T i g a b e l a s
'Penantian Yang (Tidak) Sia-Sia'
🍁🍁🍁
Setelah percakapan mereka malam itu, Mahveen benar-benar menghilang. Ia tidak lagi menghubungi Sheza. Sheza selalu memegang ponselnya kemana pun ia pergi, bahkan selama liburan bersama keluarga. Ponsel itu tidak pernah lepas dari genggamannya, seolah ia terus menunggu notifikasi atau panggilan dari Mahveen.
Namun, hari-hari berlalu, dan Mahveen tidak juga menelepon atau mengirimi pesan. Saat Sheza bersiap kembali ke asrama setelah liburan usai, keheningan dari Mahveen membuatnya mengerti. Mungkin saja Mahveen menganggapnya konyol, menganggap perkataannya tentang masa depan itu hanyalah omong kosong. Sheza merasa sedikit kecewa, namun juga lega karena tidak lagi diganggu oleh panggilan-panggilan Mahveen yang membuatnya cemas. Ia berharap Mahveen dapat melupakan semuanya.
"Sayang, apa kamu sedih?" tanya Venya saat melihat putrinya menghela napas. "Nggak apa-apa, nanti Mama dan Papa akan sering-sering jengukin kamu. Terus, kalau mau mau sesuatu, bilang saja ke Kak Saila, nanti Papa dan Mama yang akan kirimin. Oke?"
Sheza mengangguk meski pun dia sedih bukan karena waktu liburan terlalu sebentar. Melainkan dia merasa kecewa karena Mahveen yang selalu terlihat percaya padanya tiba-tiba menganggapnya konyol. Namun Sheza mencoba melupakan semuanya. Lagi pula dia akan melupakan Mahveen.
"Sheza?" Saila memanggil saat Sheza hendak menaiki mobil. Dia berjalan menghampiri mereka dan menyelipkan tas kecil ke tangan Sheza. "Ini obat-obatan yang Kakak minta dari luar negeri. Katanya ini manjur."
"Tapi, Sheza 'kan udah dapat resep dari dokter,"
"Iya, tapi kamu juga butuh ini. Udah, jangan banyak tanya, ayo sana, nanti ketinggalan pesawat lho." Saila mendorong adiknya pelan untuk masuk.
Arliz dan Venya saling berpandangan. Mereka tersenyum bangga, kedua putrinya tampak akur akhir-akhir ini. Meski terlihat aneh, tapi mereka tak banyak bertanya.
"Oke, Ma, Pa, Sheza pergi dulu."
"Iya sayang, maaf kami nggak bisa temenin kamu ke Bandara. Oh iya, nanti jangan lupa kabarin Mama, Papa atau Kak Saila kalau udah sampai ya? Hati-hati sayang,"
Sheza masuk. Dia menganggukkan kepala dan melambaikan tangan kepada keluarganya. Pintu geser tertutup secara otomatis. Mobil menyala lalu melaju keluar dari perkarangan rumah mereka.
Dalam perjalanan, Sheza kembali memeriksa ponselnya. Hanya ada pesan Cloudy yang bertanya apakah dia sudah dalam perjalanan? Karena Cloudy sudah sampai di asrama dan dia sudah mulai bersih-bersih. Sheza hanya menjawab dia sedang menuju bandara dan menyuruh Cloudy untuk menunggunya agar mereka bisa membersihkan asrama bersama.
**
"Sheza?" Cloudy melambai antusia dari lorong asrama. Dia bergegas menghampiri Sheza yang sedang berjalan masuk dengan menyeret kopernya.
"Kamu sengaja ya mau jemput aku?" tanya Sheza dengan nada bercanda.
"Tadi aku mau beli makan malam di luar, trus liat kamu turun dari mobil. Oh, sini tasnya, biar aku aja yang bawa, pasti berat, 'kan?" kata Cloudy sambil mengambil alih koper Sheza.
Sheza mengucapkan terima kasih tanpa penolakan. Mereka berjalan menuju kamar. Sepanjang perjalanan, Sheza memperhatikan kulit Cloudy yang terlihat sedikit lebih gelap dari biasanya. Dengan iseng, Sheza bertanya, "Apa yang kamu lakuin selama di kampung? Keliatannya kulitmu jadi lebih gelap dari biasanya."
Cloudy terkekeh geli mendengar pertanyaan Sheza. "Aku bantu Ibu di sawah, dan memanen banyak buah-buahan di kebun. Oh, Ibu juga nitip banyak buah-buahan buat kamu," jawab Cloudy.
"Oh ya? Ibumu baik banget,"
"Eum, aku udah cerita tentang kamu sama Ibu. Ibu bilang, nanti kalau Ibu datang ke sini, Ibu mau ketemu kamu,"
"Aku juga nggak sabar buat ketemu keluarga kamu."
Pintu kamar mereka di buka. Seketika mata Sheza langsung mengerjab. Melihat betapa bersihnya asrama mereka. Bahkan tidak menyisakan debu sedikitpun diatas meja dan tempat tidur mereka.
"Kamu bersihin ini sendirian? Bukannya tadi udah ku suruh tunggu, 'kan?" kata Sheza berpura-pura marah sambil berkacak pinggang.
Cloudy terkekeh geli dan menarik Sheza masuk. "Aku nggak mau kamu kecapean, jadi aku bersihin duluan."
"Kamu 'kan juga baru pulang hari ini. Nggak adil deh, masa kamu manjain aku terus,"
"Aku punya adik, jadi aku juga secara spontan ngerawat kamu."
"Hm, oke, aku merasa tersanjung."
Lalu setelah itu mereka berdua terkekeh. Cloudy meminta Sheza untuk mandi, sementara Cloudy akan keluar sebentar membeli makan malam untuk mereka.
Saat Sheza keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, ruangan itu kosong. Sepertinya Cloudy belum kembali. Sheza duduk di lantai dan membuka kopernya. Di dalamnya, terdapat banyak camilan dan beberapa hadiah kecil yang sengaja ia beli untuk Cloudy. Sheza merasa barang-barang itu cocok untuk Cloudy, jadi ia membelinya tanpa berpikir panjang.
Saat Sheza sedang asyik melihat-lihat barang-barang di dalam koper, ponselnya di atas meja berdering. Tanpa melihat siapa peneleponnya, Sheza langsung menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Hallo?" sapanya sambil fokus mengeluarkan barang-barang dari koper besarnya.
"Turun, aku ada di depan asrama."
Pergerakan Sheza terhenti. Perlahan, ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat nomor Mahveen yang terpampang jelas di layar. Karena tanpa sengaja ia telah menjawab panggilan tersebut, Sheza tidak punya pilihan selain mengiyakan.
Saat sambungan telepon akhirnya terputus, pintu asrama mereka terbuka. Cloudy masuk sambil membawa dua kantong plastik kresek berisi makanan di tangannya.
"Hei, lagi beres-beres?" sapa Cloudy masuk.
Sheza mengangguk.
"Aku ketemu Mahveen di bawah, dia minta kamu buat turun." Kata Cloudy sambil mengambil piring dan mulai menuangkan makanan ke dalam piring.
Sementara Sheza terlihat tidak santai. Ia terkejut karena Mahveen langsung meminta Cloudy untuk memanggilnya.
"Ayo sana, nanti Mahveen kelamaan nunggu. Makanan kamu aku taruh di sini ya," kata Cloudy.
Mendengar Cloudy baik-baik saja, Sheza berdiri dan berjalan keluar dari pintu. Saat pintu tertutup, Cloudy yang tadinya terlihat santai tiba-tiba berhenti bergerak. Ia terdiam lama di tempat sambil menghela napas panjang.
***
BERSAMBUNG...
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED DESTINY [TAMAT]
RomansaGenre: Fantasi - Romance Rilis: Juni 2022 Republish: 13 November 2024 Finish: 8 Mei 2025 _________ Sheza merasa terbebani oleh rasa bersalah terhadap Mahveen. Ketika mendapat kesempatan kembali ke masa lalu, niat awalnya untuk membuat Mahveen memben...
![CHANGED DESTINY [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/314735105-64-k999188.jpg)