Bab 18

231 24 4
                                        

D e l a p a n  B e l a s

'Bertemu... Bertiga?'

🦋🦋🦋


Sheza turun dari motor, wajahnya masih cemberut. Ekspresi kesalnya masih jelas terlihat. Ia melepas helm dan memberikannya kepada Mahveen tanpa sepatah kata pun.

Namun, alih-alih menunggu Mahveen turun dari motor, Sheza langsung pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Mahveen yang masih duduk di atas motor. Melihat Sheza pergi tanpa satu kata pun, Mahveen langsung bergegas turun dan menarik lengan Sheza, menahan kepergian gadis itu.

"Maaf, aku tahu aku salah," kata Mahveen dengan nada menyesal, suaranya terdengar tulus. "Tolong jangan marah."

Sheza mendengus. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, membuang muka dengan acuh.

Mahveen menghela napas berat. Ia berdiri di depan Sheza, memegang kedua pundak Sheza dengan lembut, mencoba untuk menenangkan Sheza. "Terus kamu maunya apa?" tanyanya dengan sabar.

"Kamu langsung ngambil keputusan tanpa minta persetujuan aku dulu. Memangnya aku bakalan setuju?" jawab Sheza, emosinya meluap.

Mahveen sedikit terkejut dengan ledakan emosi Sheza, namun ia tetap berusaha untuk tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk mengendalikan emosinya. Ia menyadari bahwa membujuk seorang perempuan, terutama Sheza yang sedang marah, membutuhkan tutur kata yang lemah lembut dan ekspresi yang halus untuk meyakinkan.

"Oke, maaf, aku bakal tanya kamu. Kamu mau 'kan nikah sama aku, hm?" Mahveen bertanya dengan nada rendah dan penuh kelembutan.

Sheza berdecak kesal. Ia menepis tangan Mahveen dengan kasar dan melengos pergi, meninggalkan Mahveen yang mematung di tempat. 

Mahveen hanya bisa menatap punggung Sheza yang semakin menjauh, matanya berkedip-kedip, sedikit terkejut dengan reaksi Sheza. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Sheza menenangkan diri.

Sheza membuka pintu dengan kasar dan menutupnya dengan sedikit bantingan. Suara bantingan pintu membuat Cloudy, yang sedang duduk di meja belajar sambil mengisi soal latihan, terkejut. Spontan, Cloudy menoleh melihat Sheza masuk.

Bibir Sheza mengerucut, alisnya mengerut, menunjukkan ekspresi kesal yang masih membara. Ia duduk di tempat tidurnya, memeluk erat bantal kesayangannya, dan mengerutu kesal. Sheza benar-benar tidak menyangka perlawanan Mahveen terhadap orang tuanya akan terulang kembali untuk kedua kalinya. Kali ini, Sheza bukan hanya sekedar marah, melainkan benar-benar marah besar.

"Sheza, ada apa?" tanya Cloudy sambil mendorong kacamatanya yang melorot. "Kok kamu cemberut? Tadi kamu tiba-tiba banget keluar, kok pulang-pulang udah cemberut aja sih?"

"Humph! Pokoknya kalo Mahveen datang, bilang aja aku lagi sibuk."

Mata Cloudy berkedip. Barulah akhirnya dia paham kenapa Sheza cemberut. Ternyata hanya pertengkaran kecil antar kekasih. Cloudy tidak banyak bertanya dan lanjut mengerjakan soal latihannya.

Drrtt~

Hp Sheza gemetar pertanda pesan masuk. Dia mengambil Hp dari saku celananya dan membuka pesan yang datang dari Delius.

Delius
Malam ini sibuk?
Ayo ketemuan.

Dua pesan itu membuat kerutan di dahi Sheza dalam. Dia menatap kalimat itu sebentar sebelum sebuah ide muncul di kepalanya. Dan tanpa banyak berpikir, Sheza langsung membalasnya dengan "Oke"

•••

Malam ini suhu udara di sekitar menjadi lebih dingin. Untung saja Sheza mengenakan beberapa lapis baju untuk menghalau angin yang masuk melalui celah-celah. Dia mengusap kedua telapak tangannya untuk menghangatkan pipinya yang memerah, sesekali matanya akan melihat sekitar untuk mencari Delius yang katanya akan segera sampai.

Tak berapa lama kemudian laki-laki yang di tunggu akhirnya datang. Delius melambaikan tangan dengn antuasias, berlari-lari kecil ke arah Sheza agar segera sampai.

"Maaf ya, lama," kata Delius merasa bersalah.

Sheza tersenyum maklum. "Nggak apa-apa kok, aku juga baru sampai. Oh iya, kemana kita pergi?"

Delius tersenyum. Dengan nada penuh misterius dia berkata, "Rahasia. Ayo tunggu satu orang lagi, dia akan sampai,"

Mata Sheza berkedip. Dia memiringkan kepala dengan penuh kebingungan. Sheza pikir mereka hanya akan pergi berdua, lalu siapa orang ketiga yang di maksud? Meski Sheza penasaran, dia dan Delius menunggu di pinggir pedestrian.

Orang--orang mengenakan pakaian yang hangat untuk cuaca yang sejuk. Namun Delius hanya mengenakan sepotong kaos berlengan panjang seolah dia merasa tidak kedinginan.

"Malam ini dingin, kenapa kamu cuma pake baju itu?" Sheza tidak tahan untuk tidak bertanya.

Delius tersenyum geli. Lalu dengan suara pelan dia menjawab, "Suhu tubuhku lebih tinggi dari orang normal. Aku cukup hangat walau pun di tengah cuaca dingin,"

Sheza mengangkat alisnya, tak percaya. Delius mengangkat tangannya, lalu menempelkan telapak tangannya di pipi Sheza membuat mata gadis itu berkedip karena telapak tangan Delius begitu hangat seolah dia adalah tungku api berjalan.

Belum sempat sheza merasa takjub, sebuah hangat muncul di depannya dan tangan yang ada di pipinya di tepis paksa oleh seseorang. Sheza mendongak, dan menemukan Mahveen ada di sana sambil menatap Delius dengan tatapan menantang.

"Dari awal gue udah nggak suka sama lo. Maksud lo apa nyentuh-nyentuh cewek gue?" Ia menatap Delius dengan rahang mengeras.

Delius tertawa. Sementara itu, mulut Sheza menganga, terkejut dengan kemunculan Mahveen secara tiba-tiba.

"Kamu ngapain di sini?" Sheza bertanya kepada Mahveen, suaranya penuh kebingungan.

Mahveen menoleh ke arah Sheza, lalu berkata dengan nada sedikit kesal, "Aku yang harusnya tanya, kamu ngapain di sini berduaan sama dia?"  Ia balik bertanya kepada Sheza

Alih-alih marah atau menunjukkan reaksi negatif terhadap situasi canggung di antara Mahveen dan Sheza, Delius justru merasa situasi di sekitarnya terasa lucu. Ia melihat ekspresi heran di wajah Mahveen dan Sheza, namun ia tetap tenang. Dengan santai, ia menjawab, "Syukurlah akhirnya kita semua di sini. Pertama-tama, ayo kita makan malam. Aku agak lapar," katanya sambil mengusap perutnya yang kosong.

Mahveen dan Sheza tertegun di tempat. Keduanya sama-sama terkejut dan tidak menyangka Delius akan mengundang mereka berdua secara bersamaan. Mahveen bahkan tidak begitu akrab dengan Delius. Ia datang karena Delius mengancam menggunakan Sheza sebagai alat tekan. Betapa terkejutnya ia saat tiba-tiba melihat Sheza juga diundang ke tempat yang sama.

"Ayo, ayo, jangan sungkan. Malam ini aku akan traktir kalian berdua," Delius memecah keheningan, ia menarik tangan Mahveen dan Sheza, mengajak mereka pergi ke suatu tempat.

●●●

Bersambung...

CHANGED DESTINY [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang