninggalkan Delius yang mematung di tempat.
Delius melihat punggung mereka yang perlahan menjauh di bawah kegelapan malam. Dia terdiam cukup lama sebelum sebuah senyuman terukir di bibirnya. Kemudian dengan suara pelan dia berkata, "Sampai jumpa di masa depan, Ma, Pa,"
Sedetik kemudian, pandangan Delius mulai memburam. Dunia di sekitarnya seakan tertutup oleh kabut tipis. Ia merasa sangat mengantuk, seperti tertimpa kelelahan yang luar biasa. Sebuah dengungan aneh mulai terdengar di telinganya, semakin lama semakin keras, menciptakan sensasi berdenging yang mengganggu pendengarannya. Tubuhnya terasa lemas dan berat, seperti kehilangan seluruh tenaganya. Ia berusaha untuk tetap tegak, namun tubuhnya tak mampu lagi menopang dirinya.
Tak berapa lama kemudian, pandangan Delius menjadi gelap dan dia tidak sadarkan diri.
●●●
BERSAMBUNG
Note: Sama seperti novel sebelah, novel ini bakalan saya tamatin juga bulan ini 😆 meskipun alurnya tambah ngawur, semoga kalian tetap setia sampai cerita ini tamat.
TERIMAKASIH!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED DESTINY [TAMAT]
RomanceGenre: Fantasi - Romance Rilis: Juni 2022 Republish: 13 November 2024 Finish: 8 Mei 2025 _________ Sheza merasa terbebani oleh rasa bersalah terhadap Mahveen. Ketika mendapat kesempatan kembali ke masa lalu, niat awalnya untuk membuat Mahveen memben...
![CHANGED DESTINY [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/314735105-64-k999188.jpg)