"Jawab dengan jujur! Siapa. Kau. Sebenarnya." Wei berucap penuh penekanan. Tangannya sudah memegang pedang di pinggang. Sial, aura Wei semakin pekat.
"Bukankah dia sudah mengatakannya?" Jendral Gong membalas ucapan penuh intimidasi Wei. Namun sang Pangeran Kedua malah menatap partnernya yang saling memiliki perjanjian.
"Asal usul orang ini sangat mencurigakan, Jendral Gong." Wei menghentikan aliran qi ke hanfu penuh darah yang telah kutaruh di bawah pohon penuh guratan. Ia berdiri tegak, menghampiri Jendral Gong yang sama sekali tak terpengaruh dengan aura pekat Wei. Mungkin ia sudah familiar dengan aura Wei yang mengintimidasi ini.
"Bukankah cukup masuk akal saat warga desa di hutan ini menemukan bekas pakaian kakakmu?" Mata hitam Jendral Gong membulat dari balik helm besi yang berlubang untuk telinga, mata, hidung, dan mulut yang dikenakannya. "Bagaimana hasil penyelidikanmu waktu itu di sini?"
"Warga desa Hutan Terlarang memiliki ilmu turun temurun yang membuat mereka semakin kuat. Mereka menutup rapat mengenai rahasia itu." Aura intimidasi Wei berkurang seiring embusan napasnya yang terdengar jelas. Sejak tadi, Wei pastinya geram ingin menggorok leherku dengan pedang besar di pinggangnya. Syukurlah Jendral Gong berhasil meredakan itu dengan pertanyaan yang cukup masuk akal.
"Bukankah itu membuktikan bahwa Iza adalah salah satu dari mereka?"
"Namanya terlalu aneh untuk seorang warga desa hutan yang jarang didatangi ini."
"Anda terlalu curiga pada kami, Pangeran Wei. Padahal kami sudah memenuhi perjanjian." Kali ini, Jendral Gong yang mengeluarkan hawa pekat. Aku dapat melihat para pengawal yang mengikuti kedua jendral bergidik ngeri. Padahal menurutku, aura Jendral Gong tidak lebih pekat dari Wei.
"Tenanglah, Jendral." Wei berucap dengan nada lembut yang dibuat-buat. Bukan seperti sifatnya saat di Istana Quon. "Kami juga sudah memenuhi perjanjian."
Wei menganggukkan kepalanya. Kode bagi para pengawal sang Pangeran Kedua. Para pengawal yang mengikuti Wei langsung mendekati kereta-kereta yang penuh dengan peti. Mereka mengantarkan kereta-kereta itu ke barisan prajurit Qing yang memakai zirah hitam sama seperti Sang Jendral. Para prajurit Qing langsung mengamankan kereta dari Wei.
"Baiklah, Jendral Gong. Tugasku disini sudah selesai." Wei berucap. "Aku akan kembali mengeksplorasi situs artefak kuno yang dulu kutemukan."
Situs artefak kuno? Apa yang dimaksudnya adalah artefak Dewa Kegelapan yang telah hilang?
Ternyata selama ini kecurigaanku mengenai artefak itu benar. Wei yang menemukan hal yang dijaga oleh Kakek Jun itu. Aku harus segera menghubungi Tuan Qui dan Tetua Luo mengenai hal ini.
"Aku dan pasukanku juga akan kembali ke Qing." Jendral Gong membalas ucapan Pangeran Kedua Quon itu. "Ayo semuanya!"
Atas komando dari Jendral Gong, pasukan Qing kembali bergerak ke arah selatan. Jendral Gong tidak mau mengambil resiko dengan menempuh jalan tersingkat yaitu ke arah utara menembus pedalaman Hutan Terlarang yang penuh dengan monster ini.
"Maafkan kesalahan saya, Yang Mulia Pangeran." Sebelum berangkat, aku membungkuk terlebih dahulu pada orang yang mencurigaiku. Aku tidak boleh menunjukkan rasa kesal di hadapan sang Pangeran Kedua itu. Biarlah kekesalan terwujud lewat siasat yang sudah dibuat. Tidak boleh diketahui oleh musuh kita.
"Aku akan tetap mengawasimu, Iza." Wei menggeram. Aku langsung pergi dengan para bawahanku, menyusul Jendral Gong yang sudah menaiki kuda untuk kembali ke kerajaannya.
***
Dua ekor merpati terbang diantara buliran salju yang terus turun di daerah dingin abadi ini. Gawat. Sekarang Wei mulai mencurigaiku akibat telah menyiapkan apa yang Wei inginkan. Namun bayaran akan hal itu adalah kebenaran tentang artefak Dewa Kegelapan yang ternyata telah ditemukan oleh sang Pangeran Kedua Quon itu. Cukup setimpal dengan apa yang kualami.
Kedua burung itu membawa surat menuju Quon. Tujuannya adalah Tetua Luo di Kedai Luo di Ibukota dan Tuan Qui di Desa Timur Hutan Terlarang. Aku harus menyiapkan banyak pasukan sekarang. Wei akan semakin mengganggu rencana. Pengumpulan informasi tentang musuh sudah selesai. Tinggal melakukan hal yang seharusnya.
Sebuah seruan dari seorang yang memiliki kuasa di tempat ini berhasil membuat bulu kudukku merinding. Hawa menekannya datang tiba-tiba tanpa diduga. Beberapa pohon bahkan kehilangan salju yang bertumpuk di dahan akibat seruan kencang pria itu.
"Iza! Apa yang kau lakukan di situ?" Jendral Gong melangkah di tanah yang sudah tertutupi salju abadi ini. Langkah tegasnya membuat tanah bergetar. Entah seberapa banyak energi qi yang ia keluarkan untuk membuat hawa mengerikan dan langkah yang menggetarkan ini.
Apa aku tertangkap basah?
Aku berbalik, menghadap sang Jendral yang sudah melepas baju besi hitam kokoh miliknya. Tidak, raut muka Jendral Gong menunjukkan bahwa ia sedang marah. Mulutnya terkatup rapat dengan datar. Sedangkan mata tajam sang Jendral menatapku tanpa berkedip.
"Maafkan kesalahan saya, Jendral!" Aku menjatuhkan diri ke hamparan tanah penuh salju. Bersujud pada orang yang sedang memperjuangkan nasib warga Kerajaan Qing hingga rela berkhianat. Jendral Gong tidak mengeluarkan suara apapun. Ia diam.
"Apa yang kau lakukan Iza?" Nada bicara sang Jendral berubah melembut. Aneh. Apa itu artinya ia tak melihatku mengirim surat ke Quon?
Aku bangkit dari posisi sujud. Aku tersenyum canggung. Padahal, aku bisa mengalahkan jendral ini dengan mudah. Kultivasi miliknya lebih rendah daripada milikku. Hanya Berlian Tingkat 7. Seharusnya aku tidak menunjukkan rasa takut di hadapan orang yang tingkat kultivasinya mudah kulihat.
"Apa saya melakukan kesalahan, Jendral?" Aku bertanya hati-hati. Jangan sampai jendral ini mencurigaiku seperti Wei.
"Tidak."
"Lalu, mengapa Anda berteriak seperti tadi kepada saya?"
"Meluapkan amarahku. Wei itu telah menghinaku terang-terangan." Sang Jendral mengepalkan tangan. Kedua alis tebalnya bertaut.
"Maksud Anda?"
"Ia masih saja mencurigai kita padahal pihak kita sudah berkorban banyak untuknya." Aku mengerti. Wei meragukan asal-usul diriku yang cukup aneh. Setelah apa yang kulakukan, ia menyatakan kecurigaannya di depan Jendral Gong, sekutu Pangeran Kedua Quon itu. Jendral Gong tentu saja kesal. Sudah banyak emas dan berlian dikirimkan ke Kerajaan Quon hanya untuk ditukar dengan makanan yang tidak sebanding. Namun, sepertinya tidak ada Kerajaan yang mau bekerjasama dengan Kerajaan pembuat onar seperti Qing. Hanya Pangeran Kedua dari Quon yang bisa melakukannya.
"Anda seharusnya tidak terlalu percaya pada Pangeran Wei, Jendral. Ia bisa saja mengkhianati Anda." Aku mengatakan kemungkinannya.
"Aku memang tidak terlalu mempercayai Wei. Apalagi semenjak ia menemukan artefak Dewa Kegelapan di pedalaman Hutan Terlarang."
"Apa ia menjanjikan artefak itu untuk Anda?"
"Ya," jawab Jendral Gong, "tapi ia tidak memberikan artefak itu kepadaku."
Pantas saja. Persekutuan antara Jendral Gong dan Wei begitu rapuh.
"Apa Anda menginginkan saya untuk melakukan sesuatu?" Mengingat persekutuan mereka yang mudah rusak, aku menawarkan diri.
"Curi artefak itu dari Wei, dan bunuh dia."
"Sesuai perintah Anda, Jendral." Aku membungkukkan badan pada pria bertubuh kekar itu.
Sungguh kesempatan yang begitu bagus. Ia memberikan kesempatan yang sesuai dengan tujuanku.
______________________________
Jangan lupa vote dan comment yaa!
Bogor, Senin 06 Februari 2023
Ikaann
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
ФэнтезиTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
