"Tolong ambilkan ramuan pemulih energi."
"Basuh luka Tuan Sky. Jangan sampai lukanya semakin dalam."
"Tubuh Tuan Sky terkena sedikit percikan dari energi kegelapan."
"Orang yang memiliki kekuatan penyembuhan, tolong alirkan kekuatan kalian pada beliau."
"Jangan sampai tubuh Tuan Sky membusuk. Beliau hanyalah satu-satunya harapan kita."
Mataku masih tertutup, tapi telingaku masih menangkap keributan di sekitar. Mereka yang berada di sekitarku sibuk untuk mengobati semua luka. Tidak jelas suara siapa saja yang berbicara. Campur aduk karena saking ramainya.
"Pembusukan sudah terjadi di area dada. Perkuat aliran penyembuhan!"
"Kami kehabisan energi!"
"Tidak! Tetaplah berusaha!"
Tetaplah berusaha. Percuma saja kalian mengalirkan energi penyembuhan. Sebuah pohon langsung membusuk seketika saat terkena energi kegelapan dari Wei. Hanya cahaya yang mampu melawan kegelapan. Sedangkan di desa ini, tidak ada orang yang mempunyai elemen spesial itu. Hanya aku saja seorang, dan aku sekarang tidak memungkinkan untuk mengeluarkan jurus cahaya karena keadaan.
"Bagaimana jika kita rawat Tuan Sky di cincin ruang miliknya? Yang Mulia Dewa pasti memberikan sesuatu untuk Tuan Sky di sana." Seseorang memberikan pendapat.
"Cincin ruang hanya bisa dimasuki oleh sang pemilik dan orang yang telah diizinkannya. Tuan Sky belum mengizinkan siapapun diantara kita untuk masuk ke cincin ruangnya." Suara lembut tapi tegas membalas orang yang mengeluarkan pendapat tadi.
Sebaiknya aku masuk saja ke ruang dimensi Kakek Jun. Setidaknya di sana ada air dari Danau Qi yang merupakan air kedua yang paling suci setelah Air Ilahi milik Dewa Alam.
"Kalian semua…."
"Astaga! Tuan Sky sudah sadar!"
"Syukurlah!"
"Ada apa, Tuan?" Sesorang berbisik tepat di telingaku.
"Pergi … biarkan aku … sendiri…."
"Tapi Tuan, keadaan Anda saat ini masih parah." Orang itu kembali berbisik, membalasku.
"Aku akan … masuk ke cincin ruang…."
"Baiklah jika itu keinginan Anda."
Derap langkah kaki ramai bergerak ke satu arah, mungkin pintu keluar. Aku tidak bisa memastikan itu. Sekarang, aku bisa bebas masuk ke ruang dimensi di cincin pemberian Kakek Jun tanpa satupun orang yang melihat.
Alas tidur yang empuk berubah menjadi rerumputan yang penuh embun. Ini pasti padang hijau dekat dengan Danau Qi.
Aku mencoba untuk bangkit, tapi sekujur tubuhku mendadak bergetar dan ngilu. Sakit mendera setiap tulang, membuatku kembali berbaring di rerumputan.
Seharusnya aku membiarkan satu orang untuk membantu. Sekarang bagaimana caraku untuk meraih air danau?
"Oryza?" Suara itu … sudah lama aku tidak mendengarnya.
"Kakek?" Aku memekik senang. Sudah dua tahun kurang lebih aku tidak bertemu dengannya. Hatiku lega. Kini penolongku sudah datang.
"Aku akan mengambilkan air danau untukmu." Langkah kaki sang Dewa Pengetahuan merambat lewat tanah hingga suaranya mencapai telingaku. Beberapa detik, suara langkah itu hilang. Namun muncul lagi sedetik kemudian. "Buka mulutmu."
Kakek Jun meletakkan sebuah benda licin di mulutku. Aku membuka mulut, membiarkan cairan segar meluncur ke kerongkongan hingga ke perut. Dantian milikku dipenuhi oleh energi qi dari air Danau Qi. Tubuhku kembali bertenaga. Mataku perlahan terbuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
FantasíaTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
