[Bintang]
Ari mematikan sambungan secara sepihak, malas banget dengar ocehan Zellica yang justru bikin mood Ari makin hilang. Cowok itu berdecak, nggak ngerti sama jalan pikiran Zellica.
Tak lama hape Ari kembali berdering, kali ini cowok itu langsung mematikan hapenya dan melepas earpodsnya juga. Biar tenang dikit kalau nggak dapat deringan telpon dari Zellica.
Tak lama setelahnya suara motor berhenti di depan rumahnya, pagar rumah juga terbuka. Jelas ini mah Ajun duluan yang datang, dia kan suka banget bertamu seperti orang yang memiliki rumahnya sendiri.
"Widih, restock nastar." kata Ajun terdengar senang sekali, Ari mendelik malas ketika Ajun meraih toples nastar dan membukanya sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan Ari.
Habis gitu, Ajun sudah sibuk dengan nastar di sana. Padahal tuan rumahnya belum di sapa.
Lalu datang lagi Nandar, kalau dia mukanya kusut banget. Marah sama capek campur aduk, dan lagi, Ari sebagai tuan rumah tak mendapatkan sapaan ketika Nandar merebahkan tubuhnya di sofa yang paling panjang.
Satu lagi nih, tak lama juga nyusul Bintang yang datang paling akhir. Teriakan 'ASSALAMU'ALAIKUM ATUK OH ATUK!' itu membuat Ari agak emosi, salam sih salam, tapi nggak bisa gitu sopan dikit?
"Dih, najis, itu mobil Ayah lu ada tapi lu bilangnya sendiri." sewot Bintang saat masuk ke dalam rumah, cowok itu satu-satunya yang mengajak bicara Ari membuat Ari merasa dihargai sebagai pemilik rumah.
"Baru balik," jawab Ari sambil tosan bareng Bintang, temannya itu memilih duduk di sofa bersama Ari.
Habis gitu hening. Bintang menyandar ke punggung sofa dan memejamkan matanya, Ari ya lanjut mainin gitarnya sambil bersenandung kecil. Nggak usah tanya Ajun sama Nandar kayak gimana.
Satu-satunya yang nggak galau cuma Ajun, cowok yang sedang nyemil nastar itu memandangi teman-temannya bergantian.
Sampai tiba-tiba Nandar mengumpat, "Anjing emang!" begitu katanya. Ajun kaget dan melirik, begitu juga dengan Ari dan Bintang.
"Napa sih?" tanya Ajun dengan polosnya, Nandar menoleh ke Ajun lalu menatap cowok itu tajam.
"Emangnya sikap gua kek anak kecil ya? Padahal gua udah yakin banget gua yang paling waras dari lo bertiga." kata Nandar membuat ketiga temannya mengumpat.
"Sebenernya kata gua, kalau sikap lo kayak bocah berarti si Cherry lebih bocah. Anaknya emang sedikit keras kepala, nggak mau ngalah, terus sok kuat. Sama kayak lo, jadi coba sedikit lebih ngalah di elonya." ucap Ajun memberi nasihat, Nandar berdecak sebal.
"Masalahnya gua udah sering ngalah, Jun, sekali aja dia dengerin gua terus bilang 'iya' emangnya susah? Gua juga bisa capek kali kalau ngikutin kemauan dia mulu sedangkan gua juga ada kesibukan, gua pusing dia apa-apa ngambek mulu kalau gua bilang 'enggak dulu', belum ditambah ngurusin Futsal sama Paskibra mau LPJ sekalian pergantian posisi sama adkel, ada lagi masalah nyokap sama si Naura di rumah perang terus. Gua capek anjir, mau bilang nyesel udah deketin Ayana tapi nggak bisa. Dia persis Naura banget sikapnya, bikin kesel tapi gua sayang." kata Nandar panjang, menjelaskan keluhannya sekarang.
Ribet, ya? Ajun kira Nandar nggak pernah menunjukkan kebucinannya depan teman-temannya karena emang adem ayem aja, ternyata nggak seadem itu.
Tapi, Ajun agak geli pertama kali dengar Nandar yang sedikit memperlihatkan kebucinannya sekarang. Secara gitu biasanya jadi tukang komentarin kebucinan teman-temannya, sekarang liat dia ikut merasakannya malah geli liatnya.
Baru aja Ajun mau merespon keluhan Nandar, Ari menyela cepat.
"Jeli juga begitu anying. Tiap gua tegur jangan begini jangan begitu buat kebaikan dia sendiri, tapi gua malah kena marah balik dia. Masalahnya dari awal gua deketin dia, gua paling nggak bisa ngatasin itu. Susah banget buat negur kebiasaan jeleknya." begitu ceritanya versi Ari, nggak beda jauh kayak Nandar sih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang: The Patrick Couple
Romance[DISCONTINUE] "Yang, kata si Jeli-nya Rindu, kita tuh Patrick Couple. Ehe, itu artinya kita bodoh nggak sih?" ft. Lee Haechan ©eipayow, 2021
