2. Haidan Antariksa

354 21 0
                                        


Hari yang sudah berada di tengah-tengah siang dan sore kali ini cukup mendung.

Langkah kaki yang dibawa melangkah ke tempat gundukan tanah berjajar serta harum bunga yang baru ditabur ataupun yang ditanam di dekat makam jadi hal lumrah yang selalu ditemui.

Bunga kamboja yang menjadi sambutan paling handal untuk menyambut para insan yang telah kehilangan.

Langkah kaki jenjang yang berhenti pada gundukan tanah yang tampak masih baru itu mulai berjongkok. Meletakkan buket bunga yang ia bawa pada makam yang telah berpulang.

"Ma, Idan dateng." Kata pembuka untuk menyapa jasad di bawah sana yang telah tenang dalam pangkuan Sang Pencipta.

Biar bagaimanapun Haidan tahan air matanya, tapi tetap saja air asin itu bahkan tidak memberi celah untuk pelupuk mengering.

Lukanya masih basah, kepergian wanita paling ia cintai begitu singkat.

"Mama, cepet banget ninggalin Idan. Idan belum sempet buat Mama bahagia." Kata yang terucap bersama nisan kayu yang ia usap. Nisan putih bernoda tanah makam yang melukis indah bait nama sang Mama.

Tidak pernah terbesit di benak Haidan, Mamanya bisa pergi secepat ini. Tapi, kembali lagi pada usia seseorang tidak ada yang tau kapan akan menemui batasnya.

"Papa bawa wanita lain lagi ke rumah, Ma."

"Idan capek, pengen ikut Mama tapi nggak boleh ya?" sembari terus bercerita kelopak demi kelopak mawar itu jatuh menghias tanah makam yang masih merah.

Lantas tangan Haidan menengadah ke atas, meminta agar yang di Atas mau mengabulkan keinginannya.

Usai doa dipanjatkan Haidan beranjak, terlalu lama di sini benar-benar seperti menabur garam pada luka baru.

Mengusap nisan itu sekali lagi Haidan kembali berucap.

"Idan pulang ya Ma, janji bakal sering-sering ke sini. Idan harap Mama mau dateng ke mimpi Idan."

Jejaknya yang mulai keluar dari pelataran makam pun langsung disambut gerimis yang memang telah menanti.

Melangkah cepat ke arah tempat ia memarkirkan motor, Haidan mulai melajukan motor membelah jalanan Jakarta yang selalu padat kendaraan.

.

Pintu rumah yang dibuka selalu saja sepi yang pertama kali menyambut.

Hawa rumah yang seratus persen berbeda semenjak satu penghuninya berpulang.

Haidan dengan seragam putih abu-abu miliknya yang sudah basah akibat memaksakan berkendara di tengah hujan yang semakin ganas menghujam.

Ingin segera naik ke lantai atas tempat kamarnya berada, tapi pintu kamar milik Papanya terbuka sedikit. Celah yang membuat tungkainya melangkah mendekat.

Mengintip di balik celah tersebut.

Ingin terkejut, tapi hal ini seperti sudah menjadi makanan harian baginya dan juga mendiang sang Mama.

Melihat bagaimana kedua insan di dalam sana menikmati dingin dengan bercumbu ria.

Tangan Haidan terkepal erat, tidak ingin terlalu lama menyaksikan hal semacam itu ia lalu mulai beranjak. Kembali menaiki tangga menuju kamar.

SENJA TERAKHIRCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang