Bab 20

260 29 6
                                        

D u a P u l u h

'Kembali Ke Masa Sekarang'

***

Di koridor lantai dua sebuah gedung sekolah, seorang siswi berlari menuju kelas sahabatnya dengan terburu-buru. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya memerah karena kepanasan dan keringat membasahi dahinya. Ia terlihat sangat cemas. Setelah cukup lama mencari, ia bahkan sempat bertanya kepada beberapa orang di koridor apakah mereka melihat sahabatnya keluar kelas atau tidak, namun tidak ada seorang pun yang tahu keberadaannya.

*Brak!*

Suara pintu kelas yang dibanting keras membuat satu-satunya siswa yang sedang tertidur pulas dengan kepala bersandar di atas meja terkesiap kaget. Tidur siang siswa itu buyar seketika. Ia tersentak bangun, mata masih sayu dan bingung. Siswi itu menoleh ke belakang dan melihat gadis yang tadi berlari terburu-buru kini berjalan menghampirinya sambil mengatur napas yang masih terengah-engah.

"Aku udah nyariin lo kamu seluruh penjuru sekolah," keluhnya, suaranya terdengar lelah.

Pemuda yang tertidur itu hanya melirik sebentar ke arah gadis tersebut, lalu kembali merebahkan kepalanya ke atas meja, melanjutkan tidurnya. Gadis itu merasa kesal. Ia mengguncang tubuh pemuda itu dengan sedikit kasar, membuat pemuda itu terbangun. Dengan nada dongkol, gadis itu berkata, "Berhenti tidur! Mama kamu udah sadar! Mama kamu bangun dari komanya!"

Seluruy tubuh pemuda itu membeku. Otot-ototnya menegang. Kepalanya yang terkulainberdiri tegak, tatapan matanya menatap gadis di depannya dengan ekspresi tak percaya. Mulutnya sedikit terbuka, seaakan sulit untuk mencerna informasi yang baru saja didengarnya. Ia tampak sangat terkejut sekaligus gembira.

"Baru aja Papa ngasih tahu aku kalau Mama mu sadar. Hey! Tunggu!"

Pemuda itu berlari keluar kelas tanpa menunggu gadis tersebut menyelesaikan kalimatnya. Ia berlari dengan tergesa-gesa, linglung, dan tanpa memperdulikan sekitarnya. Ia menabrak beberapa temannya yang berada di koridor, namun ia tidak berhenti. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah satu hal: "Mamaku bangun dari koma."

Ia berlari secepat mungkin, didorong oleh rasa rindu dan penyesalan yang begitu besar. Dia berjanji pada diri sendiri, seandainya sang Mama sadar dan kembali kepada mereka, ia tidak akan pernah bertengkar lagi dengannya. Apa pun yang Mama katakan, ia akan patuh dan menurutinya.

Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke rumah sakit. Ia memarkirkan sepeda motornya dengan asal di tempat parkir. Ia bergegas turun dan berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit. 

Beberapa perawat yang ia lewati menegurnya agar tidak berlari, namun ia seakan tidak mendengarnya. Ia terus berlari di sepanjang koridor rumah sakit, didorong oleh rasa cemas dan keinginan untuk segera bertemu ibunya. Ia mengabaikan semua halangan yang ada di depannya. Yang terpenting adalah segera sampai ke ruangan ibunya.

*Brak!*

Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Pemuda itu yang baru saja berlari sepanjang koridor rumah sakit kini berdiri di ambang pintu, napasnya tersengal-sengal. Tangannya masih mencengkeram gagang pintu. Matanya terkunci pada sosok perempuan berambut pendek yang sedang terbaring di atas brankar. 

Perempuan itu terlihat lemah, namun matanya terbuka. Semua orang di dalam ruangan menatap ke arah pemuda itu dengan sedikit terkejut. Suasana hening seketika. Hanya suara napas pemuda itu yang terdengar. Ia terpaku di tempat, tak mampu berkata apa-apa.

Gadis berseragam SMP itu sedang menangis tersedu-sedu di samping brankar, bahu-bahunya bergetar hebat. Ketika melihat sang Kakak datang, ia segera berlari menghampiri dan memeluknya dengan erat. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Isakannya terdengar pilu.

CHANGED DESTINY [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang