D u a P u l u h Satu
'Ingatan Yang Samar-Samar'
***
Setelah beberapa hari memantau kesembuhan Sheza di rumah sakit, akhirnya hari ini Sheza diperbolehkan pulang. Keluarga besar mereka berkumpul di rumah Sheza, membawa serta Dega, bayi berusia dua tahun, untuk menyambut kepulangan sang Ibu.
Sheza tak dapat menahan air matanya saat melihat Dega tumbuh dengan baik meskipun selama ini tidak berada dalam perawatannya langsung. Dega, yang sudah bisa berjalan, diturunkan ke lantai oleh Sathia. Yang mengejutkan, balita itu malah berlari kecil menuju Mahveen, bukan ke arah Sheza.
Mungkin karena selama ini Sheza tidak bersamanya, tapi mereka selalu membawa Dega untuk di pertemukan dengan ibunya.
Dega memeluk kaki Mahveen, sambil memandangi Sheza dengan tatapan penasaran. Namun, ia tampak ragu dan tidak berani mendekat, seolah Sheza masih terasa asing baginya. Sheza mengusap air mata di pipinya, sambil tertawa geli melihat tingkah Dega yang lucu.
Anak ketiganya itu memang menggemaskan, dengan pipi gembul, bibir mungil, mata besar dan jernih. Wajah Dega merupakan perpaduan sempurna antara Mahveen dan dirinya.
"Sayang, ini Mama," ucap Mahveen sambil menunjuk ke arah Sheza. Ia mencoba memperkenalkan Sheza kepada Dega.
Sheza berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Dega. Ia tersenyum ramah dan berkata, "Sayang, ini Mama. Ayo sayang, kesini,"
Pelukan Dega di kaki Mahveen mengendur sedikit, namun balita mungil itu masih belum bergerak. Ia hanya menatap Sheza dari jauh, seperti sedang mengamati dengan seksama.
"Nggak apa-apa," kata Sathia menenangkan Sheza. "Dega masih kecil, jadi dia belum terlalu ngerti. Pelan-pelan, nanti dia juga bakal kenal sama Ibunya."
Sheza yang sedari tadi fokus pada Dega, mengangkat pandangannya ke arah Sathia. Saat tatapan mereka bertemu, mata Sheza melebar karena terkejut. Namun, Sathia tampak lebih tenang dan tersenyum ramah kepada Sheza.
"Mahveen, bawa istri kamu dulu ke kamar. Pembantu udah siapin makanan buat kita semua," kata Sathia, memberi instruksi.
"Iya, Ma," jawab Mahveen. Ia lalu menarik tangan Sheza untuk berdiri. "Ayo, istirahat dulu," ajaknya dengan lembut.
Marcell, Ayah Mahveen, mengangkat Dega dan menggendongnya. Kedua anak Mahveen dan Sheza yang lain masih bersekolah dan tidak diizinkan membolos hanya untuk menjemput Sheza di rumah sakit.
Mahveen membawa Sheza ke kamar mereka. Sheza yang masih tampak linglung duduk di tepi ranjang. Ia terdiam cukup lama, dengan pandangan kosong yang membuat Mahveen khawatir.
"Ada apa, sayang?" tanya Mahveen lembut, ia duduk di samping Sheza.
Sheza menoleh, tatapan matanya masih kosong. Dengan suara bergetar, ia bertanya, "M-Mama kamu... dan Papa kamu... kenapa mereka di sini?"
Mahveen menaikkan sebelah alisnya, tampak bingung. "Kenapa mereka di sini? Ya jelas, mereka mau nyambut kepulangan menantu mereka." Jawabnya sedikit heran.
"Tapi... bukannya hubungan kita nggak direstuin? Maksudku... waktu itu, Mama kamu marah besar karena kamu tiba-tiba ngaku bakal nikah habis lulus." Sheza masih merasa ragu dan sedikit takut.
"Iya... itu bener. Tapi setelah itu mereka setuju," jawab Mahveen santai.
"Hah? Maksud kamu?" Sheza semakin bingung.
Mahveen yang tiba-tiba bingung karena perkataan Sheza menjelaskan lagi, "Sayang, apa kamu lupa? Setelah seminggu aku berjuang mati-matian untuk ngebujuk mereka karena kamu nggak akan menikah tanpa restu mereka. Dan setelah seminggu itu mereka akhirnya setuju, kita nikah setelah lulus."
"Itu..." Sheza menggigit bibirnya tidak yakin. Tapi entah mengapa rasanya dia melupakan bagian itu.
Saat mereka sedang mengobrol, nada dering ponsel Mahveen tiba-tiba berbunyi, memotong pembicaraan mereka. Mahveen melihat ID penelepon di layar ponselnya sebelum menjawab panggilan tersebut.
"Iya, Ma, kami udah di rumah."
"........"
"Baik-baik aja, Mama jangan khawatir,"
"........."
Mahveen melirik Sheza yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung. Lalu dia menjawab pada orang di ujung telepon, "Ehm, nggak apa-apa, Ma. Lagian Sheza udah sembuh total. Nanti kalau Mama dan Kak Saila udah pulang, kabari Mahveen aja."
"........."
"Eum, iya, Ma. Sampai jumpa," setelah panggilan terputus, Mahveen kembali mengalihkan atensinya kepada sang istri. Lalu sambil mengusap rambut Sheza, Mahveen berkata, "Mama berhasil dengan operasinya. Minggu depan, setelah sembuh, mereka akan balik ke Indonesia,"
"Mama?" ulang Sheza dengan bingung. "Mama siapa?"
"Mama Venya, Mama kamu." Jawab Mahveen merasa geli dengan pertanyaan itu.
"Bukannya... mereka... mereka meninggal karena kecelakaan?" tanya Sheza takjub.
Ekspresi Mahveen seketika menegang. Dia menatap Sheza dengan penuh tanda tanya. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya dengan penuh kehati-hatian, "Sayang, apa kamu juga lupa kapan Dega lahir?"
Sheza menggelengkan kepala, "Tanggal 17 Juni 20××" jawab Sheza dengan mudahnya.
"Terus sebelum tanggal itu, apa kamu ingat masa-masa kehamilan kamu?"
"Aku ingat semua. Makanan dan apa yang terjadi saat aku hamil Degan,"
"Beberapa tahun sebelum itu?"
Sheza yang awalnya tampak tenang, bahkan tersenyum geli, tiba-tiba menunjukkan ekspresi bingung. Ia berkedip beberapa kali, lalu menggelengkan kepala perlahan. Seakan ia baru menyadari sesuatu.
"Kamu juga lupa sama pernikahan kita?" tanya Mahveen memastikan.
Sheza terdiam sejenak. Ia tampak berpikir keras. Lalu, dengan suara pelan ia menjawab, "Aku ingat samar-samar. Tapi aku tahu kita udah nikah." Ia masih belum sepenuhnya mengingat detail pernikahan mereka. Ingatannya masih sedikit kabur.
"Beberapa tahun kemudian, apa kamu ingat apa yang terjadi? Maksudnya saat kita melakukan berbagai cara supaya kamu bisa hamil, sampai akhirnya kita menggunakan ibu pengganti, kamu ingat?"
"Entahlah. Tapi setelah Delius membahas soal Ibu pengganti, aku juga tanpa sadar menjawab. Apa kita benar-benar menggunakan Ibu pengganti untuk mendapatkan Delius dan Gracia?" tanya Sheza dengan polos.
Mahveen menarik napas dalam-dalam, merasa frustasi. Ia memijat sudut pelipisnya yang terasa berdenyut. Dari semua perkataan Sheza barusan, tampak jelas bahwa istrinya itu kehilangan sebagian ingatannya. Namun, ada beberapa memori samar yang masih tertinggal di ingatan Sheza. Yang lebih aneh lagi, Sheza menjawab pertanyaan Delius tanpa berpikir panjang, seperti hal yang biasa.
Mahveen masih tidak percaya. Sebelumnya, di rumah sakit, Sheza tampak baik-baik saja dan tidak ada tanda-tanda hilang ingatan. Apa sebenarnya yang terjadi pada istrinya?
***
BERSAMBUNG...
JENG! JENG! JENG! Tiba-tiba banget alurnya begini 🤣 suka-suka si otak ajalah mau bikin alur gimana.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED DESTINY [TAMAT]
RomanceGenre: Fantasi - Romance Rilis: Juni 2022 Republish: 13 November 2024 Finish: 8 Mei 2025 _________ Sheza merasa terbebani oleh rasa bersalah terhadap Mahveen. Ketika mendapat kesempatan kembali ke masa lalu, niat awalnya untuk membuat Mahveen memben...
![CHANGED DESTINY [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/314735105-64-k999188.jpg)