Sepanjang perjalanan Andin terus menggerutu. Ia lelah jika harus berdebat lagi dengan Aldebaran. Pagi-pagi buta, Al sudah berada di rumahnya, membantunya berkemas. Hari ini Aldebaran memaksanya untuk tinggal di Pondok Pelita dengan alasan karena sekarang ia adalah tunangannya. Awalnya Andin menolak, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Aldebaran selalu menggunakan isi perjanjian untuk mengancamnya.
Sesampainya di Pondok Pelita, Andin sudah disambut asisten rumah tangga Al. Andin bahkan sampai tak menyangka jika ia kini menginjakkan kaki di istana milik bosnya.
"Ki, antar dia ke kamar tamu," perintah Aldebaran kepada Kiki, kepala pelayan di rumahnya.
"Baik, Mas Al," balas Kiki. 'mas Al' adalah panggilan akrab Kiki kepada bosnya itu. Kiki sudah bekerja lama dengan Al, bahkan seperti keluarganya sendiri. Jadi wajar jika ia kadang tak begitu formal dengan Aldebaran.
"Mari, Mbak," ucap Kiki.
Andin lalu mengikuti Kiki. Kopernya sudah dibawa oleh pegawai Aldebaran yang lain. Andin sangat takjub melihat rumah Aldebaran. Wajar saja jika bosnya itu memang terkenal sebagai sultan. Namun, Andin merasa 'kosong' ketika memasuki rumah tersebut.
"Ki, orang rumah pada ke mana?" tanya Andin.
"Rumah emang selalu sepi, Mbak, cuma mas Al aja yang nempatin," jawab Kiki.
"Kalau mamanya tinggal di mana?"
"Oh, ibuk nggak mesti pulang. Dia biasanya di apartemen karena juga ngurusin perusahaan diluar negeri."
Andin hanya mangut-mangut mendengar penjelasan Kiki. Ia jadi merasa kasihan dengan Aldebaran jika harus tinggal sendirian di rumah sebesar ini.
"Ini kamarnya, Mbak," kata Kiki sambil membukakan pintu kamar. Tak lama, pelayan yang lain pun datang memberikan koper Andin.
"Makasih, ya, Ki," ucap Andin. Kiki lalu pamit kembali melakukan pekerjaannya yang lain.
Andin masuk ke dalam kamar, memandang seisi ruangan yang cukup menenangkan. Apalagi ada sebuah balkon yang menyajikan pemandangan yang indah. Tiba-tiba Andin menjadi penasaran dengan Aldebaran. Pikirannya menerawang bagaimana kehidupan bosnya tersebut. Ia juga merasa kasihan, menurut Andin, mungkin sikap Al selama ini adalah kamuflase atas rasa sepi yang dialami.
Andin kembali membaca surat perjanjiannya dengan Aldebaran yang diberikan tadi pagi. Ia tertawa ketika sedang berlatih memanggil Aldebaran dengan sebutan 'mas'. Bagi Andin ia belum terbiasa, apalagi selama ini ia tak pernah seakrab itu dengan bosnya. Namun Aldebaran memaksanya untuk membiasakan diri.
***
Andin selesai makan malam sendirian. Aldebaran memberitahu jika ia akan pulang telat karena masih ada rapat yang harus dihadiri. Andin lalu membantu Kiki membereskan meja makan.
"Ih, Mbak Andin nggak usah dibantuin," ucap Kiki. "Nanti kalau mas Al tahu, bisa ngomel dia," lanjutnya.
"Kamu Deket banget, ya, sama mas Al?" tanya Andin.
Kiki menoleh. "Deket banget, Mbak. Kiki kerja di sini tuh, udah dari zaman mas Al mulai kuliah," jawabnya.
"Berarti tahu banyak, dong...."
"Nggak juga, Mbak. Mas Al itu orangnya kadang misterius, kalau ada masalah paling nggak bisa kalau diganggu, tapi dia perhatian, kok."
"Tapi kalau di kantor, mas Al tuh nyebelin banget, Ki," kata Andin.
"Begitulah mas Al, paling nggak bisa kalau dideketin orang."
"Tapi kok, dia malah deketin aku, ya...," ucap Andin bangga diri.
"Jangan-jangan mas Al naksir sama Mbak Andin," goda Kiki.
"Apasih, Ki, ngaco kamu." Andin meletakkan piring yang telah ia cuci di rak, tapi piring tersebit justru terjatuh dari genggamannya.
Pyaaar.....
Andin dan Kiki terkejut mendengarnya, begitupula dengan Aldebaran yang hendak masuk ke kamarnya. Andin ingin memungut puing-puing piring tersebut, tapi suara Aldebaran menghentikannya.
"Jangan sentuh!" teriak Aldebaran. Ia lalu menghampiri Andin yang berada diantara pecahan piring. Al melihat kaki Andin yang terkena serpihannya, dengan sigap ia lalu menggendong tubuh Andin dan mendudukkannya di samping wastafle.
"Bisa diem, nggak?" Aldebaran menggulung lengan kemejanya. "Ki, beresin ini dan jangan biarin Andin di dapur. Nanti ceroboh lagi," lanjutnya.
"I-iya, Mas." Kiki segera mengambil sapu untuk membersihkan pecahan piring tersebut, sedangkan Andin masih bergeming.
Aldebaran membuka laci di meja sebelah rak piring, ia lalu mengeluarkan kotak obat dan mengobati kaki Andin yang terkena goresan piring.
"Lain kali hati-hati," kata Aldebaran.
"Maaf," ucap Andin. Ia bahkan masih terkejut dengan kejadian tadi, ditambah sikap protektif Aldebaran yang membuatnya semakin dilema.
Selesai mengobati kaki Andin, Al menurunkan Andin kembali. Ia memastikan tidak ada luka lain di tubuh wanitanya.
"Bisa jalan?" tanya Aldebaran. Andin mengangguk. Al lalu berjalan duluan, tapi lengannya ditahan oleh Andin. Tiba-tiba suasana menjadi sedikit canggung, Andin pun merutuki kebodohannya yang malah menarik Al kembali.
"Kenapa?" tanya Al, mendadak ia mendekatkan diri ke Andin, membuat perempuan itu mundur.
"I-itu..., eng..." Andin gugup sendiri. Aldebaran malah semakin mengunci tubuhnya. Deru napas keduanya saling beradu, tatapan Al pun seolah menusuk sampai dalam. Andin memperhatikan setiap lekuk wajah lelaki di hadapannya. Jika diakui, Aldebaran memang punya pesona yang luar biasa untuk memikat hati perempuan, termasuk Andin.
Andin memiringkan wajahnya dan menarik kerah kemeja Aldebaran. Bibir mereka menyatu dalam degub jantung yang tak menentu. Awalnya Aldebaran terkejut dengan tindakan Andin, tapi sedetik kemudian ia mengikuti permainan Andin. Aldebaran merangkul pinggang Andin, membuat pagutan keduanya semakin dalam.
"Andin," panggil Aldebaran. Andin lalu tersadar dari lamunannya.
"Mba Andin mikirin apa hayo...," ucap Kiki menggoda Andin.
"Eh, enggak, itu...." Andin gelagapan sendiri.
"Bisa jalan sendiri, kan?"
"Bi-bisa," jawab Andin. Ia lalu bergegas pergi ke kamarnya. Di balik pintu, Andin memegangi jantungnya. Untung saja Aldebaran dan Kiki tak mendengar kerasnya detak jantungnya. Andin memegang bibirnya, bisa-bisanya ia berkhayal seperti itu.
"Apa sih, Ndin, yang kamu pikirin," gerutu Andin kepada dirinya sendiri. Ia berusaha menepis segala pikiran-pikiran yang membuatnya bergidik ngeri.
***
Andin selesai sarapan, ia merasa canggung sendiri jika satu meja dengan Aldebaran.
"Ndin," panggil Al.
Andin menoleh. "Ya?"
"Mulai hari ini kamu adalan calon istri saya, tapi di kantor kamu tetap karyawan saya. Saya hanya nggak mau ada gosip-gosip yang merugikan perusahaan. Jadi, bersikap sewajarnya saja," kata Al menjelaskan.
Andin memutar bola matanya malas. "Iya, Pak Aldebaran," balas Andin. "Yaudah, aku mau berangkat ke kantor dulu."
"Tunggu," cegah Al.
"Kenapa?"
"Saya sudah siapkan supir untuk kamu. Mulai sekarang jangan ceroboh dan seenaknya." Aldebaran memakai jasnya.
Andin hanya mengangguk. Ia lalu segera pergi dan mendapati seseorang tengah menunggunya di samping mobil.
"Pagi, Bu Andin," ucap lelaki tersebut. "Perkenalkan, saya Riza. Mulai hari ini saya adalah supir pribadi Bu Andin," lanjutnya.
"Yaudah, kita berangkat sekarang." Andin masuk ke dalam mobil. Riza kemudian melajukan mobil membelah jalanan Jakarta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please Feel Me at Ease
FanfictionAndini Kharisma Putri tak menyangka jika hidupnya akan berurusan dengan Aldebaran alfahri, laki-laki yang teramat menyebalkan dihidupnya. Bagi Andin, masuk ke dalam dunia Aldebaran adalah sebuah musibah. Hingga ia bertemu dengan Sal Pradipa, seseora...
