Melelahkan sekali.
Ini barulah hari pertama menjalankan rencana dan aku sudah kehabisan tenaga. Wajar, aku menggunakan Jurus Pembelah Tubuh dan membuat lima klon tubuhku untuk seharian penuh. Dari pelatihan tadi siang, aku mengetahui pasukan Black Lotus Assassin memiliki enam elemen yaitu api, angin, tanah, air, logam, dan daun. Cukup mengejutkan karena desa ini memiliki pengguna elemen daun. Aku akan mengajarkan pada mereka Jurus Seribu Kelopak Lotus. Kuyakin, elemen daun akan menjadi pasukan yang paling mematikan.
Suara ketukan di pintu rumah membuatku harus menunda istirahat. Siapa orang yang tidak sopannya bertamu malam-malam begini!?
Aku beranjak dari kasur yang berisi kapas lembut yang sangat empuk. Ah, jika bukan karena ada orang yang datang, aku tidak mau bangun.
"Siapa yang berani mengganggu istirahatku!?" Aku berteriak sambil membuka pintu. Di depan pintu, salah satu pengawalku sedang berdiri.
"Maafkan saya, Tuan!" Ping, pengawal muda yang memakai baju besi, membungkuk padaku. Jangan tergoda, Oryza. Jangan.
"Ada apa malam-malam kau datang ke rumahku?" ucapku malas, masih kesal karena aku tak bisa cepat-cepat tidur.
"Kepala Desa memberitahu Anda bahwa Tetua Luo sudah kembali dari Ibukota Quon." Quon!? Ah, pasti Tetua berpikir Quon adalah pelaku utama pencurian artefak. Ia ingin memulai dari tempat yang paling memungkinkan.
"Dimana ia sekarang?"
"Tetua Luo berada di rumah Kepala Desa, Tuan," jawab Ping.
"Baik, mari kita ke sana." Terpaksa aku harus menunda istirahatku lebih lama lagi.
***
Suasana di Desa Hutan Terlarang tidak sepi seperti di luar desa. Puluhan pria yang membawa obor untuk berkeliling, menjaga agar tidak ada penyusup maupun monster dan hewan buas yang masuk ke desa. Aku salut, mereka bekerjasama dengan baik seperti ini. Aku hanya tinggal mengarahkan mereka agar mampu melawan pencuri artefak dan pasukannya.
Sesampainya di rumah Tuan Qui, aku masuk ke Ruang Pertemuan yang tepat berada di depan pintu. Tuan Qui duduk di kursi khusus Kepala Desa, dan tetua yang memanggilku duduk tak jauh darinya.
"Salam Tuan Qui, Tetua Luo." Aku membungkukkan badan tanda penghormatan.
"Tidak perlu bersikap serius seperti itu, Tuan Sky." Tuan Qui berucap. Aku bangkit ke posisi semula. "Silakan duduk."
Aku duduk di kursi kecil, menghadap ke Tetua Luo yang sedang meminum teh. Mengapa para Tetua suka sekali minum teh? Apa teh adalah rahasia panjang umur mereka?
"Ada yang ingin kau sampaikan, Tetua Luo?" tanya Tuan Qui.
"Mengenai lokasi Serikat Dagang, Tuan." Tetua Luo menjawab. "Kami telah menemukan tempat yang cocok di Ibukota Kerajaan Quon."
"Bagaimana keadaan di sana, Tetua Luo?" Aku penasaran bagaimana suasana Quon setelah tiga tahun Ruang Dimensi Dewa Pengetahuan atau sembilan bulan waktu dunia ini. Aku memang tidak pernah pergi ke luar istana sebelum kejadian penculikan itu. Jadi, untuk mengetahui situasinya, aku bertanya.
"Cukup baik, dan tempat yang telah kupilih sangat strategis karena berada di persimpangan jalan." Tetua Luo menjawab.
"Apa disana sangat ramai?"
"Sewajarnya sebuah Ibukota Kerajaan, sangatlah ramai."
"Apa rincian dari tempat yang kau pilih, Tetua?" tanya Tuan Qui.
"Sebuah bangunan dua lantai yang digunakan sebagai kedai," jawab Tetua Luo.
"Kita akan mengubah fungsi toko itu atau masih seperti semula?" tanyaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
FantasyTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
