Bab 21 "Semakin Kuat

229 20 0
                                        

Oryza, kau benar-benar memalukan. Kau menantang seorang dewa dan kalah tanpa perlawanan. Akhirnya kau tahu, timgkatanmu masih berada jauh dari Sang Pencuri Artefak.

Dengan kekalahan yang memalukan itu, aku berlatih semakin keras. Gulungan-gulungan  pemberian Kakek Jun kubuka kembali demi mempelajari jurus yang belum kukuasai.

"Telapak Tangan Dewa? Cahaya Phoenix Suci?" Aku bergumam sendiri saat membaca gulungan merah yang berisi jurus-jurus. Telapak Tangan Dewa merupakan jurus yang memusatkan energi qi di kedua tangan. Parahnya, energi yang dipusatkan di kedua tangan haruslah sangat besar, membuat bagian tubuh lain tidak akan terlapisi energi qi. Jika itu terjadi, sang pengguna akan mudah terkena serangan. Persyaratannya adalah si pengguna harus segar bugar, dan kultivasinya minimal Bumi Tingkat 1. Aku tinggal dua tingkat lagi, sih, ke tahap Bumi. Namun, aku harus memperkuat dantian-ku juga agar tidak mengalami kebocoran lagi. Untuk Jurus Cahaya Phoenix Suci, itu merupakan jurus yang membutuhkan elemen cahaya, lalu dibentuk menjadi burung. Syarat tingkat kultivasi si pengguna adalah Bumi Tingkat 1, sama seperti Jurus Telapak Tangan Dewa. Aku akan mempelajari itu setelah tingkat kultivasiku Bumi Tingkat 1.

Aku membuka gulungan jurus lain pemberian dari Kakek Jun. Gulungannya hanya level Luar Biasa dan Master. Jurus-jurusnya pun cenderung lebih mudah dikuasai daripada jurus di gulungan Legenda. Beberapa jurus di gulungan Luar Biasa sudah kukuasai, diantaranya adalah Auman Singa, Manipulasi Elemen, dan Penguat Tubuh. Untuk gulungan Master, aku tertarik mempelajarinya. Jurus Penyembunyi Tingkat Kultivasi, Penyamaran Tubuh, Armor Logam, dan Penyembuhan. Jurus yang sangat berguna untuk bertempur.

Sebagai permulaan, aku akan mempelajari jurus Armor Logam dan Penyembuhan, yang paling dibutuhkan saat ini untuk bertarung melawan para boneka tanah.

Jurus Armor Logam, seperti namanya, persyaratan pengguna adalah memiliki elemen logam. Selain itu, sang pengguna perlu mempelajari Manipulasi Elemen terlebih dahulu untuk mengubah logam menjadi baju zirah. Untungnya aku memenuhi kedua syarat itu.

Aku bernaung di pohon apel yang sangat rimbun demi terhindar dari teriknya matahari. Ini menjadi tempat favoritku jika ingin mempelajari jurus. Aku tak perlu menghadapi panas matahari. Juga, di hadaoanku adalah Danau Qi yang airnya sangat sejuk.

Aku berdiri menghadap ke danau, memusatkan pikiran untuk mengeluarkan energi elemen logam. Energi setiap elemen itu berbeda sensasinya. Panas dan membakar untuk api, teduh dan tenang untuk angin, kokoh dan berat untuk tanah, menenangkan dan segar untuk air. Untuk logam sendiri yaitu berat, keras, dan agak kasar. Sensasi kasar seketika menyeruak keluar tubuh, berbarengan dengan perasaan berat dan keras. Ini mirip seperti saat tubuhku menerima terlalu banyak energi qi, yang membuatku merasakan tekanan luar biasa. Namun saat mengeluarkan energi elemen tanah atau logam, yang terjadi adalah sebaliknya. Energi di dalam tubuhku menerobos untuk keluar.

Aura keperakan berpendar dari tubuhku. Ini artinya aku sudah berhasil menyelimuti seluruh tubuh dengan energi logam. Sesuai yang tertulis di gulungan Master, pengguna harus menyelubungi tubuhnya dengan energi logam. Langkah selanjutnya adalah mengubah semua energi itu menjadi logam utuh. Pikiranku fokus untuk membayangkan semua energi yang menyelimuti tubuh berubah menjadi besi. Namun, yang terjadi malah sekujur tubuhku dilapisi besi tanpa celah, berbeda dengan yang tertulis di gulungan. Harusnya area mata, hidung, telinga, dan mulut, terdapat celah.

Astaga, aku gagal.

Ya. Ini 'kan percobaan pertama. Mana mungkin langsung berhasil? Aku segera menetralkan energi logam yang menyelimuti tubuhku, menghilangkan baju zirah gagal percobaan pertamaku.

"Jangan terlalu besar mengeluarkan energi untuk itu, Nak." Aku mulai terbiasa saat muncul sebuah suara yang berat dan cukup familiar, Kakek Jun. Aku tidak terkejut lagi.

The Trash PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang