Bab 15 "Pemulihan"

331 38 0
                                        

"Danau yang ada di ruang dimensi milikku. Aku akan membawamu ke sana untuk menyembuhkanmu." Seketika itu, pemandangan di sekitarku berubah menjadi tempat yang sangat indah.

"Jadi, inilah ruang dimensi milikmu, Kakek?" tanyaku takjub. Keindahan Istana Koi yang sempat menjadi rumahku tak sebanding dengan keindahan tempat milik kakek yang merupakan seorang Dewa Pengetahuan. Sebuah danau berair jernih terhampar luas di hadapanku. Di sekeliling danau dipenuhi berbagai jenis bunga warna warni yang sedang bermekaran yang menguarkan harum semerbak. Angin sepoi-sepoi meniup bunga, menerbangkan beberapa kelopak yang mulai layu. Puluhan pohon berdiri kokoh dengan jarak beberapa meter dari satu pohon ke pohon lain. Juga, ada sebuah batu besar berbentuk bunga teratai di tengah danau yang luas. Tak jauh dari danau, beberapa gunung besar menjulang ke langit, menambah keindahan ruang dimensi milik Kakek Jun. Cahaya matahari tidak terlalu membakar kami padahal sudah berada di puncak langit. Bukan sesuatu yang bisa kudapatkan di kota tempat tinggalku, maupun Kerajaan Quon.

Seandainya aku membawa ponsel ke sini, aku pasti akan memfoto pemandangan indah ini.

"Pemandangan indah ini hanyalah kulit luarnya saja. Disini, tersimpan catatan-catatan penting tentang alam semesta," ucap Kakek Jun.

"Apa artefak yang kakek jaga disimpan disini?" tanyaku.

"Tidak," jawab Kakek, "artefak Dewa Kegelapan ditenggelamkan ke bumi ribuan tahun lalu. Perisai yang telah dibuat oleh para Dewa untuk menutupinya telah raib, hingga seorang manusia biasa mampu mencuri artefak yang dipercayakan para Dewa kepadaku."

"Lalu, kenapa kakek tidak melacaknya?"

"Tidak bisa. Orang itu diselubungi aura kegelapan yang sangat kuat. Itu artinya, dia sudah menyerap artefak Dewa Kegelapan dengan sempurna."

"Aku harus berjuang keras demi mengalahkannya! Mohon bantuanmu, Kakek!" Aku membungkuk pada Kakek Jun penuh harap.

"Aku tidak akan menelantarkanmu, Nak. Bangkitlah." Aku bangkit setelah Kakek Jun memberikan perintah.

"Apa yang harus kulakukan pertama kali, Kek?"

"Kau harus berkultivasi terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, kau harus memiliki tenaga yang prima. Beristirahatlah dulu, Nak." Kakek Jun menyuruhku untuk beristirahat. Lagipula, beberapa jam lalu, aku diserang oleh para penyusup yang menyebabkanku terluka parah dan lemas tanpa tenaga. Aku perlu memulihkan tenaga yang sudah hilang, meskipun luka yang kualami sudah disembuhkan oleh Kakek Jun.

Aku berjalan ke tepi danau berair jernih itu. Air danaunya sangat bening hingga aku bisa melihat bebatuan yang ada di dalam danau. Ikan sama sekali tak kutemukan di danau ruang dimensi Kakek Jun, tidak seperti danau pada umumnya. Aku tergoda dengan jernihnya air danau, hingga kedua telapak tanganku kucelupkan ke air untuk mengambil air yang sejuk itu. Dengan puas, aku meminum air yang kuambil langsung dari danau. Betapa terkejutnya aku, air danau ini lebih sejuk dari air manapun yang pernah kuminum. Rasanya sedikit berbeda dari air biasanya. Airnya agak manis, dan sejuk seperti embun pagi.

"Hwaahh … sejuk sekali airnya!" Aku berseru kagum baru pertama kali meminum air sesejuk ini. Selain sejuk, aku merasakan kelegaan setelah meminum air itu. Tenagaku yang sempat terkuras terisi kembali setelah meminum air dari Danau Qi.

Mendengar ucapanku, Kakek Jun tersenyum. "Tentu saja sejuk, Nak. Air danau itu bukan air biasa. Itu adalah air Danau Qi."

"Ini bukanlah air yang sering kuminum di dunia asalku maupun disini." Aku kembali mengambil air dari danau lalu meminumnya.

"Puaskanlah dirimu dengan air itu, dan jangan lupa untuk tidur. Esok, kita akan berlatih kultivasi," ucap Kakek Jun.

"Baik, Kek!" jawabku.

***

Keesokan harinya, sesuai perkataan Kakek Jun, aku akan berlatih kultivasi. Aku agak kebingungan dengan ucapannya itu. Aku 'kan tidak bisa berkultivasi, mana mungkin aku akan berlatih?

Setelah bangun dari tidur nyenyak semalaman, aku membasuh muka dengan air sejuk dari danau. Seketika itu, mukaku yang masih kusut menjadi segar kembali. Betapa segarnya air danau ini.

Kakek Jun menaruh beberapa buah apel di atas batu di pinggir danau. "Makan apel ini. Setelah makan, berjalanlah ke batu lotus di tengah danau."

Aku mengangguk atas ucapan Kakek. Perlahan, aku memakan buah yang disediakan olehnya sebagai sarapan pagi ini.

"Duduklah di batu lotus di tengah danau itu, Nak." Aku berjalan ke tengah danau sesuai perintah dari Kakek. Air danau yang sejuk bersentuhan langsung dengan kulitku yang kuning langsat. Aku terus berjalan ke tengah hingga air danau mencapai daguku. Terpaksa, aku berjinjit demi melanjutkan perjalanan. Sedikit demi sedikit, air danau yang beriak masuk ke dalam mulutku. Sangat segar, lebih segar dari air dingin yang kauminun saat panas hari.

Setelah mencapai batu yang berbentuk bunga teratai, aku memanjat melalui ukiran batu yang berbentuk kelopak-kelopak. Aku duduk di area bundar tepat di tengah batu.

"Duduklah dalam posisi bersila!" teriak Kakek Jun dari ujung danau. Aku duduk bersila di batu, merilekskan seluruh tubuh.

Dewa Pengetahuan Jun Shilin membentuk sebuah bola besar dengan kedua tangannya. Bola itu diluncurkannya ke arahku. Bola berwarna hijau terang itu meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi. Aku menutup mata, takut bola itu akan melukai sangat parah.

"Tarik napas dalam-dalam, Nak. Jangan tutup matamu!" Aku mengatur napasku seiring bola besar itu mendekat. Setelah beberapa detik, bola itu benar-benar menabrak diriku. Sakit luar biasa langsung kurasakan setelah berbenturan dengan bola hijau terang yang besar itu. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Bagaimana tidak? Perutku serasa diaduk-aduk dengan pisau tajam. Jika aku bisa melihat perutku sekarang, pastilah isinya penuh dengan darah.

"Bertahanlah, Nak! Aku sedang memulihkan dantian-mu!" Kakek Jun yang merupakan seorang dewa berteriak.

Mulutku memuntahkan cairan hitam kental, membuat baju putih kumal penuh darahku semakin kotor. Seiring waktu, perutku semakin sakit akibat energi yang dilontarkan Kakek Jun padaku. Aku berteriak sekencang-kencangnya, meluapkan rasa sakit yang sudah tak tertahankan.

"Aaarrgghh!"

Napasku tercekat, seperti ada yang sedang mencoba mengambil sesuatu yang tak terlihat dari dalam tubuhku. Sedetik kemudian, aku kembali memuntahkan cairan hitam kental. Namun, setelahnya tak ada rasa sakit yang kurasakan. Lega sekali, seperti saat kau berhasil mencabut secuil daging yang tersangkut di gigimu.

"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Kakek Jun.

"Aku baik … baik saja, Kek," jawabku. Setelah peristiwa menyakitkan tadi, aku merasakan sesuatu yang asing masuk ke dalam tubuh. Sebuah kenyamanan, kelegaan, dan ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

"Kembalilah ke tepian!" seru Kakek Jun. Aku menceburkan diri ke danau berisi air jernih ini sesuai dengan perintahnya. Aku berenang pelan ke tepian, hingga akhirnya aku sampai ke dekat Kakek Jun yang berdiri di pinggir danau.

"Kau merasakan sesuatu yang belum pernah kaurasakan sebelumnya?" tanya Kakek Jun.

"Ya, Kek," jawabku, "aku dapat merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya."

"Itu artinya kau sudah bisa berkultivasi."

"Apa benar, Kek?" tanyaku heran. Tidak mungkin semudah ini memulihkan dantian-ku yang rusak sejak lahir. Jingmi dan Jia sebelumnya berkata bahwa dantian-ku hanya bisa dipulihkan dengan keajaiban.

"Tidak mungkin aku berbohong padamu. Kau juga merasakan ciri-ciri orang dengan dantian yang baru terbuka," jawab Kakek Jun.

Akhirnya, setelah sekian lama aku harus bersabar, hari ini datang juga. Aku sudah bisa berkultivasi dengan dantian yang baru pulih. Aku bisa meneruskan rencana mencari orang yang telah mencuri artefak kuno dari Kakek Jun. Aku tidak boleh menyerah, demi kembali ke tempatku sebelumnya. Perjuanganku tak boleh sia-sia. Aku harus berhasil.

_____________________________________

Jangan lupa vote dan comment yaa!

The Trash PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang