Asap membumbung tinggi ke langit. Api membakar habis kayu yang telah disusun sedemikian rupa sebagai tempat untuk pengkremasian mayat-mayat yang sudah membusuk. Orang-orang di desa berkumpul di lapangan belakang rumah Tuan Qui. Melantuntan mantra mengiringi upacara terakhir bagi para pejuang.
Aku meneteskan air mata. Mereka, para anggota Black Lotus Assassin, berjuang mati-matian untuk memenuhi perintah dari Dewa Pengetahuan. Seminggu yang lalu, pertempuran pecah di pedalaman Hutan Terlarang. Banyak korban berjatuhan. Kini, di hari ketujuh setelah perang, upacara pelepasan jasad para anggota Black Lotus Assassin digelar. Upacara terakhir, karena sebagiannya sudah dilakukan di hari-hari sebelumnya.
Salah satu tetua desa memimpin upacara pengkremasian. Ia memandu warga untuk melantunkan mantra kepada para pejuang yang telah gugur. Aku hanya bisa diam, tak kuat mengikuti. Tangisan dari orang tersayang para anggota Black Lotus Assassin menimbulkan kesedihan yang kentara. Apa yang bisa kau lakukan sekarang, Oryza? Bukankah kultivasimu di Langit Tahap Satu? Mengapa kau tak bisa berbuat apapun kepada para bawahanmu yang telah meninggal?
Setelah beberapa waktu berlalu, pembacaan mantra telah selesai. Lantunan mantra doa digantikan dengan tangisan yang semakin jelas.
"Tuan Sky, mohon berikan sepatah dua patah kata kepada para warga. Mereka membutuhkan Anda." Tetua yang memimpin upacara mmeyelesaikan pembacaan mantra. "Saya mohon, Tuan."
"Tidak. Aku tidak bisa, Tetua." Aku menunduk, menghindari tatapan sang tetua.
"Jika bukan Anda, siapa lagi yang bisa?"
"Baiklah." Tidak ada pilihan lain. Sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas segala yang terjadi, aku harus mengatakan sesuatu.
Aku maju selangkah. Menatap satu persatu warga yang pipinya sudah basah dengan air mata. Keadaan menjadi hening. Tidak ada suara selain dari api yang terus melahap kayu hingga menjadi abu.
"Warga Desa Hutan Terlarang." Para warga menatap ke arahku dengan mata yang berlinang. Kumohon, jangan tatap aku. Tolong jangan bawa kesedihan yang sama. Aku tidak mampu lagi. Rasa bersalah menggenggam hatiku.
Kau harus tetap bertanggung jawab, Oryza. Kau adalah penyebab mereka meninggal.
Jantungku berdegup kencang. Gemetar, seluruh tubuhku bergetar menahan gejolak kesedihan yang siap keluar melalui mata. Namun semuanya harus diberi balasan. Aku sedang menghadapi balasan dari apa yang telah kuperbuat.
"Para pejuang telah gugur, membela tujuan mulia perintah dari Yang Mulia Dewa Pengetahuan." Bah, tujuan mulia apanya? Hanya tujuan egoismu untuk memenuhi perjanjian dengan Kakek Jun. Kau katakan itu tujuan mulia?
"Maafkan aku, atas segala yang terjadi. Aku pantas dihukum karenanya." Aku menjatuhkan pedang, menimbulkan bunyi kelontang keras di tanah. Aku berlutut ke hadapan puluhan warga yang menyaksikan upacara terakhir bagi para anggota Black Lotus Assassin. Tangisan yang sedari tadi kutahan lolos begitu saja.
"Tuan? Apa yang Anda lakukan?"
"Jangan lakukan itu, Tuan."
"Tuan janganlah bersedih."
Perkataan para warga semakin membuatku merasa bersalah. Mengapa aku tidak pantas melakukan ini? Bukankah ini harus kulakukan?
Aku memungut pedang yang tadi kujatuhkan. Pedang legendaris dari Ruang Dimensi Kakek Jun. Setidaknya, elemen cahaya di pedang ini bisa menebus dosa-dosaku.
Ampuni aku, Tuhan.
"Jangan jadikan kematian para anggota Black Lotus Assassin sia-sia, Iza."
Kakek Jun?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
FantasiTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
