Sudut pandang (name)
Aku mengemudikan mobilku, mencari klinik disekitar sana. Namun, aku malah pergi ke jalan sekolahku.
Sekarang, hari menunjukkan pukul enam pagi. Matahari dengan malu malu menunjukkan cahayanya.
apakah ada klinik yang buka sekarang? Sepagi ini?
Aku merasakan tanganku yang kaku. Aku terus menelusuri jalan, sampai aku menemukan sebuah klinik disana.
Berbekal uang, dan kartu identitas aku menuruni mobil yang kuparkir di parkiran klinik.
Kling...
Bel kecil diatas klinik berdenting saat aku membuka pintunya.
Semua orang melihat kearah ku yang penuh dengan darah yang mengering.
Aku memegangi tanganku yang mulai mati rasa, berjalan kearah meja pendaftaran.
"Tolong... aku terkena peluru salah sasaran." Itulah kata pertama yang aku ucapkan.
orang yang aku ajak bicara kaget melihatku, menghubungi perawat yang lalu datang membawa brangkar.
"Dia butuh penanganan serius. Cepat bawa dia ke ruangan tindakan."
Aku dituntun untuk merebahkan diri diatas brangkar, yang selanjutnya mereka membawaku ke ruang tindakan.
"Perawat, aku datang sendiri kesini. Jadi aku akan bayar biayanya setelah operasi mengeluarkan peluru." Ucapku. Aku bisa saja mengeluarkan peluru ini dengan menekannya keluar atau dengan pisau. Namun, karna peluru ini luka cutter itu kembali terbuka. Aku takut tindakanku yang gegabah menambah parah lukaku.
"Jangan khawatir nak, itu bisa diurus nanti." Perawat itu tersenyum padaku.
Setelah beberapa jam operasi untuk mengeluarkan peluru, aku tidak boleh kemana mana. Dan, ternyata aku kekurangan darah. Kini aku terduduk di ranjang klinik ber cat putih.
Perawat tidak mengizinkan aku pergi kemana mana, padahal aku ingin pergi. Itu sungguh menyebalkan.
Tapi, klinik ini cocok untukku bersembunyi beberapa waktu dari pengejaran. Karna kondisiku yang terluka, mungkin mereka bisa saja dengan mudah menangkap ku.
Tapi, sesuatu berbicara dalam diriku.
Hatiku menyuruhku untuk cepat cepat pergi dari klinik itu. Dan, perasaanku tidak pernah salah.
Melihat kearah dinding, aku melihat jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Dihari Sabtu yang cerah ini, seharusnya aku pergi bersekolah.
Aku lalu berjalan keluar dari kamar, menuju meja pendaftaran.
Seorang wanita menceramahi ku karena aku tetap kukuh ingin pergi dari sana dengan keadaanku yang seperti ini.
Namun, aku tidak ingin berdebat. Aku memberinya sejumlah uang tanpa memberikan identitas ku. Dan aku melenggang pergi keluar dari pintu kecil di klinik itu.
Seorang pria menubruk ku dari belakang, dia terlihat terburu buru keluar dari pintu klinik itu.
Dia menuju parkiran, sama sepertiku. Mobilnya terparkir dibelakang mobilku. Saat aku akan menaiki mobil, aku mendengarnya berbicara dengan seseorang dengan handy talky.
"Maafkan aku tuan sabo, target melarikan diri sekitar pukul tiga dini hari." Ucapnya.
"lalu bagaimana dengan tim alpha?" Seseorang bernama Sabo bertanya lewat handy talky itu.
"Tidak ada yang selamat kecuali saya tuan." pria itu sedikit menjauhkan handy talky dari telinganya.
"APA?! bagaimana bisa kalian gagal menangkap seorang perempuan sementara jumlah kalian banyak?!!" Sabo berteriak.
KAMU SEDANG MEMBACA
berteman dengan iblis
Fantasyone piece x reader Bagaimana jika kamu berada di dalam dunia one piece dan ikut menjadi bagian kru dari mereka? tapi... mereka semua adalah iblis berhati dingin. Mereka tanpa ragu membunuh orang yang menghalangi jalan mereka. apalagi setelah beber...
