"Itu hanya sebagian kekuatanku, Feng!"
Pangeran Wei terbang dari tempat duduknya. Ia berdiri di tengah para tamu yang datang. Ia melakukan kuda-kuda persiapan. Tangan kanannya membentuk gerakan seperti bentangan sayap burung.
"Mari bertarung, Pangeran Pertama. Kita buktikan!" tantang Wei.
Aku masih tetap memakan hidangan yang tersaji. Tidak, melawan Pangeran Kedua merupakan ide yang buruk. Aku bisa saja terluka parah lagi. What do you do, Oryza?! Kenapa aku menyindirnya!
"Jika tidak, aku yang akan menyerangmu!" Lidah api menari di udara, merusak beberapa tiang. Para tamu panik setelah beberapa tiang telah terbakar. Mereka menghindar ke tempat yang belum terbakar oleh api Wei.
"Pangeran Wei! Anda sudah keterlaluan!" Raja berseru. Raja meluncurkan cemeti yang terbuat dari air, memadamkan api yang menari di udara. Keadaan kembali tenang.
"Kau telah merusak kebahagiaan pagi ini, Wei!"
***
Berantakan.
Acara breakfast tadi sangat kacau. Raja sebagai orang yang mengundang harus turun tangan akibat kejadian tadi. Ini semua dimulai dari balasanku pada Wei. Jika tadi aku tak membalas Wei, acara ini pastilah tak seperti sekarang. Semuanya akan lancar. Tetapi, perkataan Wei yang pedas itu membuatku gatal ingin membalas. Ternyata benar apa kata Jia dan Jingmi. Aku harus berhati-hati pada Wei.
Saat ini, aku berada di Istana Koi, istana tempat Feng atau aku tinggal. Feng sang pemilik istana ini, sangat menyukai ikan koi, bahkan di halaman istana, ada sebuah kolam ikan yang sangat besar. Jingmi dan Jia menemaniku untuk bersantai di halaman belakang istana yang ditanami pohon apel dan jeruk.
"Jingmi, Jia. Mengapa Pangeran Kedua begitu membenciku?" tanyaku.
"Ada apa Pangeran bertanya hal itu?" Jingmi malah bertanya balik.
"Dia … selalu menyinggung kultivasi di dekatku. Apakah benar aku selemah itu?"
"Ti-tidak, Pangeran!" jawab Jingmi dan Jia bersamaan.
"Anda hanya kurang berbakat di bidang kultivasi saja," ucap Jingmi, memperhalus kata 'kau itu bodoh dalam berkultivasi'.
"Ya. Anda kurang berbakat dalam kultivasi, tapi ahli dalam bermain Guzheng," ucap Jia.
"Itukah alasan Wei membenciku?" Aku kembali bertanya.
Jingmi dan Jia terdiam. Aku tahu, sebenarnya kalian ingin mengatakan Wei membenciku karena itu. Namun, kalian tak enak hati untuk mengungkapkannya.
"Jika itu memang benar, tolong carikan cara untuk agar bisa berkultivasi." Aku berbicara lembut.
"Ta-tapi…."
"Ada apa, Jia?"
"Dantian Anda rusak dan tidak bisa diperbaiki. Itu akan mempersulit upaya Anda untuk berkultivasi," jawab Jia.
"Baiklah. Aku ingin kau untuk mencarikan obat-obatan atau apalah bentuknya, yang dapat memulihkan dantian itu." Aku bertitah pada Jia.
"Baik, Yang Mulia Pangeran!" jawab Jia.
"Dan kau Jingmi, latih aku untuk bisa bela diri. Bertahan di tempat ini akan sulit."
"Baik, Yang Mulia!" Jingmi berseru dengan semangat.
"Kita akan memulai itu besok."
***
Pagi hari ini, seperti kemarin, aku mandi di pemandian. Kali ini, Jia tidak membantuku untuk membuka baju. Ia sudah menyiapkan peralatan mandiku di dalam pemandian.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
FantasiTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
