Hutan Terlarang tidak semenyeramkan saat pertama kali aku ke tempat yang terkenal penuh monster ini. Entahlah, kegelapan hutan tidak membuatku takut. Tentu saja sekarang aku mempunyai kekuatan besar. Siapapun yang berani menyerangku, aku tak segan untuk meremukkan tulang-tulangnya.
Akar pepohonan mencuat saat aku menggunakan esensi kekuatan tanah, yaitu kehidupan, penopang, dan penunjuk arah. Berpadu dengan elemen daunku, akar itu mengarah ke bagian timur hutan, lokasi desa Hutan Terlarang berada. Jurus Peringan Tubuh menjadi andalanku saat hendak bepergian jauh. Pepohonan di hutan ini mempermudah pergerakan dimana aku tinggal melompat dari satu dahan ke dahan lain.
Setelah sekian menit aku berlari, susunan bambu yang digunakan sebagai gerbang berdiri kokoh dapat terlihat jelas. Beberapa orang berjaga di sekitar gerbang. Mereka semua memakai baju besi. Di pinggang mereka, sudah menggantung senjata yang akan digunakan saat melihat ancaman.
"Tuan Sky?" Aku menjejakkan kaki tepat di depan para penjaga gerbang. Mereka mengacungkan pedang ke arahku. Namun sedetik kemudian memasukkannya kembali ke sarung di pinggang.
"Maafkan aku karena muncul tiba-tiba." Aku menggunakan jurus penekan aura, hingga para penjaga tidak dapat merasakan hawa kedatanganku. Wajar saja, aura orang berkutlivasi tinggi sulit dideteksi oleh orang yang lebih lemah.
"Anda memang murid dari Yang Mulia Dewa Pengetahuan." Mereka semua membungkukkan badan sedikit ke arahku.
"Sudahlah." Aku mengangkat tangan kananku, kode agar mereka berdiri tegak. "Kembali ke tempat kalian. Aku akan menemui Kepala Desa."
"Baik, Tuan Sky!" Penjaga yang berjaga di gerbang kembali ke tempat mereka masing-masing.
Aku kembali melangkah, masuk ke gerbang pembatas hutan dan area desa. Jajaran rumah kayu beratap daun kelapa tidak berubah semenjak aku pergi ke Ibukota Quon untuk menjalankan misi. Tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang di desa ini. Sebagiannya sudah kulantik menjadi anggota Black Lotus Assassin dan Serikat Dagang. Aku khawatir jika desa ini tidak dihuni banyak orang, maka monster hutan akan mudah menyusup. Bahkan, bisa saja ada kerajaan tertentu yang menghancurkan kehidupan yang damai di desa ini. Seperti kedatangan Wei dan pasukannya ke desa timur Hutan Terlarang beberapa waktu lalu.
Aku telah sampai di rumah besar yang dipenuhi penjaga berbaju besi. Mereka langsung menghampiriku dan melakukan salam hormat sambil membungkuk.
"Salam, Tuan Sky." Serentak mereka mengucapkan salam.
"Bangkitlah." Mereka kembali berdiri tegak.
"Kepala Desa sudah menunggu di dalam, Tuan." Salah seorang penjaga berucap.
"Ya. Aku akan menemuinya."
Para penjaga kembali ke tempat mereka. Aku mendekati pintu ganda yang langsung dibukakan oleh dua orang yang sedang berjaga di pintu. Aku melenggang masuk, menghampiri sang pemilik rumah yang sedang duduk di kursi khusus untuk pemimpin desa ini.
"Salam, Kepala Desa Hutan Terlarang, Tuan Qui." Aku meletakkan tangan kanan di dada, membungkuk ke arah Tuan Qui yang menatapku sendu.
"Anda tak usah merendah seperti itu, Tuan Sky."
Aku bangkit, berdiri menghadap ke orang yang duduk di kursi besar.
"Anda adalah orang yang harus dihormati." Aku membalas ucapan Tuan Qui.
"Duduklah, Tuan. Ada hal yang ingin kusampaikan." Aku duduk di kursi terdekat dengan Tuan Qui.
"Aku juga akan menyampaikan hasil penyelidikan beberapa bulan terakhir."
"Begini, Tuan. Beberapa waktu lalu, Pangeran Weiheng dari Kerajaan Quon datang ke desa untuk mencari Pangeran Feng."
"Aku sudah mengetahuinya dari surat Anda, Tuan," balasku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
FantasyTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
