"Jangan berlari, Yang Mulia!"
"Kejar aku kalau bisa!"
Seorang anak laki-laki berlarian di taman penuh bunga. Anak laki-laki itu bergerak lincah meski hanfu panjang yang ia kenakan hampir menyentuh tanah. Perempuan ber-hanfu coklat terus mengejar sang anak. Namun apa daya, perempuan itu tak bisa melalui celah kecil antar tanaman bunga yang hanya bisa dilalui orang yang ia panggil 'Yang Mulia' itu.
"Yang Mulia…." Perempuan itu menghentikan langkahnya. Ia memegangi kedua lutut, dadanya naik turun dengan cepat karena kehabisan napas.
"Kau payah sekali, Jia." Sang anak yang dikejar oleh perempuan bernama Jia itu berbalik. Mata coklatnya mendelik. Ia kembali masuk ke celah antara dua pohon bunga mawar yang penuh duri, menghampiri sang perempuan muda. "Aku yang tak bisa berkultivasi saja bisa mengecohmu."
Ekspresi perempuan yang mirip dengan pelayan Pangeran Feng itu seketika berubah. Ia tersenyum getir, senyum palsu untuk menghibur sang anak. Sekarang aku tahu, anak itu adalah Pangeran Feng kecil. Sedangkan perempuan yang mengejarnya adalah Jia yang terlihat lebih muda dari Jia yang kukenal.
Feng kecil sudah mengetahui bahwa ia tak bisa berkultivasi. Wajahnya yang masih polos pasti menyembunyikan perasaan sedih. Anak kecil mana yang sanggup menerima fakta yang begitu menyakitkan? Tidak ada. Bahkan bagiku. Orang dewasa saja belum tentu bisa melakukannya. Apalagi seorang anak berusia sepuluh tahun.
"Ya. Anda benar." Jia dalam versi yang lebih muda membalas ucapan Feng kecil. "Saya bukanlah tandingan Anda."
Pemandangan cerah berubah menjadi gelap. Jajaran pepohonan yang rapat menggantikan indahnya bunga mawar merah yang mekar di taman.
Aku bangkit, menyandarkan punggung ke batang pohon kokoh yang berdahan banyak. Keempat bawahanku masih tertidur bersandar ke pepohonan di Hutan Terlarang. Kami semua tidur tanpa alas. Tanah hutan yang lembab menjadi teman kami saat tidur. Api unggun masih menyala di tengah kami berempat. Sengaja dibuat tetap menyala agar tidak ada hewan buas yang mendekati.
Aku bangkit, berjalan ke arah hanfu penuh darah yang diletakkan di bawah pohon. Seutas tali melintang di atas baju tradisional China itu. Bekas sayatan di pohon masih ada, walau sudah menghilang sebagian. Tak ada bau amis darah yang tercium. Pastinya darah sudah terhapus air hujan yang mengguyur hutan selama setahun ke belakang.
"Seandainya mereka langsung membunuhku saat itu…." Aku bergumam sendiri. Sensasi perih kerap kali muncul saat aku mendekati pohon yang merupakan saksi penyiksaan. Sekujur tubuhku saat itu penuh dengan luka. Para penculik menyayat hampir semua bagian tubuhku dengan racun yang semakin memperparah keadaan. Beruntungnya, Kakek Jun datang dan menyembuhkanku dari segala luka dan racun.
Mengenai kejadian itu, mengapa Raja tidak curiga kepada Wei dan Yongsheng? Mereka berdua merupakan kandidat terkuat untuk Putra Mahkota. Saat ada kejadian penculikan Pangeran Pertama, pastilah membuat kondisi kerajaan semakin panas. Entah mengapa Wei masih bisa lolos dari hukuman. Apa karena tidak ada bukti kuat untuk menjeratnya?
Dalam hati aku bertekad, aku akan membuktikan bahwa Wei merupakan dalang utama dari kejadian penculikan. Apapun yang terjadi, demi membalaskan dendam Feng, Wei harus kukalahkan. Kecurigaanku mengenai pelaku pencurian artefak Dewa Kegelapan masih kepada Wei. Jika dugaanku benar, aku bisa membidik dua sasaran dengan satu anak panah saja. Namun aku harus hati-hati. Gelar jendral cerdasnya bukanlah omong kosong.
Seekor merpati terbang melewati pepohonan yang terkena cahaya api unggun. Burung itu mendarat di tanah dengan mulus. Sepucuk kertas terjatuh dari kaki kecil sang merpati. Aku langsung membuka gulungan kertas yang kecil itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
FantasyTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
