"bang, nanti gak usah sekolah aja ya?" ucap Arka sambil memandang Varen dengan mata berkaca-kaca
Varen menggeleng,"ujian, gak bisa"
"Tapi-"
"Abang nggak papa, ayo tidur lagi"
"Abang mimisan terus.." Arya mulai menangis. Ia tadi terbangun, melihat abangnya belum tidur dan mimisan
"Nggak papa, kecapekan aja, nanti sembuh.." Varen memejamkan mata karena pening berdebat,"kamu jangan nangis ya.."
"Tapi kata Abang kalo sakit gak usah sekolah.."
"Kan Abang gak sakit"
"Abang mimisan tadi"
"Cuma sekali tadi"
"Bohong, kata kak Nara Abang juga sering mimisan di sekolah" Varen jadi terdiam
Sebenarnya Nara tak pernah cerita ke kembar tiga, ia cerita hanya pada Lila dan kebetulan Arka sedang ada di dekat mereka tanpa mereka sadari
"Abang dah gak papa kok, tidur ya..nanti Arya dan Arsa kebangun"
Akhirnya dengan berat hati Arka mengangguk, dan mulai menutup mata lagi. Begitupun Varen, ini sudah jam 2, ia sedang tak tahan untuk begadang lagi
____________
Hari-hari yang sulit bagi Varen itu, akhirnya berlalu. Ketika sudah selesai ujian, Varen langsung pulang dan tidur, setelah kerja pun tidur
"Jangan bangunin Abang ya, Abang capek banget, biarin Abang istirahat.." ucap Lila pada adik-adiknya
Kembar tiga mengangguk semangat. Lila mengacak surai mereka dengan gemas, dasar anak kecil, mereka selalu melakukan sesuatu dengan semangat
Lama-lama Varen pulih, wajahnya tidak lagi sering pucat karena lelah, ia tampak lebih sumringah dari sebelumnya
Hari terima raport pun tiba, Varen menduduki peringkat 1 di kelasnya, dan peringkat 2 paralel. Tak apa, ia sudah berusaha
Setelah terima raport, Nara langsung menyeret Varen ke mamanya,"ma, ini Varen...em.."
Varen tertawa karena Nara malu-malu memperkenalkannya pada mamanya, ia langsung mengulurkan tangan pada mama Nara dan menciumnya,"apa kabar tan?"
"Oh, akhirnya ketemu lagi ya..tante kangen lho, sekarang kan dah liburan, sering-seringlah main ke rumah"
"Iya tan, makasih.."
"Kalian berdua ada rencanakah habis ini?"
"Saya mau terima raport di SD adik-adik saya tan" ucap Varen
"Oh, ya sudah kalau gitu. Hati-hati di jalan ya nak"
Mama Nara telah mengetahui tentang Varen dan keluarganya. Mamanya justru senang Nara bisa mendapatkan seseorang yang baik, sopan, dan tulus seperti Varen
"Iya, tante dan Nara juga hati-hati. Saya pamit, assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
_______________
"Nara, nanti aku ke rumahmu boleh?" tanya Varen di telpon
"Boleh bangetlah! Kapan?" Tanya Nara antusias
"Habis Maghrib?"
"Oke, oh ya, ada papaku juga lho..nanti kamu kenalan ya"
"Oh, oke. Galak gak?" tanya Varen takut-takut
"Haha, gak kok, tenang aja.."
"Bener?"
"Iya"
KAMU SEDANG MEMBACA
be optimistic, Varen!
CasualeVaren Urdha Prawara. Semua orang menjauhinya karena ia terkenal yatim piatu dan miskin. meski ia tampan dan pintar, semua orang menutup mata darinya Varen, yang harus berjuang demi sesuap nasi untuknya dan adik-adiknya. Baginya tak apa, yang terpent...
