Bab 22

225 23 0
                                        

D u a  P u l u h  D u a

'Mama cakit?'

***


"Baiklah, Pak Mahveen, Ibu Sheza. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, Ibu Sheza mengalami amnesia disosiatif.  Ini adalah kondisi hilangnya ingatan yang disebabkan oleh trauma akibat kecelakaan yang bisa memicu mekanisme pertahanan diri di otak untuk memblokir sebagian ingatan. Dalam kasus Ibu Sheza, hilangnya ingatan ini cukup signifikan, mencakup hampir setengah dari ingatan jangka panjangnya. Beliau mungkin masih mengingat beberapa hal secara samar-samar, tetapi detailnya mungkin sudah kabur atau bahkan hilang sepenuhnya."

Mahveen mengangguk, "Jadi, apa ingatannya bisa kembali sepenuhnya, Dok?"

"Kemungkinan ada. Proses pemulihannya bertahap dan membutuhkan waktu. Terapi dan dukungan dari orang terdekat sangat penting."

Mahveen kembali bertanya, "Apa ada kemungkinan ingatannya kembali secara tiba-tiba?"

"Kemungkinan itu kecil. Biasanya, proses pemulihan ingatan terjadi secara bertahap. Namun, kita tidak bisa sepenuhnya memprediksi, karena setiap pasien berbeda."

Sheza hanya diam mendengarkan penjelasan dokter, sesekali mengangguk kecil. Ia terlihat tenang, namun raut wajahnya menunjukkan ia sedang berusaha mencerna informasi tersebut. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali melirik Mahveen.

Mahveen mengangguk,  "Lalu, apa yang harus saya lakukan, Dokter?"

"Pertama, berikan Ibu Sheza lingkungan yang aman dan nyaman. Hindari hal-hal yang dapat memicu stres atau kecemasan. Kedua, bersabarlah. Proses pemulihan ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ketiga, bantu Ibu Sheza untuk mengingat kembali masa lalunya dengan cara perlahan. Jangan memaksanya jika ia merasa tidak nyaman. Keempat, seringlah berkomunikasi dengan Ibu Sheza, ajak beliau bercerita tentang hal-hal yang masih beliau ingat."

"Baik, Dokter. Terima kasih atas penjelasannya."

"Sama-sama, Bapak. Semoga Ibu Sheza lekas pulih." Dokter tersenyum ramah. "Jangan ragu untuk menghubungi saya jika ada hal yang perlu ditanyakan atau jika terjadi sesuatu yang tidak biasa."

Setelah keluar dari ruangan dokter, Mahveen melihat Sheza tampak linglung. Ia terlihat bingung dan sedikit takut. Kemudian, Sheza bertanya dengan suara pelan, "Apa separah itu?"

Mahveen merangkul pundak Sheza, mencoba memberikan dukungan dan kenyamanan. Sambil tersenyum lembut, ia berkata, "Nggak apa-apa, kita bisa melakukannya pelan-pelan. Kalau kamu nggak mau ingat, aku bakalan jadi hardisk kamu yang akan menyimpan kenangan kita. Kalau kamu butuh, aku akan cerita semuanya ke kamu."

Jawaban Mahveen membuat Sheza terkekeh geli. Suaminya itu, meski usianya sudah tidak muda lagi, tetap saja memiliki sifat yang romantis dan humoris. Sheza merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Mahveen.

Setibanya di rumah, Mahveen dan Sheza masuk ke dalam rumah. Gracia dan Delius ternyata sudah pulang sekolah. Begitu mendengar suara mobil sang Papa, mereka langsung menghampiri orang tua mereka dengan ekspresi tegang. 

Mereka tidak tahu kalau Mahveen akan membawa Sheza ke rumah sakit. Saat mereka pulang sekolah, kedua orang tua mereka sudah pergi. Mereka sempat bertanya kepada pembantu, dan pembantu menjawab bahwa orang tua mereka pergi ke rumah sakit. 

Gracia terlihat sudah menangis karena khawatir terjadi sesuatu pada Sheza. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Delius memasang ekspresi cemas, keningnya berkerut. Kedua anak mereka menghampiri Sheza.

Gracia langsung memeluk ibunya sambil menangis tersedu-sedu, isakannya terdengar pilu. Delius memegang tangan Sheza dengan lembut, matanya menunjukkan kekhawatiran. Ia bertanya dengan suara lembut, "Ma, ada apa? Kenapa harus ke rumah sakit?"

CHANGED DESTINY [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang