44. Berlayar

186 8 2
                                        

Beberapa bulan pun berlalu...

Kini, seluruh siswa kelas 12 SMA Dirgantara tengah berkumpul di lapangan sekolah. Mereka terlihat antusias dan sibuk menghias area untuk malam yang sangat dinanti—*Promnight*.

Acara ini sudah direncanakan jauh sebelum ujian akhir dimulai. Promnight menjadi momen penutup penuh suka cita, tempat di mana tawa dan kebersamaan menjadi sorotan utama setelah perjuangan menghadapi ujian.

Di salah satu sudut lapangan, Aznii bersama empat sahabatnya tengah serius meniup balon. Suasana riuh namun hangat menyelimuti area. Namun, saat Aznii sedang fokus pada balon yang hampir selesai ditiup, tiba-tiba saja seseorang menutup kedua matanya dari belakang.

"Heh! Siapa sih?!" keluh Aznii, sedikit kaget.

"Lepasin dong, gue jadi nggak bisa lihat!" serunya sambil berusaha melepaskan tangan yang menutupi pandangannya.

Beberapa detik kemudian, tangan itu pun terlepas. Refleks, Aznii menoleh ke belakang—dan mendapati sosok Gavin sedang berdiri santai sambil tersenyum jail.

"Ish, ternyata lo!" cetus Aznii, setengah kesal, setengah geli.

Yup, Gavin—lah yang baru saja mengusili Aznii.

"Ngapain sih lo ke sini? Bukannya bantu yang lain?" tanya Aznii, menatap cowok itu tajam namun tak benar-benar marah.

Gavin mengangkat bahu dengan santai. "Gue bantu bagian penting. Ngecek yang lagi serius banget biar nggak tegang," jawabnya dengan senyum mengembang.

Aznii hanya menggeleng pelan sambil menahan senyum. Cowok itu memang selalu tahu cara membuat suasana jadi ringan.

“Enggak, gue emang pengen ke sini aja,” jawab Gavin santai, sembari menyandarkan tubuhnya di tiang bendera yang ada di tepi lapangan.

Sejak kejadian joging bareng waktu itu, hubungan antara Aznii dan Gavin terasa jauh lebih akrab. Mereka sudah jarang terlibat adu argumen, dan sekalipun bertengkar, itu hanya karena keisengan Gavin yang kadang membuat Aznii ngambek sebentar—lalu baikan lagi seperti biasa.

“Vin, Arga mana?” tanya Kayla sambil celingukan mencari sosok pacarnya.

“Itu dia datang,” jawab Gavin, menunjuk ke arah Arga yang sedang berjalan santai ke arah mereka, ditemani Rio, Devan, dan Akbar.

“Ga, tuh, dicariin pacar lo,” goda Gavin sambil melirik Kayla dengan tatapan penuh arti.

Arga langsung tersenyum saat sampai di dekat Kayla. “Beneran kamu cari aku, Yang?”

Kayla hanya nyengir kecil. “Soalnya biasanya kalian berlima ke mana-mana bareng. Pas Gavin doang yang muncul, ya aku nanya dong.”

“Bucin banget sih lo, Ga. Nggak liat tempat,” celetuk Akbar sambil geleng-geleng kepala.

“Biarin aja,” sahut Kayla santai, membuat teman-temannya terkekeh.

“Sirik, Bar? Mending lo juga cari pacar, biar gak ngatain orang mulu,” ujar Arga sambil menyikut bahu Akbar.

“Tenang aja. Nanti gue cari pacar sekalian serombongan,” balas Akbar dengan nada bercanda.

Di tengah obrolan yang makin ramai itu, Fara yang sejak tadi hanya memperhatikan dengan bingung, akhirnya angkat suara, “Eh, kalian lagi ngomongin apa sih? Kok kayak seru banget.”

Akbar langsung menoleh dan menyeringai. “Lo kan masih anak kemarin sore, Far. Belum waktunya dengerin topik orang dewasa kayak gini.”

“Apaan sih, Bar! Nggak lucu,” balas Fara kesal, membuat yang lain tertawa geli melihat wajah Fara yang cemberut.

Enemies to Lovers [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang