"Selamat, Nak. Kau sudah cukup kuat."
Dewa Pengetahuan--- atau Kakek Jun--- keluar dari serpihan perisai energi penuh asap sambil bertepuk tangan. Tubuhnya tidak terluka sama sekali akibat jurus Telapak Tangan Dewa yang mampu menghancurkan perisai miliknya. Jika ia tak terluka, kenapa Kakek mengakui aku sudah cukup kuat?
"Sejauh ini, tak ada yang bisa menghancurkan perisaiku. Kau satu-satunya makhluk fana yang berhasil menembus perisai seorang dewa." Kakek Jun berucap. Tangannya menepuk bagian hanfu yang kotor yang ia kenakan akibat ledakan.
Aku tak membalas perkataan Kakek. Energiku benar-benar habis setelah menggunakan Jurus Telapak Tangan Dewa dengan kekuatan penuh. Sebenarnya, jika Kakek Jun berniat melanjutkan pertarungan, maka ia akan menang telak. Aku tak memiliki kesempatan saat energi dalam dantian-ku habis. Aku terjatuh ke tanah, dalam posisi terlentang.
"Energimu habis. Sebaiknya kita beristirahat dulu sebelum melanjutkan rencana." Kakek sudah berada di dekatku. Tangan keriputnya meraih badanku. Ia membopongku ke batu yang dinaungi dedaunan rimbun pohon apel di pinggir Danau Qi. Sesampainya di batu, ia menyandarkanku di tempat kesukaanku itu.
"Minumlah air danau ini." Kakek Jun memberikan sebuah botol keramik berwarna putih. Aku mati-matian berusaha meraih botol itu dengan tangan. Dengan segera, aku meminum air Danau Qi yang sangat bermanfaat untuk pemulihan energi. Air sejuk itu masuk ke mulut, mendinginkan saluran pencernaanku. Dantian-ku perlahan terisi energi, mengembalikan sebagian tenaga yang hilang akibat bertarung dengan Kakek Jun. Setidaknya, dengan energi yang sedikit ini, aku bisa leluasa bergerak tanpa rasa lemas.
"Apa maksud Kakek dengan 'makhluk fana yang berhasil menembus perisai dewa'?" Aku bertanya.
"Kau satu-satunya makhluk fana dalam kurun waktu kehidupanku, yang menghancurkan perisaiku," jawab Kakek Jun.
"Seharusnya Kakek mampu mengalahkanku dengan mudah."
"Jika aku melakukan itu, kekuatanmu yang kuat seperti ini takkan muncul." Alasan yang cukup masuk akal.
"Setelah ini, aku harus melakukan apa?" tanyaku.
"Kita akan pergi ke Hutan Terlarang untuk melanjutkan pencarian artefak." Kakek Jun menjawab.
***
Lembab dan gelap. Seperti inilah suasana hutan yang ditakuti oleh orang-orang di sekitarnya, Hutan Terlarang. Setelah tiga tahun berlalu, aku kembali merasakan kesuraman dari hutan dengan segala macam isinya ini. Pemandangannya pun masih sama, remang-remang dengan sedikit cahaya, dan lembab.
"Semuanya tak berubah." Aku bergumam.
"Tentu saja." Kakek Jun menyahut. "Dalam hitungan dunia ini, kau hanya hilang selama sembilan bulan saja."
"SEMBILAN BULAN!" Bagaimana mungkin? Aku berada di Dimensi Kakek Jun selama tiga tahun, atau kurang lebih 1,095 hari. Selama waktu itu juga aku berlatih keras. Melahap segala buku tentang jurus, kultivasi, ramuan, dan beberapa pengetahuan tentang dunia ini. Satu-satunya yang mungkin adalah, waktu di Ruang Dimensi Kakek Jun berjalan lebih cepat daripada dunia. Namun, bagaimana itu bisa terjadi?
"Karena waktu di dalam Ruang Dimensiku berjalan lebih cepat dari dunia. Satu hari di dunia sama dengan empat hari di Ruang Dimensi, lebih jelasnya satu bulan di dunia nyata sama dengan empat bulan di Ruang Dimensi." Kakek Jun menjelaskan panjang lebar. Sudahlah, itu mungkin salah satu kekuatan 'ajaib' Kakek Jun yang tak bisa dijelaskan kepadaku.
"Apa yang harus kulakukan sekarang, Kek?" tanyaku.
"Kau harus pergi ke desa di bagian timur hutan ini." Kakek Jun memberitahu. "Warga desa itu adalah pengikut setiaku."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
FantasíaTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
