Tidak ada jarak berarti antara aku dan musuhku. Entah itu sekarang di medan perang, ataupun dulu saat masih berada di istana. Dia, adik dari Pangeran Fengying, Pangeran Weiheng atau Wei, berhadapan denganku. Zirah emasnya masih sama saat pertama kali aku bertemu dengannya. Berkilau dan kokoh, seperti sang pemilik.
Ingatanku kembali ke waktu pertama kali aku terbangun di tubuh Feng. Saat aku tidak mengenali siapapun, dan masih kebingungan atas semuanya.
"Ini semua gara-gara kau, Wei!" Si kakek berbalik, memandang seorang remaja yang mengenakan zirah emas di ujung tempat tidur. Ia membentak remaja itu.
"Mengapa Ayahanda menyalahkan saya? Bukankah itu duel?!" Sang remaja membalas kakek yang merupakan Raja itu. Ia sama sekali tak takut oleh Raja yang menatapnya tajam.
"Kau sengaja melukai saudaramu yang tak bisa berkultivasi dengan kekuatan penuh!" Raja bangkit, mendekati si remaja yang melawannya. Matanya merah membelalak.
"Ya, Ayahanda lebih mempedulikan sampah Quon itu daripada aku!"
"Dasar tak tahu batasan!" Raja membentak si remaja. "Aku akan memotong seperempat jumlah pasukanmu!"
Memikirkan hal itu membuatku bertanya-tanya. Mengapa Raja pilih kasih? Mengapa ia lebih memilih Feng sebagai Putra Mahkota daripada Wei yang merupakan anak yang jenius?
"Dari dulu, Ayahanda selalu pilih kasih. Tanpa sadar menimbulkan permusuhan di kerajaan sendiri."
"Jaga perkataanmu, Pangeran Kedua!" Raja membentak si remaja. Tangan kanannya sudah terangkat.
"Bukankah itu kebenarannya, Ayahanda?" Remaja itu bertanya dengan nada tinggi. "Anda lebih memilih sampah sepertinya untuk menjadi Putra Mahkota daripada aku yang seorang jenius kultivasi!"
Wei sama sepertiku— sebagai Oryza. Memiliki ayah yang pemarah, tidak mempedulikan anaknya sendiri. Namun yang kulihat dari Raja Ho Hongli adalah kelemahlembutan dan kasih sayang. Ia sangat penyayang pada Feng. Apa hal itu berlaku juga pada ayahku? Apakah seorang pria yang bernama Aaron Sky memiliki kelemahlembutan dan kasih sayang jauh di lubuk hatinya yang terdalam?
Setetes air jatuh dari mataku. Wei melakukan semuanya hanya untuk mendapatkan pengakuan dari ayahandanya, Raja Ho Hongli. Namun, apakah melukai saudaramu dan mengkhianati kerajaan tempat kau tinggal bukanlah sebuah kejahatan? Ia bahkan bersekutu dengan jendral kerajaan musuh.
Bah, kau juga melakukan itu, Oryza. Melukai Wei dan membuat kesepakatan dengan Jendral Gong. Jangan munafik. Tetapi setidaknya aku lebih baik. Aku tidak akan mengkhianati sekutuku sendiri.
Sang Pangeran Kedua turun dari kudanya. Ia melepaskan pedang dengan kekuatan besar dari sarung yang terselip di pinggang, Pedang Empat Elemen. Namun, empat prajurit pyang memakai zirah perak turun dari kuda. Menghalangi jalan Wei.
"Yang Mulia, biar kami dahulu yang menghadapinya." Salah seorang yang memakai baju besi perak berucap sambil membungkukkan badan.
"Tidak." Wei mengangkat tangan kirinya. "Ini adalah pertarungan antara aku dan si sampah itu."
Sang Pangeran Kedua melompat, mendekat ke arahku dengan berlari di udara. Jurus Peringan Tubuh ia gunakan tanpa pengucapan. Kesaktiannya benar-benar diluar dugaan.
Aku menyiapkan kuda-kuda, memegang erat pedang untuk mengantisipasi serangan Wei yang tidak terduga. Pangeran Kedua Quon itu melayangkan beberapa bola api, yang dengan mudah kutangkis.
Pengalihan. Ia ingin fokusku terpecah pada bola api itu.
Energi elemen air menguar dari tubuhku. Energi yang berbentuk seperti cahaya yang berwarna biru itu berubah menjadi kubah air yang melingkupi sejauh sepuluh meter ke setiap arah. Seperti yang kuduga, Wei menyabetkan pedangnya ke pelindungku dari arah belakang. Kubah air yang baru terbentuk langsung hancur berkeping-keping. Aku berbalik, memandang Wei yang berdiri sambil mengacungkan pedangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
FantasyTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
