BAB 16

257 21 0
                                        

E n a m B e l a s

'First Date?'

🍂🍂🍂


Sheza berkedip cepat, ia memperhatikan Cloudy yang mondar-mandir di depannya sambil menatap Sheza dengan tajam. Sheza memelas, bibirnya mengerucut. Ia tidak ingin disalahkan, tetapi situasi telah mengarah padanya sehingga Sheza tidak bisa berkata apa pun.

"Clou, aku beneran nggak ada apa-apa sama Mahveen, terutama Del-"

Cloudy memotong pembicaraan Sheza sambil meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri. Kemudian, ia berhenti di depan Sheza sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Apa hubungan kamu sama Mahveen?" Cloudy bertanya dengan nada serius, tatapannya tajam dan tidak melepaskan Sheza.

"Aku nggak punya hubungan apa-apa sama Mahveen, beneran, aku nggak bohong!" Sheza menekankan perkataannya sambil mengangkat dua jari ke atas sebagai sumpah.

"Oke, terus hubunganmu sama Delius?" Cloudy masih belum percaya.

"Delius? Kamu tahu 'kan kita kenal Delius di hari yang sama, mana mungkin aku punya sesuatu sama dia," Sheza menjelaskan, merasa bingung.

"Trus, darimana dia tahu semua makanan kesukaanmu?" Cloudy balik bertanya, tatapannya masih tajam.

Itu juga yang jadi pertanyaan Sheza. Ia tidak tahu darimana Delius tahu semua tentangnya. Ia merasa bingung karena mereka baru sekali bertemu. Dan Delius juga tidak pernah bertanya tentang makanan kesukaannya.

"Aku nggak tahu, Clou. Aku juga kaget karena tiba-tiba dia tahu semua makananan kesukaanku,"

Cloudy menggelengkan kepala. Masih tak percaya, "Terus, Mahveen? Kamu juga menyangkal hal yang sama?" Cloudy masih menginterogasinya seperti seorang polisi menanyai pelaku.

Sheza berkedip lagi. Kali ini ia terdiam. Bukan karena tidak bisa menjawab, justru karena ia tahu jawabannya, dan karena itulah ia tidak ingin menjawab. Hal yang wajar bagi Mahveen untuk tahu semua tentang Sheza, karena mereka telah bersama selama bertahun-tahun—walaupun hanya Sheza yang merasa demikian, dan Mahveen yang mengenal Sheza melalui mimpi.

"Clou, jangan marah dong, ya?" bujuk Sheza memelas. "Aku nggak berusaha ngerebut Mahveen kok dari kamu."

Bibir Cloudy berkedut menahan senyum. Namun beberapa detik kemudian, tawanya meledak. Ia tidak bisa berhenti tertawa, membuat Sheza menatapnya dengan penuh kebingungan.

Setelah puas tertawa, Cloudy menyeka sudut matanya yang berair. Kemudian, ia duduk di samping Sheza, merangkul pundaknya sambil berkata, "Kenapa kamu setakut itu? Aku nggak marah kok."

Sheza menatapnya bingung. "Terus?"

"Aku cuma kaget aja ngelihat kedekatan kalian."

"Aku sama mereka nggak dekat," elak Sheza cepat.

"Hm, kalau kamu dan Mahveen punya hubungan khusus, aku juga nggak akan marah," kata Cloudy santai.

"Aku nggak punya," Sheza membantah lagi, nada suaranya terdengar sedikit kesal.

Cloudy kembali terkekeh. "Hm, apapun hubungan kalian,  yang penting kamu bahagia. Lagian, Mahveen itu orangnya baik kok. Nggak mungkin dia nyakitin kamu."

"Tapi aku sama Mahveen beneran nggak punya hubungan apapun."

"Oke, oke, aku percaya," Cloudy menyerah. "Yang penting kamu bahagia dengan apapun pilihan kamu,"

**

Pada Minggu pagi, Sheza yang baru saja selesai mandi dan hendak duduk untuk belajar tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu. Cloudy sedang di kamar mandi, jadi Sheza beranjak dari kursinya dan membuka pintu. Seorang gadis, penghuni kamar sebelah, menyapa Sheza dan berkata bahwa Mahveen sedang menunggu Sheza di depan asrama, lagi. Sheza sempat terhenyak, lalu kemudian ia berterima kasih pada gadis itu dan melangkah keluar asrama untuk menemui Mahveen.

Perawakan laki-laki itu tinggi. Ia berpenampilan mencolok di antara kerumunan gadis-gadis asrama yang berlalu lalang. Berkat kepopulerannya dan penampilannya, Mahveen lagi-lagi jadi pusat perhatian. Apalagi setelah melihat kedekatannya dengan Sheza dan semua asrama perempuan menjadi heboh.

"Kamu ngapain di sini?" tanya Sheza merasa heran.

Mahveen tersenyum dari balik kaca helm fullfacenya yang masih ia kenakan. Tanpa menjawab pertanyaan Sheza, Mahveen balik bertanya, "Kamu sibuk nggak hari ini?"

Sheza menggeleng.

"Ikut aku yuk?"

"Kemana?"

"Rahasia, ayo," Mahveen menarik tangan sheza namun gadis itu menahannya.

"Aku harus ganti baju dulu," kata Sheza sambil menengok penampilannya yang terkesan biasa saja dengan kaos oblong oversize dan celana jeans selutut.

Mahveen terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya membiarkan Sheza bersiap-siap lebih dulu.

Setelah hampir dua puluh lima menit menunggu, Sheza akhirnya datang dengan penampilan yang casual. Mengenakan kemeja putih long sleeve berbahan katun lembut yang sedikit terurai di bagian lengan, memperlihatkan sedikit pergelangan tangannya yang ramping. Kemeja itu dipadukan dengan celana jeans high-waisted berwarna biru gelap yang membentuk siluet tubuhnya dengan sempurna. Sepatu sneakers putih bersih melengkapi penampilannya, memberikan kesan kasual namun tetap stylish. 

Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai natural, hanya sedikit dirapikan, memperlihatkan wajahnya yang cantik tanpa banyak riasan. Hanya sedikit lip gloss yang memberikan sentuhan natural pada bibirnya. Kesederhanaan penampilannya justru membuat Mahveen terkagum. Ia tidak menyangka Sheza bisa terlihat begitu elegan dan menarik bahkan dengan pakaian kasual. Mahveen terpesona, pandangannya tak lepas dari Sheza.

"Cantik," gumam Mahveen terpesona.

Sheza yang tidak terlalu jelas mendengar gumaman Mahveen bertanya, "Apa?"

Mahveen tersenyum, menggelengkan kepalanya. Dia mengambil helm lain di atas motor dan memakaikannya kepada Sheza. Karena semua pergerakan Mahveen begitu cepat, Sheza tidak sempat memprotes. Mahveen naik di atas motornya, lalu mempersilahkan Sheza untuk duduk di belakangnya.

Di kehidupan Sheza sebelumnya, dia sudah terbiasa menaiki motor Mahveen. Tanpa terasa sulit, dia naik, lalu berpegangan pada pundak Mahveen untuk berjaga-jaga. Mahveen tidak merasa puas. "Pegangan," kata Mahveen.

"Aku udah pegangan,"

"Bukan di sana,"

"Terus?"

Mahveen mengambil kedua tangan Sheza dari pundaknya, lalu melingkarkannya ke pinggang membuat Sheza tersentak.

"Pegangan, aku nggak kamu jatuh," setelah itu motor dilajukan meninggalkan perkarangan asrama. Meninggalkan gosip-gosip kecil di belakang mereka dan postingan di akun lambe turah sekolah kembali menjadi populer setelah beberapa saat di unggah.

***

CHANGED DESTINY [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang