BAB 12

333 29 0
                                        

D u a  b e l a s

'Time Traveller?'

🦨🦨🦨


Sheza menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan yang ia lakukan saat merasa cemas. Matanya terpaku pada layar ponselnya yang terus menyala, menampilkan panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Meskipun Sheza tidak mengangkat panggilan tersebut, ia sudah cukup hafal nomor telepon 12 digit itu. Angka-angka itu terukir jelas di kepalanya. Kecemasannya begitu kentara hingga Venya, yang baru saja melewatinya, memperhatikan perubahan perilaku putrinya dan bertanya dengan penuh kekhawatiran,  "Ada apa, Sheza?"

Venya tak sengaja melirik layar ponsel Sheza yang masih menyala, menampilkan nomor telepon asing yang sama. "Kenapa teleponnya nggak dijawab, Sayang?" tanya Mama.

Sheza menggelengkan kepalanya. "Cuma spam, Ma," jawabnya singkat.

"Tapi itu udah terus-terusan bunyi lho. Atau Mama aja yang jawab?" tawar Venya.

Sheza menggelengkan kepalanya dengan keras kepala. Tak lama kemudian, panggilan telepon terputus secara otomatis. Lalu beberapa notifikasi masuk lagi, namun Sheza masih enggan melihatnya.

Saat Venya hendak bertanya lebih lanjut, Sheza sudah buru-buru melangkah naik menuju ke kamarnya di lantai dua.

Sesampainya di kamar, ponsel Sheza kembali berdering. Nomor yang sama, nomor yang telah mengganggunya sejak siang tadi. Sheza tahu siapa pemilik nomor tersebut. Karena itu, ia terus mengabaikan panggilan tersebut. Ia tidak menyangka Mahveen akan terus meneleponnya hingga malam tiba, dengan jumlah panggilan yang begitu banyak.

Sheza mengingat kebiasaan Mahveen di masa depan. Saat mereka masih bersama. Mahveen hanya akan meneleponnya sekitar 7 kali jika Sheza tidak menjawab panggilan pertamanya. Perilaku Mahveen kali ini sangat berbeda, jauh di luar kebiasaan yang Sheza kenal.

Sheza tahu bahwa setelah panggilan telepon yang terus-menerus itu, Mahveen akan mengiriminya pesan singkat, meminta Sheza untuk meneleponnya kembali jika melihat pesan tersebut. Itu adalah pola komunikasi Mahveen yang sudah Sheza ketahui. Namun, frekuensi panggilan Mahveen kali ini di luar perkiraan Sheza.

Mahveen telah menelepon sebanyak 116 kali, dari siang hingga saat ini. Sheza rasa, jika terus menolak panggilan Mahveen, mungkin Mahveen akan terus meneleponnya seperti ini?

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Sheza berjalan ke balkon kamarnya. Di sana, ia menatap layar ponselnya yang terus menyala, menampilkan panggilan masuk dari Mahveen. Dengan ragu-ragu, Sheza menggeser ikon hijau, menjawab panggilan tersebut. Ponsel itu ia tempelkan di telinganya. Seketika, ia mendengar suara Mahveen yang terburu-buru dan sedikit panik, "Ini aku, Mahveen. Tolong jangan tutup dulu teleponnya, aku mau bicara."

Sheza diam, hanya mendengarkan.

Meskipun Sheza tidak memberikan respons verbal, Mahveen tahu bahwa Sheza sedang mendengarkannya. Sejenak kemudian, terdengar helaan napas panjang dari Mahveen.

"Aku minta maaf karena udah bikin kamu nangis hari itu," kata Mahveen, suaranya terdengar menyesal. "Tapi aku sama sekali nggak menyesal. Aku cuma mau tahu hubungan kita. Kamu pasti tahu sesuatu, 'kan? Aku mohon, tolong kasih tahu aku apa hubungan kita? Aku merasa mimpi itu seperti nyata." Nada suara Mahveen berubah menjadi memohon.

Mata Sheza terkulai lemah. Ia juga tidak mengerti mengapa Mahveen menghubungkan dirinya dengan mimpi tersebut. Dan yang lebih membingungkan, Mahveen yakin bahwa mereka memiliki hubungan, meskipun hubungan itu belum terjadi saat ini.

"Sheza, aku cuma mau tahu, apa kamu akan terus diam?" tanya Mahveen, suaranya terdengar murung dan putus asa. "Apa sesulit itu ngasih tahu aku?"

Sheza menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia menatap ke kejauhan,  berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Mahveen. Setelah beberapa saat terdiam, ia berkata dengan suara pelan, "Apa itu penting?"

"Penting! Sangat penting," jawab Mahveen cepat, suaranya dipenuhi penekanan.

"Kenapa?" tanya Sheza.

"Aku rasa kita punya ikatan yang kuat," kata Mahveen, suaranya dipenuhi keyakinan. "Mimpi itu terhubung selama bertahun-tahun lamanya. Dan sejak kita bertemu, mimpi itu jadi semakin nyata. Jelas, sangat jelas."

Sheza terdiam cukup lama, mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Mahveen menunggu dengan sabar. Akhirnya, dengan suara pelan dan sedikit gemetar, Sheza berkata, "Kalau ku bilang aku dari masa depan, apa kamu percaya?"

Mahveen, yang hendak memberikan tanggapan, tiba-tiba tertegun mendengar pernyataan Sheza yang tak terduga. Ia mengerutkan dahinya, menunjukkan kebingungan. "Apa?" tanyanya, suaranya terdengar tidak percaya.

Sheza kecewa dengan reaksi Mahveen yang tidak seperti yang ia harapkan. Lalu dengan sedih berkata, "Jangan hubungi aku lagi. Itu mengganggu,"

"Tapi—" Mahveen mencoba untuk menjelaskan atau bertanya lebih lanjut, namun Sheza sudah mematikan panggilan secara sepihak.

Sementara itu, di sisi lain, Mahveen mematung di tempat dengan layar ponselnya yang menunjukkan panggilan telah berakhir. Kalimat Sheza, "Masa depan," bergema di telinganya. Apa maksudnya itu? Apakah Sheza benar-benar datang dari masa depan? 

Mahveen tidak ingin percaya. Rasanya konyol, tidak masuk akal ada orang yang melakukan perjalanan waktu, kembali ke masa lalu. Teori konspirasi tentang time traveller itu terasa tidak nyata baginya.Tapi, Mahveen mengingat mimpi-mimpi yang selalu menampilkan Sheza, padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.

Lalu, tiba-tiba Sheza membencinya tanpa sebab yang jelas. Semua itu terasa janggal dan sulit dijelaskan secara logis. Apa itu semua terjadi karena Sheza adalah seorang Time traveller? Dia butuh waktu untuk mencerna semuanya.

***

BERSAMBUNG...

CHANGED DESTINY [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang