"tangan Lo kenapa?" tanya Kenzi heran karena Varen bermain voli tidak seperti biasanya, sedikit kaku meski ditutupi. Tapi tetap saja, biasanya inilah olahraga keahlian Varen, meski kemampuan Varen masih di bawah Kenzi
"Gak papa"
"Boong banget. Muka Lo merah nahan sakit"
"Muka gue merah karena kepanasan kali"
"Lo udah janji jujur" Kenzi menatap Varen kecewa
Varen gelagapan,"i-iya, tangan kanan gue terkilir"
"Kenapa?"
"Kecelakaan mobil waktu itu"
"Oh. Lo gak usah ikut aja kalo gitu. Balik kelas atau UKS sana"
"Gak perlu. Gak terlalu sakit"
"Serah. Awas aja kenapa-napa"
"Gak bakal. Tenang aja"
___________
Varen mengerjakan ujian dengan tangan gemetar, tangannya sangat sakit setelah olahraga tadi. Kepalanya pusing, pikirannya tak fokus. Beberapa kali ia melepas pena untuk merilekskan tangannya
"Tangan Lo sakit?" tanya Kenzi pelan ketika melihat tangan Varen gemetar
Teringat kalau ia harus jujur, Varen menjawab,"iya"
"Cih. Dah gue bilang. Sanggup gak?"
"Sanggup keknya. Dikit lagi selesai"
Kenzi mengangguk, waktu ujian memang sudah hampir berakhir
Setelah waktunya berakhir, mereka disuruh untuk mengumpulkan. Varen dengan segera mengumpulkan ujiannya setelah beberapa orang maju menyerahkan kertas ujian. Setelah menyerahkannya ia langsung memilih untuk tidur di bangku
"ren, guru dateng" ucap Kenzi setelah pergantian jam dan seorang guru memasuki kelas mereka
Varen mengangkat kepalanya, ia menumpukan kepalanya pada sebelah tangannya sambil menunduk sembari berusaha mendengarkan pelajaran
__________
"Lo gak papa?" tanya Nara khawatir melihat wajah pucat Varen. Mereka sedang di lorong kelas setelah bel pulang
Varen tetap mempertahankan pandangannya pada lorong yang makin sepi, sambil sesekali memejamkan mata,"hem"
"Lo pucet. Lo nahan sakit ya? Apanya yang sakit? Kaki Lo masih pincang, Lo gak urut? Ini, maaf ya gue cuma ada segini, kemarin untuk bengkelnya kurang gak?"
Nara sangat khawatir melihat kondisi Varen, ia selalu berpikir Varen seperti ini karena salahnya
Varen memejamkan mata sesaat karena pening mendengar banyak pertanyaan dari Nara,"Lo tadi bilang apa?"
Nara tambah cemas,"Lo apanya yang sakit?" Nara memutuskan untuk bertanya satu-satu
"Gak papa"
"Gue nanyanya apa yang sakit" ucap Nara sambil cemberut
"Gak ada"
"Bohong"
"Nggak"
Mata Nara mulai berkaca-kaca,"tolong jujur, please,..Lo apanya yang sakit?"
Varen menoleh mendengar suara Nara yang sedikit terisak,"nggak papa. Cuma memar-memar dikit"
"Beneran?"
"Hem. Oh ya, ini kembalian dari bengkel" ucap Varen sambil menyodorkan selembar uang berwarna biru yang sudah ia siapkan di sakunya,"maaf baru inget ngasih sekarang"
KAMU SEDANG MEMBACA
be optimistic, Varen!
RandomVaren Urdha Prawara. Semua orang menjauhinya karena ia terkenal yatim piatu dan miskin. meski ia tampan dan pintar, semua orang menutup mata darinya Varen, yang harus berjuang demi sesuap nasi untuknya dan adik-adiknya. Baginya tak apa, yang terpent...
